Oleh: Ghowied Wahyu Hidayat
Saltigrada
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Di usia saya yang sekarang (74 tahun, lahir Desember 1950), saya terkadang masih kepikiran banyak hal tentang kawasan alam. Mau itu memikirkan tentang taman margasatwa, balai konservasi, taman nasional, kawasan hutan raya, atau apa pun namanya sekarang.
Dalam pemikiran saya, lembaga bentukan negara untuk kawasan-kawasan tersebut apakah telah tepat menjalankan tugasnya untuk konservasi, ataukah telah mengubah paradigmanya menjadi sekadar objek wisata yang fokusnya hanya pendapatan dan pendapatan saja.
“Pisahkan dari situ! Mana bisnis wisata, mana konservasi,” tegas saya dari dalam pikiran.
Penekanan lembaga tersebut seharusnya adalah konservasi, itu yang utama. Bukan malah retribusi yang utama. Bayangkan jika pengelola konservasi pikirannya hanya target retribusi untuk disetor ke pemerintah pusat, akan seperti apa bentuk konservasi yang kita harapkan dari hal yang seperti itu?
Bahkan jika dipikir dengan logika bisnis, orang yang sudah membayar retribusi, perlu mendapatkan timbal balik dari apa yang telah mereka bayarkan. Misalnya, naik gunung. Selama ini, dapatkah kita fasilitas cek kesehatan, fasilitas kontrol sampah, atau fasilitas edukasi yang tepat sebelum mendaki?
“Jangan-jangan, hal seperti itu tidak ada dan tidak dianggarkan dari retribusi-retribusi kita serahkan dan diterima oleh pemerintah,” tegas saya dari dalam pikiran, sekali lagi.
Belum lagi kalau saya menyimak berita bahwa TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) — yang menurut instruksi Presiden — dicanangkan untuk dikembangkan lagi menjadi Kawasan Bali Baru, bertambah lagi pikiran saya.
“Bali Baru itu maksudnya apa? Apa yang dikembangkan? Adakah yang diubah atau dihilangkan? Sociocultural-nya bagaimana? Ini projek bisnis atau akankah tetap memiliki tujuannya konservasi?”
Dari situ, saya teringat Mapala (mahasiswa pecinta alam). Saya tidak terlalu mengikuti apa saja aktivitas Mapala sekarang, tapi Mapala sepatutnya perlu dan hadir untuk kritis di projek-projek pemerintah seperti itu tadi.
Saya bersyukur di usia setua ini bisa mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Saya bisa menggunakan whatsapp, menyimpan dan mengirim foto, menyimpan dan mengirimkan nomor kontak teman-teman lama saya.
Saya pun bersyukur bisa bermain media sosial. Di sana, teman-teman Organisasi Pecinta Alam (OPA) Saltigrada, Malang, (saya aktif dari 1970 sampai sekarang), berkumpul dalam sebuah grup facebook. Foto-foto lama kegiatan kami dari saya yang aktif jadi mahasiswa di tahun 70-an, sampai saya yang sudah lulus dan tetap aktif di tahun 80-an dan 90-an terdigitalisasi secara lengkap di sana.
Sedikit dari yang saya amati dari Mapala terkini dari media sosial, orang-orangnya ini lebih bangga akan petualangan. Mereka suka program-program petualangan. Datang dan pulang bertualang lalu mengunggahnya ke media sosial. Dari petualangan tersebut mereka bisa “selfie”.
Misalnya Mapala dari sebuah kampus di pulau A, bikin proposal untuk bertualang ke pulau B, C, dan lain-lain, disetujui kampus, berangkat, “selfie”, baru kemudian pulang.
Yang mereka hasilkan dari petualangan, itu malah “selfie” alih-alih hal yang seharusnya bisa mereka lakukan apalagi mereka adalah pemuda di level berpikir seorang mahasiswa. Yaitu membuat: tulisan penelitian, tulisan pengamatan, atau tulisan kritik, dari sociocultural yang mereka bisa temui dari tempat tujuan mereka datang petualangan tadi.
Padahal di Kode Etik Pecinta Alam itu ada pasal yang menekankan tentang wawasan lingkungan.
Di era saya masih jadi anggota Mapala, wawasan lingkungan dan perhatian ke kehidupan sosial, itu jadi kegiatan utama. Kami pergi ke daerah pelosok, pulang-pulang bawa tulisan isinya laporan pengamatan.
Misalnya saya dulu, karena saya anak teknik (Teknik Sipil, 1970-1974, Akademi Teknik Malang, kini Institut Teknologi Nasional Malang), saya mengamati kondisi bangunan di sana. Teman ada yang dari ekonomi, mereka mengamati pasar atau mengamati ketergantungan masyarakat terhadap hasil alam, dan lain-lain. Hasilnya, kita bawa ke kampus. Jadi pelajaran untuk kita ketika kelak menulis skripsi. Pas, sudah.
Lagi pula, dalam perspektif Kode Etik Pecinta Alam pun, melaksanakan wawasan lingkungan, itu sebuah kepatutan. Dalam perspektif Tri Dharma Perguruan Tinggi, apalagi, itu melaksanakan penelitian dan pengabdian ke masyarakat.
Ketika dulu di Saltigrada, saya ada penekanan untuk wawasan lingkungan seperti itu. Itu yang kini saya lihat dari Mapala dan OPA, baik kampus atau komunitas, kegiatan fokusnya wawasan lingkungan sangat minim, luntur dengan kegiatan yang fokusnya petualangan.
Mereka ekspedisi ke gunung ini dan itu, jarang punya ekspedisi untuk penelitian. Misalnya, kota tempat kampus mereka sering kena banjir, belum tentu Mapala punya laporan pengamatannya atau bahkan tidak punya tulisan yang isinya usulan-usulan penanggulangannya.
Tapi memang dari sisi birokrasi di dunia akademik, perubahannya sangat masif dibandingkan era saya dulu.
Dulu teman-teman saya memang maniak berorganisasi. Karena tidak ada batasan kapan harus lulus kuliah atau tidak ada kewajiban kehadiran, mereka bisa proaktif di organisasi. Bahkan ada satu babak sejarah di mana Dema (Dewan Mahasiswa) mengalami penonaktifan, teman-teman bergeser melampiaskan keinginannya berorganisasi lewat OPA.
Kini saya dengar mahasiswa wajib hadir kuliah, atau perlu lulus tepat waktu. Jika tidak, bisa drop out. Aktivitas berorganisasi jadi berkurang. Teman-teman sekarang jadinya misal fokus di olahraga arung jeram, waktu kuliahnya hanya habis di sana saja. Yang kuliahnya sibuk dikejar deadline, jadi makin sedikit waktunya untuk berorganisasi.
Saya harap Mapala era sekarang bisa mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mampu mengembalikan wawasan lingkungan dalam aktivitasnya alih-alih petualangan yang hanya menghasilkan unggahan di media sosial berupa “selfie”. (da).
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Foto || Wartapala
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)