Belajar dari Alam

Keindahan alam merupakan bonus bagi mereka yang mau belajar dari alam, Edukasi : mapalasiginjai.unja.ac.id. (WARTAPALA INDONESIA/ Abus Siraj, SGJ 149 TRB)

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – (mapalasiginjai.unja.ac.id) Banyak orang bilang mendaki gunung adalah pekerjaan bodoh, gila,capek, kotor, amor fati, mencintai kematian dan berbagai olokan untuk seorang pendaki, namun sebenarnya mereka belum benar-benar mengetahui hakekat dari mendaki gunung.

Para pendaki gunung berjalan dengan tekad dan semangat yang kuat sambil menggendong tas carrier dan berkata “Gunung Aku Datang”

Belajar dari Alam, mapalasiginjai.unja.ac.id

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat kerena itulah kami naik gunung” (Soe Hok Gie)

picasion.com_de58394176c77addc91cf630da1cd1d2

Pernahkah orang berpikir untuk mencapai puncak  gunung memerlukan proses panjang dan melelahkan, dan di sanalah tersimpan hikmah perjalanan hidup agar lebih menghargai kehidupan.

Di sinilah pendaki akan berproses hal inilah yang tidak dipahami dan dialami oleh kebanyakan orang. Mungkin, jika dipahami dan diresapi maka, akan semakin banyak para pendaki.

Banyak yang harus dilakukan sebelum mendaki gunung, salah satunya mengetahui keadaan medan yang dilalui dan lama perjalanan yang ditempuh. Disinilah proses belajar itu dimulai, dimana kita mencoba memahami tempat yang akan dilewati walau belum pernah kesana sebelumnya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mencari informasi melalui mereka yang pernah  kesana atau melalui informasi media cetak seperti buku dan elektronik seperti internet.

Diperlukan ketelitian dalam menyusun rencana, agar dapat berjalan sistematis dan tidak terjadi kesalahan-kesalahan, perencanaan perjalanan yang buruk dan tidak teratur dapat mengakibatkan kematian pendaki.

Maka pendaki harus mengutamakan safety procedure tidak hanya berambisi segera sampai ke puncak, namun persiapan sangat minim. Hal demikian harus dihindari.

Disinilah penghargaan terhadap hidup terlihat. Melewati medan yang cukup bahaya, hingga bisa merenggut nyawa namun dengan perencanaan dan perlengkapan yang matang, seorang pendaki secara mantap menuju puncak idaman.

Sebelum menuju puncak, terdapat sebuah perkampungan. Perkampungan yang sarat dengan kehidupan sederhana, bahkan hidup yang serba kekurangan namun mereka tidak melupakan budaya bangsa Indonesia yaitu, gotong royong.

Sangat terasa kental budaya itu dianut oleh tiap penduduk kampung. Sifat yang ramah tamah. Mereka tidak sibuk mengejar materi dengan melupakan tetangga bahkan keluarga, mereka menjalin hidup dengan keterbatasan, namun masih ingin berbagi.

Potret kehidupan kampungitu akan membekas kepada para pendaki yang meresapinya. Keinginan menjalani kehidupan perkampungan yang sederhana itu sangat kuat, namun pengaruh luar serta sulitnya ekonomi membuat kita lupa untuk saling berbagi dan tolong menolong.

Ketika mulai mendaki rintangan akan ditemui seperti rasa lelah, dingin, mengantuk, serta ingin menyerah yang jika diikuti akan meninggalkan sesal, dan disinilah proses penempaan itu.

Seorang pendaki gunung yang menempa dirinya dengan kehidupan alam bebas yang buas namun bisa sangat bersahabat jika kita benar-benar.

Proses ini pendaki belajar untuk bertahan hidup dengan perlengkapan seadanya serta membangun kerja sama tim yang solid jika pendakian dilakukan oleh lebih dari satu orang.

Ego harus di singkirkan karenatidak membantu proses pendakian. Para pendaki juga belajar saling berbagi, berbagi tenda yang sempit, berbagi makanan yang serta saling menolong.

Namun sesulit apa pun yang mereka dapatkan dalam perjalanan, tetap terasa nikmat dan  indah jika dikenang dan mulut-mulut para pendaki yang mengatup menahan dingin akan bergumam “Terima Kasih Tuhan Atas Nikmat-Mu.”

Puncak adalah tujuan seorang pendaki gunung, ketika menapaki puncak akan didapati pemandangan yang  luar biasa. Lukisan alam dari seorang pelukis ternama pun tak dapat menyamai keindahan lukisan sang Maha Agung yang nyata ini.

Panorama  akan menimbulkan rindu di setiap hati yang melihatnya. Awan dapat terlihat ketika menundukkan kepala. Bibir initak hentinya mengucapkan kekaguman akan keindahan alam ciptaan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.

Belajar dari Alam, mapalasiginjai.unja.ac.id

Hendry Dunnant pernah berkata “tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa jika pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alambebas dan mendaki gunung.”

Tampaknya Bapak Pandu Dunia ini sangat mengerti bahwa bergiat di alam bebas akan membentuk pribadi seseorang yang menghargai hidup, pribadi seorang pemimpin serta karakter lainnya yang peduli terhadap lingkungan, masyarakat bawah dan sanggup bertahan dengan cobaan dan mampu memanajemen perjalanan dengan baik dan sistematis agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hendaknya para pemimpin bangsa berkenan untuk mendaki gunung setidaknya berekreasi disela-sela kesibukan untuk melihat kondisi rakyat dari dekat melalui sisi yang berbeda, atau setidaknya mencoba meresapi kata-kata Soe Hok Gie diatas.

Sedangkan generasi muda sebagia pewaris dan pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa, harusnya bisa menikmati alam dengan melewati proses yang semestinya memang harus dijalani sekaligus menjaganya dan melindunginya.

Karena mendaki gunung dan berpetualang di alam bebas membentuk seorang pemimpin yang berkarakter yang peduli kepada rakyatnya.

Sumber : mapalasiginjai.unja.ac.id

Kontributor : Abus Siraj / SGJ 149 TRB

Editor : Idfiandini Darayani

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan