Caption foto: Kondisi saat terjadi banjir di Kalimantan Selatan. (WARTAPALA INDONESIA/ Cikra Wakhidah)
Wartapalaindonesia.com, BERITA – Indonesia mengawali tahun 2021 tidak jauh berbeda dengan awal tahun 2020. Mengingat pada tanggal 2 Januari 2020 terjadi banjir dan longsor di Kabupaten Bogor yang disebabkan oleh aliran sungai Ciburandul yang dibelokkan untuk proyek kereta api cepat di Kampung Lebaksari, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Media idntimes.com mencatat pada bulan pertama tahun 2021, tiga daerah di Indonesia dilanda bencana alam.Tiga bencana tersebut ialah banjir di Kalimantan Selatan, tanah longsor di Jawa Barat dan gempa bumi di Sulawesi Barat.
Provinsi Kalimantan Selatan yang terkenal kaya akan sumber daya alam, khususnya tambang, menjadi salah satu daerah yang mengalami bencana di awal tahun. Dalam konferensi pers di Jembatan Matraman, Jokowi menegaskan bahwa ini merupakan banjir bandang pertama setelah 50 tahun tidak pernah terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan.
Banjir yang menerjang wilayah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan memberikan dampak pada11 kabupaten dengan 3 wilayah diantaranya terdampak cukup besar yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tanah Laut selama7 hari, sejak 10 hingga 17 Januari.
Terdapat dua factor penyebab banjir yaitu intensitas hujan tinggi pada 9–13 Januari yang menyebabkan air sungai di Kecamatan Pelaihari meluap dan adanya kontribusi dari dampak pembukaan lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan banjir di Kalimantan Selatan diawali curah hujan yang tinggi dan bersamaan gelombang laut yang mencapai 2 – 2,5 meter. Hal tersebut menyebabkan daya tampung Sungai Barito yang biasanya menampung debit air sebesar 230 meter kubik tidak lagi mampu menampung debit air yang mencapai sebesar 2,1 miliar kubik air.
Dijelaskan oleh Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH) Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Belinda Arunarwati Margono, penurunan luas tutupan lahan ini salah satunya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito di Kalimantan Selatan.
Sedangkan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengumumkan banjir ini salah satunya disebabkan oleh penyempitan kawasan hutan selama 10 tahun terakhir.
Berdasarkan data Walhi Kalimantan Selatan bahwa salah satu peruntukan pembukaan lahan di Kalimantan adalah terciptanya lahan perkebunan sawit. Namun, perkebunan sawit ini dilakukan secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.
Sejak tahun 2009 hingga 2011 telah terjadi peningkatan luas perkebunan sawit sebesar 14 persen dan meningkat dalam setahun menjadi 72 persen, untuk pembukaan lahan pertambangan sendiri meningkat sebesar 13 persen selama 12 tahun dengan luas bukaan tambang pada tahun 2013 sebesae 54.238 hektar.
Perluasan lahan secara masif membuat kondisi hutan di Kalimantan yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara mendorong laju perubahan iklim global, sehinggga mempengaruhi kondisi ekstrem cuaca.
Untuk mengatasi bencana banjir di Kalimantan Selatan, salah satunya lewat Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) untuk percepatan pemulihan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan yang saat ini tahap proses difinalisasi. KLHK memberikan rekomendasi kepada Pemerintah daerah dan stakeholder lainnya, yaitu pembuatan bangunan konservasi tanah dan air, mempercepat kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di daerah sumber penyebab banjir, dan pembuatan bangunan-bangunan pengendali banjir, serta pengembangan kebijakan konservasi tanah dan air, dan pengembangan sistem peringatan dini.
Upaya lain untuk pemulihan lingkungan dilakukan dengan memaksa kewajiban reklamasi atas izin-izin tambang. Dalam hal reaksi cepat penanganan banjir sangat perlu kerja sama dan gotong royong antar masyarakat dan pemerintah, agar banjir tidak terjadi lagi di Kalimantan Selatan. Salam Lestari.
Kontributor || Cikra Wakhidah, WI 200069
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)