Boikot Tambang Pasir Besi Seluma Bengkulu, Aktivis dan Warga Ditangkap

Caption foto: Pembubaran oleh Aparat Penegak Hukum (APH) terhadap Emak-emak Desa Pasar Seluma, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu setelah selama 4 hari Boikot Tambang Pasir Besi milik PT. Faminglevto Bakti Abadi (WARTAPALA INDONESIA/ Soprian Ardianto)

Wartapalaindonesia.com, BENGKULU – Senin, (27/12/2021) Emak-emak di Desa Pasar Seluma, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu di usir paksa oleh Aparat Penegak Hukum (APH) setempat. Pengusiran paksa dilakukan karena selama 4 hari memboikot Tambang Pasir Besi milik PT. Faminglevto Bakti Abadi (FBA) karena dinilai dapat mengancam keselamatan mereka.

Saat pembubaran, mereka memaksa masyarakat yang mayoritas adalah perempuan untuk segera meninggalkan lokasi untuk mengedepankan keamanan sesuai tugas dan fungsi berdasarkan Undang-undang. Sebanyak 9 orang dibawa paksa oleh aparat kepolisian ke Polres Seluma yang terdiri dari 5 orang warga Desa dan aktivis pendamping.

Sebelum pembubaran yang berujung pada penangkapan tersebut, masyarakat memperlihatkan itikad baik untuk berbicara kepada aparat yang diwakilkan oleh salah satu juru bicara mereka, namun kabag OPS Polres Seluma tetap memaksa masyarakat dibubarkan. Mereka menarik emak-emak dan merobohkan tenda tempat emak-emak berteduh.

“Penangkapan paksa warga desa Pasar Seluma dan pendamping warga pada saat tengah menggunakan haknya menyampaikan pendapat dan suaranya untuk menolak keberadaan tambang pasir besi merupakan upaya pengekangan terhadap kemerdekaan berpendapat. Bahwa aksi penolakan warga terhadap pertambangan pasir besi yang mengancam ruang hidupnya ini adalah hak yang telah dijamin dalam hierarki hukum tertinggi Negara Republik Indonesia. Jika kekerasan seperti ini kita diamkan, maka sesungguhnya demokrasi kita akan semakin mundur jauh ke belakang. Peran dan partisipasi masyarakat akan semakin habis”, ujar Fanny Tri Jambore, Pengkampanye Tambang dan Energi Eknas WALHI.

Selama 4 hari ini, masyarakat telah menduduki lokasi tambang untuk meminta pemerintah daerah menghentikan aktivitas ilegal yang dilakukan PT. FBA dan menindak tegas perbuatan melawan hukum tersebut. Protes warga telah berlangsung sejak tahun 2010 karena mengancam ekosistem pesisir barat Sumatera.

Tidak itusaha, PT. FBA juga melanggar ketentuan PERMEN ESDM No. 43 Tahun 2015 Jo. PERMEN ESDM Nomor 2 Tahun 2013 sebagai pelaksanaan UU Nomor 4 Tahun 2009. Penambangan ilegal ini terindikasi memiliki keterkaitan dengan proyek smelter atau pemurnian konsentrat pasir besi di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

“Hingga saat ini Pemda menunjukkan sikap yang represif terhadap masyarakat terutama pada para perempuan yang bertahan untuk memperjuangkan wilayah kelolanya dari ancaman industri ekstraktif. Seharusnya pemerintah hadir di tengah masyarakat memastikan perlindungan atas wilayah kelolanya, memberikan keberpihakan kepada masyarakat dengan menunjukkan political will bukan malah sebaliknya”, tutur Abdullah Ibrahim Ritonga, Direktur WALHI ED Bengkulu.

Kawasan Pesisir Pantai Barat Sumatera saat ini sedang terancam oleh abrasi terjangan gelombang Samudera Hindia dan juga dampak dari perubahan iklim. Penambangan pasir besi di pesisir Pantai Pasar Seluma dikhawatirkan akan membuat kawasan ini menjadi rentan terhadap kerusakan.

“Wilayah pesisir yang relatif aman di sepanjang provinsi Bengkulu adalah Pesisir Ilir Talo, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma. Walaupun belum ada kajian yang mendalam, akan tetapi pasir besi ditengarai menjadi salah satu penyelamat. Upaya penyelamatan pantai barat ini sudah sejak lama dilakukan, dari gempuran investasi yang dilegalisasi negara. Sekarang terang benderang mau dibawa kemana negara ini, keruk habis.” Pungkas Ali Akbar, Ketua Kanopi Bengkulu dan Perwakilan #BersihkanIndonesia.

Hingga saat ini, warga dan pendamping yang dibawa ke Polres Seluma sejak pukul 11.30 WIB sedang didampingi tim kuasa hukum untuk mengeluarkan mereka, diketahui yang dibawa paksa oleh APH, Warga: Fitri, Novita, Rustam Efendi, Rivaldo, Agus dan Aktivis Pendamping: Abdul (WALHI Bengkulu), Selvia (Genesis) Rahmad Coucil, Anton.

Kronologi Pembubaran dan Penangkapan Warga

Sekitar pukul 11.00 WIB aparat kepolisian Polres Seluma datang ke lokasi tenda penolakan penambangan pasir besi yang didirikan oleh Warga Pasar Seluma, Kecamatan Seluma Selatan. Dalam kronologi tersebut aparat kemudian menghimbau bagi warga yang bertahan di dalam tenda penolakan tambang pasir besi oleh PT FBA untuk segera membubarkan diri.

Aparat Polres Seluma meminta ada perwakilan untuk bicara, dan ibu-ibu warga Pasar Seluma menunjuk Abdul (staf WALHI Bengkulu), sebagai kuasa warga yang menolak penambangan pasir besi untuk bernegosiasi dengan pihak aparat kepolisian. Abdul lalu berkomunikasi dengan polisi sekitar pada pukul 11.15 WIB, kemudian pada Pukul 11.20 WIB Abdul diangkut paksa oleh aparat polres Seluma ke mobil milik aparat kepolisian.

Kemudian enggan bernegosiasi dengan warga penolak tambang, Kabag OPS Polres Seluma tetap memaksa warga untuk membubarkan diri, dan memerintahkan pasukannya untuk membubarkan emak-emak yang masih bertahan. Terlihat di tenda penolakan tambang Pasir Besi Pasar Seluma, yang telah berlangsung 4, dan pada pukul 11.20 WIB emak-emak penolak tambang ini di angkut paksa dan tenda dibongkar oleh APH.

Kontributor || Soprian Ardianto, WI 200136

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 16000

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: