WARTAPALA INDONESIA

Bencana Tidak Membunuh Kita

Caption foto: Relawan sedang bermain bersama anak-anak korban gempa di Kabupaten Donggala (foto oleh: Inge). (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, SURABAYA – Apakah Surabaya memiliki potensi gempa? Ya, ternyata pertanyaan ini tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan masyarakat Surabaya. Termasuk saya sendiri yang awalnya meremehkan bahwa di Surabaya tidak rawan ancaman bencana alam.

Pertanyaan dan pernyataan saya dipatahkan dengan penjelasan dari Dr. Amien Widodo, Dosen dari Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya pada acara Eiger Weekend Blast 20 Oktober 2018 lalu. Amien mengatakan bahwa kondisi di Surabaya yang juga rawan terkena bencana.

Di Surabaya ternyata pernah terjadi gempa sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1867 dan 1953.

Menurut Amien, langkah pertama jika ada atau terjadi gempa adalah jangan panik, kemudian bangunkan keluarga, selamatkan dan segera mengajak keluar rumah atau bangunan.

“Kita tidak belajar pada kesalahan. Gempa itu tidak membunuh, tetapi bangunan yang roboh bisa,” ujar pria kelahiran Yogyakarta, 10 Oktober 1959 ini.

Dalam artian bangunan yang roboh bisa melukai kita hingga menyebabkan kematian. Bangunan roboh ini sendiri bisa dikarenakan kualitas bangunan yang jelek, jenis tanahnya dan juga orangnya. Lalu kenapa ada bangunan yang utuh saat gempa? Menurut Amien ini dikarenakan bangunannya berongga dan atas kuasa ilahi.

Gempa merupakan salah satu persoalan yang membutuhkan koordinasi banyak pihak. Termasuk Pemerintah yang harus “ngeh” terhadap ancaman gempa. Bahkan kemungkinan gempa yang terjadi di Surabaya hingga mencapai 6,5 SR (potensi gempa).

“Pemerintah lebih ke telat dan menunggu. Padahal seharusnya pemerintahlah yang memberikan sosialisasi kepada masyarakat (monitoring sosialisasi),” ungkapnya.

Setelah terjadinya bencana di NTB, Palu, Sigi dan Donggala, Pemerintah Kota Surabaya baru merespon atas kondisi tersebut dengan memanggil Amien untuk mengkaji kondisi di Surabaya sendiri, padahal pada tahun 2017 Amien sudah melaunching kajian kondisi alam di Surabaya.

Dalam pertemuannya dengan Amien, Pemerintah Kota Surabaya memberikan data-data untuk dianalisis (data tanah) dan survey bangunan. Lalu dengan mengantongi data-data tersebut Amien lebih meneliti ke tanahnya, struktur tanahnya kemudian dilanjutkan dengan pemetaan mendalam.

Sejauh ini menurut Amien, manusia terlalu sering menyalahkan alam atas terjadinya bencana di muka bumi.

Lalu bagaimana mengantisipasi gempa? Mengurangi kepanikan? Dan cara menyelamatkan diri sedangkan gempa tidak bisa diprediksi?

Menjawab pertanyaan di atas, Amien menjelaskan bahwa harus adanya latihan menghadapi gempa. Simulasi bisa digalakkan melalui RT, RW, juga sekolah yang harus dilakukan bersama-sama dan bersifat kontinu. Jika pemerintah bergerak lambat maka bisa diinisiasi dari warga sendiri. Mau pilih korban banyak atau sedikit?

Gempa, gunung meletus dan lain-lain merupakan peristiwa alam yang harus terjadi. Karena hal tersebut adalah bagian dari dinamika alam.

“Bagaimana kita berbuat arif dalam menghadapi keadaan hidup. Bencana adalah istilah kita, sedangkan Tuhan tidak pernah mengirimkan bencana,” kata pria yang berusia 60 tahun ini.

Amien menanyakan, setelah mengetahui penjelasan tentang potensi gempa apakah menjadi horor atau lebih tenang? Dan menurut Amien harusnya lebih tenang, karena mulai sekarang kita bisa mempersiapkan diri untuk mengantisipasi terjadinya gempa, berusaha agar tidak panik, mengikuti sosialisasi tentang penanganan gempa ataupun bencana.

“Bencana, kalau kita kenal, kita pahami, maka bisa selamat dan menyelamatkan. Bencana tidak membunuh kita, tetapi bangunan dan kesalahan kitalah yang membunuh,” tutup Amien.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih

Editor || A. Phinandhita P.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: