BARA RIMBA Melakukan Inventarisasi Kelelawar dan Pendataan Serangga Air

Wartapalaindonesia.com, EKSPEDISI – Senin pagi, (11/12/2017) sejumlah anggota BARA RIMBA yang terdiri dari pelajar SMKN 1 Rengasdengklok terlihat sibuk menyiapkan peralatan dan perlengkapan ke mobil operasional.

Enam anggota yang tengah bersiap tersebut terdiri dari dua team ekspedisi yang akan melakukan pendataan yang berbeda di kawasan Karawang Selatan.

Team pertama adalah team Expedisi Biokarst ‘Inventarisasi Habitat Kelelawar di Karst Pangkalan’ dan team lainnya adalah team Expedisi Sunah ‘Riverboarding Sungai Cigeuntis – Karawang’.

Kepala Satuan BARA RIMBA dalam amanatnya saat melepas ke 6 anggota menyatakan selalu utamakan keselamatan, keamanan dan kesehatan dalam setiap kegiatan.

“Bagi BARA RIMBA 3 komponen tersebut adalah harga yang tidak bisa di tawar lagi, berangkat sehat pulangpun harus sehat dan bawa pengalaman,” ungkapnya.

Ditempat terpisah Kepala SMKN 1 Rengasdengklok, Pak Wawan Cakra memberikan doa serta harapan semoga kegiatan ini menjadi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

Inventarisasi Kelelawar

Expedisi Biokarst dalam melakukan inventarisasi kelelawar bekerja sama dengan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Winda Aprianti siswa kelas XII SMKN 1 Rengasdengklok selaku Manajer Expedisi menjelaskan maksud ekspedisi ini kepada wartawan. “Ekspedisi ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran spesies kelelawar serta jumlahnya yang ada di goa-goa Karst Pangkalan.”

Kelelawar merupakan salah satu pestisida alami dan penyerbuk alami yang tinggalnya dikegelapan goa, dan wilayah karst memiliki banyak goa.

Goa yang akan dimasuki team ada dalam 6 blok goa dengan jumlah 11 goa yang tersebar di Karst Pangkalan yang masuk dalam Desa Tamansari Kec.Pangkalan – Karawang.

Enam blok tersebut adalah Blok Dayeuh dengan Goa Dayeuh, Goa Bagong dan Goa Haji, Blok Angin diantaranya Goa Miring dan Goa Pasir Angin.

Blok Lele dengan Goa Cilele, Blok Bau dengan Goa Bau, Blok Citamiang dengan Goa Citamiang dan terakhir adalah Blok Citalaga dengan Goa Bulan-bulan, Goa Singodimejo dan Goa Sapi.

“Team terdiri dari juru dokumentasi dan juru tangkap, dokumentasi penting untuk penghitungan jumlah kelelawar lewat foto atau video dan juru tangkap bertugas menangkap kelelawar yang akan di foto agar dapat diidentifikasi oleh LIPI spesiesnya,” ungkap Winda.

Dalam ekspedisi ini identifikasi kelelawar dilakukan lewat foto beresolusi tinggi dan dikirim kepada peneliti LIPI yang ahli dalam kelelawar.

Sehingga spesies serta manfaatnya bagi lingkungan akan diketahui dan bisa ditarik kesimpulan dari ekspedisi ini.

Pada hari pertama Senin, (11/12/2017), team masuk ke Goa Miring dan menemukan ratusan kelelawar disepanjang lorongnya dengan jumlah 6 koloni dan setiap koloni antara 20-500 kelelawar.

Teridentifikasi ada dua jenis kelelawar di goa tersebut yaitu Myotis sp untuk yang berwarna kemerahan dan Miniopterus sp yang berwarna gelap.

Kedua spesies kelelawar tersebut memiliki jarak terbang 10 Km dan berfungsi sebagai pemakan serangga atau pestisida alami bagi pertanian.

Miniopterus sp yang termasuk dalam Famili Miniopterus juga ditemukan di Goa Bagong dan Goa Citamiang. “Sepertinya spesies ini mendominasi di Karst Pangkalan dan manfaatnya besar bagi pengendalian hama serangga,” ungkapnya.

Sementara spesies berbeda ditemukan di Goa Bau, di goa tersebut ditemukan spesies kelelawar Rousettus sp yang termasuk dalam Famili Pteropodidae.

Terdapat 12 koloni dengan jumlah ribuan hidup di langit-langit Goa Bau, spesies ini diketahui sebagai pemakan buah dan penyerbuk alami dengan radius terbang 20 Km. Kelalawar jenis ini lebih dikenal masyarakat sekitar dengan panggilan Lalay Badot atau Codot.

Dan posisi Goa Bau yang jaraknya tidak lebih dari 10 Km dari Pegunungan Sanggabuana menjadi indikasi bahwa kelelawar Rousettus sp berperan penting dalam penghijauan di hutannya.

Presiden Indonesian Speleological Society Dr. Cahyo Rahmadi dalam apresiasinya kepada team ekspedisi menyatakan. “Mendata keberadaan kelelawar, sebuah langkah awal untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan diberikan oleh kawasan karst.”

“Mari giatkan pendataan dan sebarkan pengetahuan,” pesan Mas Aock sapaan akrab Dr. Cahyo Rahmadi. Menurut Winda ini hanya akhir dari tahap pertama ekspedisi karena masih banyak goa yang akan di inventarisasi habitatnya.

Pendataan Serangga Air

Pendataan serangga air dan badan sungai di Sungai Cigeuntis – Karawang ini adalah tahap pertama dari persiapan pengarungan Sungai Cigeuntis menggunakan wahana riverboarding.

Menurut Sehan Afrizal siswa kelas XI SMKN 1 Rengasdengklok kepada wartawan menjelaskan, “Riverboarding adalah olahraga air yang saat ini tengah berkembang di Indonesia.”

Sebelum melakukan pengarungan sungai menggunakan riverboarding, Sehan bersama team perlu mengidentifikasi hambatan serta arus sungai sambil mendata serangga air.

Pendataan serangga air sendiri juga lebih dikenal dengan metode Biotilik, yaitu metode identifikasi kesehatan sungai dengan melihat keberadaan serangga air yang ada di sungai.

Pendataan ini sendiri dilakukan di 16 Km terakhir dari Sungai Cigeuntis, yaitu antara Syphon Waru di Desa Wargasetra sampai pertemuan Sungai Cigeuntis dan Sungai Cibeet di Desa Jatilaksana.

Sungai Cigeuntis hulunya berada di Pegunungan Sanggabuana dan banyak sungai yang bermuara di Sungai Cigeuntis.

Sehan mengatakan bahwa di Km 1 kesehatan Sungai Cigentis menunjukkan tercemar berat, dan bukan hanya Km 1 tapi di Kilometer selanjutnya juga menunjukkan tercemar berat hingga sedang.

“Sangat mengkhawatirkan, sungai ini termasuk sungai yang ada dihulu tapi indeks biotilknya menunjukkan tercemar berat sampai sedang,” ungkapnya.

Menurut Pak Prigi salah satu pemerhati sungai Indonesia dari Ecoton Jawa Timur menyatakan bisa jadi hal ini karena perubahan fisik sungai seperti perubahan bantaran atau pertambangan.

Dalam ungkapan apresiasinya kepada team ekspedisi, Pak Prigi mengatakan, “pemantauan biotilik untuk mengetahui kualitas air sungai adalah cara yang mudah, murah dan bermanfaat karena secara cepat bisa mengetahui kondisi kesehatan sungai.”

Sehan sendiri sebagai Manajer Ekspedisi menjelaskan bahwa hasil ekspedisi ini akan dibawa kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Karawang dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang sebagai pertimbangan dari keadaan lingkungan di Karawang.

Sementara ekspedisi tahap 2 akan dilaksanakan pada puncak musim penghujan dengan harapan debit Sungai Cigeuntis besar dan bisa dilakukan pengarungan.

Kontributor : Willy Firdaus

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (WA)

Dokumentasi, BARA RIMBA SMKN 1 Rengasdengklok

BARA RIMBA SMKN 1 Rengasdengklok
BARA RIMBA SMKN 1 Rengasdengklok
BARA RIMBA SMKN 1 Rengasdengklok
BARA RIMBA SMKN 1 Rengasdengklok

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan