WARTAPALA INDONESIA

Banjir Bandang Menghantui Majalaya Jika SK25 Tidak Dicabut

Caption foto: Potret Kang Denni saat orasi dalam aksi Tolak SK25 di KLHK Jakarta. (WARTAPALA INDONESIA/ Willy Firdaus)

Wartapalaindonesia.com, PERPEKSTIF – Setelah aksi hari Rabu, 6 Maret 2019 di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menghasilkan beberapa kesepakatan dengan Aliansi Cagar Alam Jawa Barat. Wartapala Indonesia berkesempatan mewawancarai salah satu peserta aksi yang juga merupakan pemerhati Sungai Citarum dalam komunitas Jaga Balai Majalaya, Bandung. Kang Denni Hamdani merupakan salah satu tokoh pejuang lingkungan di tatar Jawa Barat, terutama Bandung Raya, dan ikut menolak terbitnya SK25/MENLHK/SETJEN/PLA2/I/2018 yang menurunkan status Kawasan Kamojang dan Papandayan seluas 4000 Ha.

“Saya apresiasi jajaran Dirjen sudah menerima dengan baik aksi yang terjadi kemarin (Rabu 06/03) di KLHK Jakarta” tutur Kang Denni.

Menurut Kang Denni, SK25 tersebut merupakan produk yang terburu-buru dan gegabah. Hal ini dikarenakan akademisi lokal tidak dilibatkan dalam pertimbangan, hanya IPB dan LIPI yang diikutsertakan dalam pertimbangan SK25 tersebut. Kemudian ada kesan cuci tangan atas kerusakan yang ada di kawasan, padahal jika ada kerusakan harus diperbaiki bukan dibagi-bagi atau dipotong-potong tata ruangnya seperti kue. Masih kata Kang Denni, masih ada 20-30% kawasan yang masih hijau dan termasuk Danau Ciharus yang menjadi sumber air bagi Sungai Citarum dan Cimanuk.

Kawasan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan merupakan salah satu hulu dari Sungai Citarum, penurunan status kawasan tersebut kontraproduktif dengan program Citarum Harum dari Presiden Joko Widodo.

“Jika di Kamojang hujan deras, itu hanya butuh 45 menit banjir bandangnya sampai ke Majalaya,” tutur Kang Denni penuh emosi.

Menurutnya Early Warning System (EWS) yang ada di Majalaya akan terlambat merespon jika cepatnya banjir kurang dari 1 jam.

“Untung saja banjir bandang pada 22 Februari 2018 kemarin tidak merenggut korban, bayangkan jika EWS telat merespon dan terjadi banyak korban seperti di Garut,” imbuhnya.

EWS yang dimaksud Kang Denni adalah EWS yang dioperasionalkan Jaga Balai di Majalaya saat ini sebagai garda terdepan terhadap ancaman banjir bandang dari hulu Sungai Citarum.

Tawaran yang diberikan Dirjen KSDAE Ir, Wiratno, M.Sc untuk membuat forum konservasi oleh Kang Denni dianggap tidak perlu.

“Untuk apa membuat lagi forum konservasi, kan sudah ada forum-forum konservasi buatan BKSDA dan lainnya,” sanggahnya.

Hal terpenting menurutnya, kawasan yang harus direstorasi harus dijaga, bukan malah membuat kawasan permukiman atau wisata sehingga semakin rusak.

“Jika mereka mengatakan eksploitasi energi terbarukan di Kamojang itu sudah ada sejak tahun 70-an, itu kan dulu saat jaman orde baru siapa sih dulu yang berani melawan? kalau sekarang mohon maaf saja. Harusnya jika Menteri LHK mengabulkan dan mencabut SK25 ini malah akan menjadi prestasi yang membanggakan di era reformasi, karena mendengarkan aspirasi masyarakat terdampak,” ungkapnya.

Sebagai orang tua yang berpikiran bijak, Kang Denni juga tidak menutup pintu kompromi dengan KLHK atas ekspoiltasi energi terbarukan di Cagar Alam.

“Jawa dan Bali saat ini sudah surplus energi tapi silahkan kalau mau eksploitasi panas bumi, hanya syaratnya cabut SK25 dan energi-energi kotor (batu bara) dihentikan total,” jelasnya.

Menegaskan kembali, Kang Denni mempersilahkan adanya eksploitasi energi terbarukan, namun dibuat kantong-kantong yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang seperti di Kamojang saat ini.

“Wilayah tersebut hanya khusus eksploitasi energi terbarukan tanpa tempat tinggal pegawai dan juga pembukaan untuk wisata,” Kang Denni menggaris bawahi kalau ini adalah pemikiran pribadinya bukan kesepakatan Aliansi Cagar Alam Jawa Barat, dan pemikiran ini disampaikan karena mencari jalan tengah yang bijak.

Saat ini banyak serangan ke Aliansi Cagar Alam Jawa Barat, seperti menanyakan dari mana sponsor aksi masa kemarin.

“Sponsor kita itu dari Allah SWT dan the power of udunan (sumbangan dari para peserta aksi), bukan dari A,B,C atau D apalagi dikait-kaitkan dengan politik,” tandasnya.

Kang Denni menjelaskan bahwa banyak media asing yang tertarik atas aksi kemarin karena ada rasa sepenanggungan, di luar negeri juga banyak penurunan kawasan konservasi untuk properti dan investasi.

“Seperti di Kanada itu ada satu kawasan konservasi yang diperjuangkan oleh masyarakatnya bersama-sama para anggota legislatifnya, di kita mana?!,” Kang Denni menggambarkan bagaiman anggota dewan (legislatif) di luar negeri itu bersama-sama berjuang bersama masyarakatnya dan berhasil, sedangkan di Indonesia banyak perjuangan lingkungan yag malah masyarakatnya sendiri yang berjuang.

Mengakhiri wawancara, Kang Denni menjelaskan aksi kemarin bukan hanya aksi lokal. “Ini adalah gerakan lingkungan nasional, bukan lagi gerakan lokal karena kita juga membawa isu penurunan lingkungan diberbagai daerah,” pungkasnya.

Kontributor || Willy Firdaus

Editor || N. S. Kusmaningsih

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: