Aksi Komunitas Pecinta Lingkungan, Ketuk Pintu Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi

Aksi ketuk pintu Dinas Lingkungan Hidup oleh KPA Cekakpala di depan Kantor Pemerintah kota Bekasi pada Selasa (30/10/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Adlidzil Ikram, KPA CEKAKPALA)

Wartapalaindonesia.com, BEKASI – Pencemaran air dapat dikategorikan sebagai bencana buatan atas perilaku manusia. Sebagaimana halnya bencana alam yang wajib dicegah bahkan dipulihkan atas dampak-dampak yang terjadi, pencemaran air juga wajib mendapatkan perhatian dari masyarakat, pemerhati lingkungan juga organisasi atau komunitas pecinta alam.

Kenyataannya sungai-sungai yang ada di Indonesia sebagian besar sudah dapat dikategorikan tercemar, berbagai masalah menjadi penyebab terjadinya pencemaran seperti, sampah rumah tangga, limbah pertanian, limbah pabrik dan lain-lain.

Di Bekasi contohnya, kali Bekasi yang mengalir dari Bogor hingga bermuara ke Cikarang Bekasi Laut (CBL), untuk kesekian kalinya kali Bekasi yang berada di Bendung Bekasi airnya terlihat hitam, mengeluarkan buih juga berbau tak sedap. Padahal di daerah Bendung Bekasi, airnya didistribusikan untuk masyarakat kota Bekasi untuk keperluan sehari-hari oleh PDAM.

Hal-hal tersebut yang mendorong kami CEKAKPALA (Centro Komunitas Pecinta Alam) sebagai salah satu Organisasi Pencinta Alam di Bekasi melakukan gerakan untuk melakukan audiensi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi agar mengetahui pokok permasalahannya dan dapat membantu terlaksananya normalisasi fungsi kali Bekasi.

Sayangnya niat baik itu sama sekali tak ditanggapi pihak DLH Kota Bekasi, bahkan surat audiensi kami ditolak dengan alasan harus ada tembusan dari Dinas Tata Air.

Hal yang tak masuk akal itu membuat geram rekan-rekan CEKAKPALA, hingga akhirnya pada tanggal 30 Oktober 2018 kami mengadakan aksi yang dinamakan “Ketuk Pintu DLH” di depan kantor Pemerintah Kota Bekasi.

Dalam aksi ini kami menutut beberapa hal, yaitu :

  1. Transparansi data hasil assesment (UU KIP Nomor 14 2008 Tentang Keterbukaan Informasi),
  2. Penanganan sesegera mungkin atas pencemaran air kali Bekasi yang melibatkan unsur Organisasi Pecinta Alam,
  3. Penindakan tegas secara nyata atas perusahaan yang melanggar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), dan
  4. Menuntut DLH untuk membeberkan hasil tes kadar pencemaran air kali Bekasi secara berkala.

Setelah satu jam berorasi di depan kantor Pemerintah Kota Bekasi akhirnya kami dipersilahkan memasuki kantor Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan mediasi didampingi oleh Kapolres, Kapol PP, dan beberapa pihak lainnya.

“Surat audiensi kawan-kawan KPA Cekakpala didisposisikan pada tanggal 24 Oktober 2018 karena ada acara besar yang sedang kami urusi”, tutur Agung, Kepala Seksi Pencemaran Lingkungan DLH kota Bekasi.

Agung mengatakan bahwa dalam forum mediasi tersebut harus ada campur tangan masyarakat dalam menjaga dan memerhatikan lingkungan khususnya sungai, Dinas pun sudah beberapa kali melakukan sidak hingga penyegelan/penutupan kepada instansi yang bermasalah. Limbah yang ada di kali Bekasi merupakan kiriman air limbah dari kali Cileungsi Bogor, karena di sekitaran hulu sungai terdapat lebih dari 100 perusahaan garmen yang limbahnya di buang ke sungai.

Pihak DLH kota Bekasi sudah berkoordinasi dengan pihak Kabupaten Bogor dan Provinsi terkait air limbah yang alirannya dari hulu kali Cileungsi menuju hilir kali Bekasi, bahkan sampai kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia untuk melakukan restorasi, pihak KLH pun menangguhkannya dan akan menormalisasikan kali Bekasi.

Suhendra selaku Kepala Seksi Kerusakan Lingkungan DLH kota Bekasi menambahkan bahwa DLH kota Bekasi sudah bersinergi dengan beberapa organisasi, diantaranya KP2C, Amfibi, LEAK, Komunitas Pencinta Sungai, dan beberapa organisasi pencinta alam lainnya.

Beberapa tindakan yang telah dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat untuk penindakan terhadap sampah domestik/rumah tangga, sampai membuat acara Festival Kali Bekasi yang bertujuan agar masyarakat tahu bahwa sungai adalah sumber utama kehidupan.

Normalisasi kali Bekasi terakhir pada tahun ’70-an yang menyebabkan sedimen-sedimen di dasar kali lambat laun semakin tinggi, dan diperkiraan sejak normalisasi hingga sekarang sedimen yang ada di dasar kali sudah mencapai 5-10 meter yang berasal dari limbah domestik dan industri.

Dalam aliran hilir kali Bekasi terdapat beberapa turunan yang dimulai dari persimpangan kali Cileungsi-kali Cikeas hingga Bendung Perisdo dan hilir kali Bekasi tersebut dianalogikan seperti kolam, ketika hujan turun aliran air menjadi deras dan sedimen-sedimen di dasar sungai akan naik yang menyebabkan turbulensi ketika sedimen tersebut melewati setiap turunan-turunan di kali Bekasi, dan peristiwa tersebut-lah yang menyebabkan timbulnya busa di permukaan kali Bekasi.

Kontributor || Adlidzil Ikram, KPA CEKAKPALA

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih

Saat mediasi di kantor Dinas Lingkungan Hidup.

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan