Wartapalaindonesia.com, KARAWANG – Pemanjatan Rungking & Pengarungan Citalahab. Expedisi Panca adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di medan kepetualangan yang ada di Kab. Karawang dengan 5 kecabangan. Lima kecabangan tersebut diantaranya Climbing, Riverboarding, Caving, Canyoning dan Mauntainering.
Rangkaian Expedisi Panca ini dibagi dalam dua tahapan, Tahap 1 dilaksanakan di Gunung Rungking untuk Climbing dan Sungai Citalahab untuk Riverboarding. Sementara Tahap 2 akan dilaksanakan April 2017 mendatang yang medan kepetualangannya di Kuta Tandingan – Kec. Ciampel Karawang dengan sisa tiga kecabangan lainnya.
“Tema Expedisi Panca adalah Survey Lapangan Kuta Tandingan & Pemanjatan Tebing Gunung Rungking” jelas Siti Maesaroh sebagai Manajer Expedisi. Dia juga menambahkan, Bara Rimba sebagai organisasi kepetualangan ingin berkontribusi bagi ilmu pengetahuan dengan melaksanakan inventarisasi lapangan.
Dimana masih banyak tempat di Karawang yang belum memiliki literature yang pasti terkait potensi daerahnya masing-masing.
Hendro Wibowo selaku Pelindung Expedisi menambahkan, “Expedisi Panca yang dilaksanakan Bara Rimba adalah sebuah proses expedisi konservasi. Dalam rangka selain profesionalisme kepetualangan namun juga merupakan kepedulian pengembangan ilmu pengetahuan melalui observasi trip”.
Sekitar perjalanan satu jam dari Gerbang Tol Karawang Barat (Tol Cikampek) ke arah selatan kita akan disuguhkan pilar-pilar raksasa yang masuk dalam rangkaian Pegunungan Sanggabuana – Jawa Barat. Sebagai sebuah Pegunungan, Sanggabuana berada di 4 administratif Kabupaten dan sebagian mayoritasnya masuk dalam administratif Kab. Karawang.
Bagian dari Kab. Karawang yang masih hijau berhutan dengan suhu yang dingin, berbanding terbalik dengan bagian Kab. Karawang lainnya yang sudah padat dengan Perumahan, Industri dan Infrasturktur lainnya.
Pemanjatan Tebing Gunung Rungking – Karawang
Pilar-pilar raksasa nan megah di Pegunungan Sanggabuana adalah Gunung-gunung batu yang bertebing dengan jenis batuan andesit kolom. Dan salah satu pilar raksasa itu bernama Gunung Rungking, sebuah maha karya Tuhan sisa dari leher lava letusan Gunung Berapi Purba Jatiluhur.
Masih berkerabat dengan Gunung Parang di Kab. Purwakarta dan sama seperti kerabatnya, Gunung Rungking juga sebuah Big Wall-nya Indonesia. Big Wall adalah istilah bagi tebing-tebing tinggi nan lebar, yang tingginya lebih dari 100 meter dengan lebar lebih dari 1 kilometer.
Gunung Rungking jika dilihat dari sudut mana pun terlihat seperti tangan yang megepal ke langit dan hampir seluruh bagiannya adalah tebing batu yang curam. Vegetasi yang mengelilinginya adalah hutan heterogen dengan berbagai jenis flora yang menjadi habitat fauna-fauna besar.
Seperti Macan Tutul, Macan Kumbang, Owa Jawa, Lutung, Surili, Elang Jawa dan bahkan ditemukan jejak-jejak Harimau Jawa. Dibeberapa sudutnya kita akan bertemu para petani yang bercocok tanam sambil berternak di pinggiran hutannya.
Sebagai Leader Climbing, Zikri Mauludi menjelaskan “pemanjatan Tebing Rungking dilaksanakan dari tanggal 1 – 7 Januari 2017 dengan teknik Himalayan Style.”
Himalayan Style adalah teknik pemanjatan yang dimana para pemanjat disetiap pagi naik keatas tebing untuk menambah ketinggian dan di sore hari kembali turun ke Base Camp yang ada di kaki tebing.
Team Expedisi dalam perjalanan menuju Base Camp pemanjatan harus menggunakan jasa porter untuk membawa peralatan pemanjatan dan perlengkapan pendukung lainnya yang beratnya mencapai lebih dari 100 kilogram. Base Camp pemanjatan sendiri berada di 100 meter dari kaki tebing Gunung Rungking.
Mulai dari tanggal 2 januari 2017, para pemanjat mulai memasang hanger. Hanger adalah pengaman permanen yang ditanam ke tebing dikarenakan tidak ada celah atau crack yang bisa dipakai untuk memasang pengaman sementara.
Pemasangan hanger dilakukan dengan cara melubangi tebing dengan manual menggunakan bor tangan atau menggunakan bor baterai. Setelah tebing dilubangi, maka bolt atau sebuah baut khusus dengan pengunci di tanam kedalam tebing sebagai pengunci hanger. Terkadang proses pemasangan hanger ini dilakukan sampai malam hari dikarenakan target yang harus dikejar oleh Team Pemanjat.
Jarak antara satu hanger dengan hanger lainnya adalah 5 – 10 meter, mengikuti kriteria keterjalan dan kesulitan tebing yang di panjat. Jika semakin sedikit poin atau pegangan/pijakan untuk memanjat, maka hanger akan di pasang lebih dekat satu dengan lainnya.
Sampai tanggal 6 Januari 2017, hanger yang telah terpasang mencapai 16 buah dengan tinggi tebing yang berhasil di panjat mencapai 250 meter. Dan tali yang di pasang diatas tebing mencapai 200 meter digunakan untuk naik dan turun menggunakan teknik ascending.
Ascending adalah teknik pemanjatan megunakan alat bernama Ascender sebagai bagian dari pengaman yang terpasang pada tali.
“Akhirnya pada tanggal 7 Januari 2017 Dua Pemanjat berhasil mengibarkan bendera Bara Rimba di ketinggian 250 meter dari kaki tebing” kata Zikri sambil tersenyum bangga. Atau 600 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut), kurang dari 40 meter lagi mencapai puncak dari Gunung Rungking yang setinggi 640 MDPL. Dengan ini Bara Rimba telah berhasil membuat Jalur Panjat Permanen Tertinggi di Tebing Gunung Rungking. Dan diberi nama Jalur Rengasdengklok Style, sebagai bagian dari jati diri para pemanjat yang berasal dari Rengasdengklok. Tedi Ixdiana selaku Komandan Indonesian Climbing Expedition (ICE) dan juga Badan Vertikal Rescue – FPTI menyatakan. “Dengan selesainya pembuatan jalur baru sepanjang 250 meter di Rungking oleh Bara Rimba berarti bertambahlah asset jalur panjat tebing di Indonesia”.
Pengarungan Riverboarding Sungai Citalahab – Karawang
Diantara Pegunungan Sanggabuana dan Karst Pangkalan, dekat perbatasan Kab. Karawang dan Kab. Purwakarta mengalir sebuah sungai jernih kehijau-hijauan airnya. Sungai ini bernama Sungai Citalahab dengan panjang dari hulu ke hilirnya mencapai 16 kilometer.
Hulu Sungai Citalahab berada di Kuta Tandingan – Kec. Ciampel dan hilirnya bermuara ke Sungai Cibeet Desa Tamansari – Kec. Pangkalan. Sungai ini menjadi batas geologi antara Karst Pangkalan dan Pegunungan Sanggabuana, dua bentukan geologi yang berbeda.
Pegunungan Sanggabuana yang terdiri dari batuan andesit dan Karst Pangkalan yang terdiri dari batuan gamping menjadi tempat sumber-sumber air bagi Sungai Citalahab. Lebih dari 12 sungai yang masuk kedalam atau bermuara ke Sungai Citalahab, diantaranya adalah Sungai Cicangor (Pegunungan Sanggabuana) dan Sungai Ciguha (Karst Pangkalan).
Rata-rata debit air Sungai Citalahab adalah 0.26 M³/detik atau sama dengan 260 liter air mengalir secara konstan setiap detiknya dari hulu ke hilir. Data ini didapat pada tanggal 21 Januari 2017 saat pengarungan riverboarding hari pertama dari Km 10 sampai Km 16 dengan 10 pertemuan sungai.
Selaku Leader Riverboarding, Ahmad Holili mengatakan, “riverboarding sendiri adalah wahana pengarung sungai yang mirip seperti papan selancar, namun wahana ini digunakan untuk berselancar di sungai.”
Lanjutnya, seperti wahana kayak, kano dan perahu karet, Riverboarding juga memiliki organisasi profesional yang menaungi para penggiatnya. Di Indonesia ada Indonesian Riverboarding Association atau disingkat IRA sebagai organisasi profesionalnya.
Bahkan pada tahun 2013 Sungai Citarum jadi saksi perhelatan Riverboarding World Championship, ini menjadi bukti bahwa Riverboarding adalah kegiatan sarat manfaat dan prestasi.
Team Pengarung memulai persiapan semenjak tanggal 20 Januari 2017 dengan Base Camp awal berada di Situ Cibayat di Kp. Jungkur Desa Kutalanggeng – Kec. Tegalwaru. Sudah lebih dari 3 hari tidak terjadi hujan di daerah Karawang Selatan dan sampai malam tanggal 20 pun belum turun hujan.
“Hal ini mengurangi debit Sungai Citalahab dan memaksa Team Pengarung untuk mengeluarkan tenaga extra untuk mengayuh,” terang Ahole sapaan bagi Ahmad Holili.
Karena debit yang kurang membuat aliran sungai menjadi lebih tenang dan tak berarus, sehingga laju Riverboarding agak lambat.
Pengarungan Riverboarding Sungai Citalahab – Karawang berakhir pada tanggal 22 Januari 2017 dengan mencapai Km 16 di Desa Tamansari Kec. Pangkalan – Karawang. Ini menjadikan Bara Rimba sebagai organisasi yang berhasil mengarungi sungai terjauh menggunakan wahana Riverboarding.
Dengan total jarak lebih dari 11 kilometer dengan waktu tempuh 15 jam pengarungan. “Semoga kedepannya penggiat Riverboarding semakin banyak dan semakin banyak prestasi yang dicetak baik dalam kepetualangan maupun olahraganya” apresiasi Dian ‘Kojec’ Ariyanto perwakilan dari Indonesian Riverboarding Association (IRA).
Laporan : Willy Firdaus
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi, Bara Rimba








Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)