Caption foto : Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di hadapan peserta Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2024. (WARTAPALA INDONESIA / AJ. Purwanto).
WartapalaIndonesia.com, BANYUWANGI– Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2024 berlangsung di Agrowisata Tamansuruh (AWT) Banyuwangi. Dari tanggal 26 Juni hingga 7 Juli 2024.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, FAN mengusung tema desain Arsitektur dan Air. Tema ini diangkat karena arsitek sebagai pelaku pembangunan berperan besar dalam pelestarian air atau konservasi.
“Tujuannya untuk menciptakan sebuah bangunan yang menggunakan energi, air dan sumber daya lain seefisien mungkin, melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas pengguna,” terang Ipuk. (30/6/2024).
Senada, narasumber Yu Sing yang dikenal sebagai seorang arsitek yang selalu mengusung konsep rumah murah dan ramah alam memaparkan, arsitektur yang ramah lingkungan pasti memberikan keseimbangan yang nyaman, asri, adem, selaras dengan alam.
Pembangunan berkelanjutan adalah efisiensi air. Penelitian menunjukkan bahwa arsitektur hijau tidak hanya dapat mengurangi limbah air melalui perlengkapan pipa yang hemat air tetapi juga mengurangi beban pada sumber daya air bersama.
Dengan memasang sistem yang dirancang khusus untuk memurnikan air, hal ini memungkinkan daur ulang air dan juga memungkinkan adanya sumber air alternatif (seperti air hujan). Pembangunan ini tidak hanya menyelamatkan sumber daya alam yang penting ini, namun juga melindungi sumber air bersih untuk masa depan.
Di FAN 2024, turut dihadirkan Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih. Sekolah yang khusus membahas air hujan ini merupakan yang pertama kali di Indonesia, bahkan di dunia.
“Air adalah sumber kehidupan, kalau tidak ada air tidak ada kehidupan,” kata Sri Wahyuningsih.
Lebih jauh dia mengurai, santernya isu krisis air global, maka seorang arsitektur dituntut peka dan mulai berkarya dengan desain yang eko arsitektur, serta adaptasi dengan lingkungan. Termasuk di dalamnya konsep air. Perlu mulai berpikir sumber lain yaitu air hujan untuk di kelola dan di manfaatkan dengan baik.
Kepada peserta workshop Sri Wahyuningsih mengenalkan konsep 5 M, yakni menampung, mengelola, minum, menabung, mandiri. Kemudian menjelaskan cara-cara penampungan yang baik dalam rangka menjaga higienisnya air hujan sampai ke kita. Termasuk teknologi tepat guna yang bisa diakses secara mudah oleh masyarakat dengan 2 metode (manual dan IPAH/Instalasi Pemanen Air Hujan).
Konsep Rumah Osing
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo, FAN 2024 adalah rangkaian kegiatan, mulai pameran, seminar dan workshop arsitektur.
“FAN 2024 diisi lomba sketsa on the spot dengan obyek Rumah Osing di sekitar AWT dan langsung dipilih siapa pemenang,” kata Yayan, panggilan akrab Suyanto.
Di festival ini, puluhan desain arsitek dari Banyuwangi dan daerah lain di Jawa Timur yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim, menampilkan karyanya yang berwawasan lingkungan.
Lokasi FAN 2024 berada di aula outdoor Gedung Utama AWT yang berada di area paling tinggi AWT. Bangunan ini menjadi contoh desain arsitek yang menerapkan konsep Arsitek dan Air.
Disekeliling bangunan terdapat empat kolam yang berfungsi untuk menurunkan suhu saat cuaca panas. Dari lokasi ini juga bisa terlihat landscape AWT dengan hamparan kebun bunga dan sayuran yang mempesona.
AWT yang terletak di lereng Gunung Ijen ini menyuguhkan pemandangan pegunungan Ijen. AWT mengusung konsep Desa Osing. Nuansa khas otentisitas budaya Osing sangat terasa. Gugusan Rumah Osing yang dikelilingi taman bunga menghiasi kawasan tersebut. (ajp)
Kontributor || AJ. Purwanto
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)