Arisan Ilmu SRPB Jatim : Relawan Harus Tunjukkan Optimisme Kepada Masyarakat

Suasana Arisan Ilmu Nol Rupiah Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur dengan materi Jurnalistik Kebencanaan di Joglo Kadiren, Perum Permata Juanda E-60 Sedati, Sidoarjo, Sabtu sore (2/6/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Alton Phinandhita)

Wartapalaindonesia.com, SIDOARO – Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur kembali menggelar Arisan Ilmu Nol Rupiah SRPB Jatim. Kali ini edisi ngabuburit dengan materi Jurnalistik Kebencanaan di Joglo Kadiren, Perum Permata Juanda E-60 Sedati, Sidoarjo, Sabtu sore, 2 Juni 2018.

“Saat ini banyak relawan yang terjun ke lapangan dan menemukan korban, langsung di dokumentasikan dan dishare ke medsos, padahal korban dalam kondisi luka. Relawan seperti ini tentu belum mengetahui kode etik jurnalistik, semisal harusnya foto korban diblur,” ungkap Edy Bas, pengurus SRPB Jatim membuka acara.

“Hal tersebut akan meresahkan masyarakat yang melihatnya, sudah terkena bencana malah menambah suasana kurang nyaman di tengah masyarakat. Selain itu terkadang foto dan berita yang disebar ternyata hoax,” tambah Edy.

Dihadiri 50 peserta lintas komunitas, kegiatan dimulai pukul 15.15 WIB dengan pemateri Rizky Daniarto, Praktisi media dan Diana mewakili Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (MAFINDO), turut hadir Fatur, sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.

“Momentum bangkitnya jurnalistik kebencanaan diawali saat peristiwa Tsunami Aceh 2004, bagaimana media memberitakan bencana dengan antusias,” ujar Rizky Daniarto dalam pemaparannya.

“Selama ini jurnalisme bencana masih banyak yang belum dikaji, padahal Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi rawan bencana. Dewan Pers sendiri belum memberikan pedoman yang mengatur pemberitaan khususnya tentang bencana, mungkin akan menjadi genre baru tentang jurnalistik di tanah air,” tambah Rizky Daniarto.

Sedangkan menurut Diana praktisi Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (MAFINDO), di negara maju seperti Jepang saat terjadi bencana alam Tsunami, media yang menampilkan foto dan berita negatif tentang Tsunami tidak akan laku. “Mereka lebih menampilkan sisi optimisme,” ujarnya.

“Foto korban terkadang juga sangat berpotensi untuk disalahgunakan dan dieksploitasi pihak tertentu. Misalnya untuk penggalangan dana yang belum jelas akan disalurkan ke mana, oleh sebab itu masyarakat harus cerdas. Caranya dengan cek langsung ke BPBD setempat bantuan apa saja yang kiranya dibutuhkan oleh korban,” tambah Diana.

Sesuai dengan tema Arisan Ilmu, setiap peserta yang hadir dapat memberikan ilmunya. Salah satunya Fatur, sekretaris BPBD Jatim yang mengatakan bahwa, “setiap terjadi kedaruratan, BPBD di lapangan sudah membentuk media center, hal ini untuk memberikan kepastian informasi, lebih baik masyarakat menunggu berita A1 dari BPBD jika mengenai situasi darurat.”

“Dan apabila terjadi pemberitaan yang menginformasikan tentang korban memerlukan bantuan dan logistik, silahkan kordinasi dengan PIC BPBD setempat. Sebab BPBD selalu melakukan assessment kebutuhan apasaja yang dibutuhkan sesuai korban terdampak,” tambah Fatur.

“Selanjutnya kepada media, tolong menjadi media yang membangun agar masyarakat tenang, bukan sebaliknya. Memang berita tentang bencana itu “seksi” bagi media, tapi kita harus memberikan ketenangan dan optimisme kepada masyarakat,” tambah Fatur.

Hal  ini senada dengan media Wartapala Indonesia yang mempunyai moto “Good News is Also Good News” dimana berita baik juga akan menjadi berita menarik. Sudah saatnya relawan memberi optimisme kepada korban dan juga masyarakat sekitar kala terjadi kedaruratan.

Kontributor || Alton Phinandhita

Editor || Amita Pradana Putra

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan