Wartapalaindonesia.com, EDITORIAL – Mengedukasi masyarakat dewasa ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi jika masyarakat sudah termakan oleh informasi tanpa adanya pembanding dalam sudut pandang yang berbeda. Media dewasa ini sudah menjadi sebuah jendela informasi bagi masyarakat dunia, terlebih media dapat menjadi dua sisi mata pisau yang tajam jika salah menggunakannya.
Dalam program Cakrawala Malam dengan tema “Antara Pencinta Alam dan Penikmat Alam” yang diselenggarakan secara langsung oleh BIOS TV Surabaya pada Selasa, (15/12/2015). Wartapala Indonesia sebagai media partner pencinta alam Indonesia berkesempatan untuk mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat umum tentang apa itu pencinta alam sejatinya lewat tiga orang perwakilannya.
Berkesempatan menghadirkan tiga narasumber yang pertama diwakili oleh Alton Phinandhita selaku dirut Wartapala Indonesia sebagai narasumber tentang peran penting media pencinta alam. Pembicara kedua diwakili oleh penasehat redaksi Wartapala Indonesia yang diwakili oleh Peni Agustina yang merupakan wartawan senior pencinta alam Indonesia, serta oleh Yucki Wiliam Tubuka yang merupakan ketua umum Himmpas Sidoarjo.
Dari ketiga pembicara tersebut, Yucki William Tubuka yang merupakan ketua umum Himpunan Mahasiswa Muhammadiyah Pencinta Alam Sidoarjo berhalangan hadir disebabkan oleh tugas mendadak dan akhirnya digantikan oleh Mas Dimas selaku Litbang Wartapala Indonesia. Meski begitu Yucki dan Telosor dari Himmpas Sidoarjo yang juga aktivis di Wartapala Indonesia, sempat bertandang ke BIOS TV untuk menitipkan beberapa pandangannya kepada para pembicara tentang perbedaan mendasar antara pencinta alam dan penikmat alam.
Dalam acara yang dibawakan selama kurang lebih 45 menit itu dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama tentang fenomena pendaki yang menjamur, kedua tentang perbedaan mendasar pencinta alam dan penikmat alam dan terakhir tentang peran Wartapala Indonesia dalam mengedukasi masyarakat tentang pencinta alam. Acara yang berlangsung cukup santai tersebut juga diselingi sesi tanya jawab oleh pemirsa di mana ada pertanyaan tentang kiat-kiat dalam menjaga lingkungan.
Pada sesi pertama pembawa acara mengupas tentang fenomena menjamurnya pendaki atau para remaja yang sering melakukan trip di alam bebas. Jawaban sederhana meuncul dari Peni Agustina selaku pengamat dan wartawan senior kepencinta alaman.
“Fenomena tersebut memang terjadi dan menjadi trend para generasi muda saat ini, namun perlu diketahui bahwa belum tentu pendaki itu pencinta alam, namun pencint alam itu pasti ada yang berkegiatan dalam pendakian. Namun perbedaannya, di pencinta alam semua itu dilakukan dengan ilmu dan latihan-latihan.”
Dimas menambahkan bahwa, “hal tersebut tak terlepas dari gaya hidup dan media sebagai tolok ukur masyarakat dalam mengikuti trend yang ada saat ini, namun terkadang mereka kurang memahami tentang bagaimana berkegiatan alam itu berbeda dengan berkegiatan di taman hiburan.”
Pada sesi kedua, pembawa acara lebih meruncingkan pembahasan tentang apa perbedaan pencinta alam dan penikmat alam?
“Perbedaan mendasarnya adalah tentang bagaimana cara mereka berkegiatan dan untuk apa mereka berkegiatan? Sebab di dunia pencinta alam, tentu semua kegiatan dilakukan atas dasar keilmuan, bukan hanya menikmati alam saja.” Kata Peni Agustina.
Pak Dimas menambahkan bahwa, “Kita para pencinta alam memiliki dasar-dasar dan arah pendidikan yang jelas dan berjenjang, sebutlah kita memiliki Sispala bagi para siswa untuk membentuk karakter cinta alam, selanjutnya Mapala di mana kita dididik dan dilatih untuk memiliki skill dalam berkegiatan di alam, dan komunitas-komunitas pegiat alam, pegiat lingkungan serta mereka yang membawa hal positf dan semua itu untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan.”
Sedangkan bagi Alton, “Pencinta alam lebih tentang bagaimana orang itu berperilaku, di mana cinta merupakan bahwa orang tersebut akan melakukan yang terbaik bagi alam yang merupakan objeknya. Kita semua yang mengaku para pencinta alam merupakan orang-orang yang berdoa dan tak berhenti berproses dalam memaknai cinta alam tersebut dengan tanggung jawab.”
Lalu apa bedanya dengan penikmat alam?
Peni Agustina lebih menekankan pada aspek kekeliruan masyarakat memandang bahwa para pendaki merupakan pencinta alam, padahal belum tentu pendaki itu pencinta alam. “Penikmat alam terkadang lebih memilih menikmati alam dan kadang mengeksploitasi alam dengan cara mengotori dan banyak perilaku negative di mana alam menjadi rusak karenanya.”
Bagi Pak Dimas, “Penikmat alam lebih tidak menggunakan ilmu, dalam arti banyaknya pendaki dan orang di alam salah satunya gunung, adalah mereka yang menjadikan alam sebagai tempat bermain tanpa persiapan dan ilmu, akibatnya banyak para pendaki yang hilang dan terlebih meregang nyawa di alam.”
“Parahnya, masyarakat melihat semua orang yang mendaki adalah pencinta alam, padahal hal tersebut sangatlah berbeda. Para pencinta alam memiliki wadah dan sebelumnya pasti ada proses pendidikan dan latihan, sehingga para pencinta alam sangatlah berhati-hati dan safety dalam berkegiatan di alam bebas.”
Alton menambahkan bahwa, “Penikmat alam lebih menekankan gaya hidup hedonisme, sedangkan pencinta alam lebih menekankan pada edukasi tentang alam dan perbaikan-perbaikan dalam lingkungan.”
Dalam sesi kedua ini seorang koresponden yang kritis, bertanya tentang apa kiat-kiat menjadi seorang pencinta alam?
Alton menjelaskan bahwa, “Kita harus mulai semua itu dari diri kita sendiri, yakni berperilaku hijau. Terlebih dalam dunia kepencinta alaman, kita memiliki kode etik yang mana kita akan menjadi orang yang lebih baik apabila terus berproses dan berpedoman pada kode etik. Contoh kecil tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya hingga melakukan perbaikan-perbaikan dalam isu lingkungan.”
Pada sesi terakhir, pembawa acara menanyakan apa peran Wartapala Sejauh ini, “Wartapala merupakan media partner dan informasi bagi pencinta alam dan pengedukasi bagi masyarakat awam, di mana masyarakat dapat melihat kegiatan positif apa saja di dunia kepencinta alaman selama ini, kegiatan yang selama ini tidak sering muncul di media.” Kata Peni Agustina.
“Wartapala Indonesia juga menjadi media informasi pertama di Indonesia bagi seluruh pencinta alam dan pegiat alam maupun lingkungan untuk sama-sama melakukan perbaikan-perbaikan alam lingkungan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat lewat media.” Kata Pak Dimas.
Sedangkan menurut Alton, “Wartapala Indonesia didirikan sebagai media pembanding dan juga media yang menampung segala aktifitas para pencinta alam, pegiat alam, pegiat lingkungan dan masyarakat untuk sama-sama bergerak menyelamatkan lingkungan.”
Dengan demikian melalui media, Wartapala Indonesia akan selalu menjadi media yang menginformasikan dan mengedukasi masyarakat bahwa dunia kepencinta alaman merupakan dunia yang layak untuk diikuti, di mana pendidikan membentuk mental dan perilaku ramah lingkungan sangat diutamakan di sini. Jadi tidak akan ada lagi stigma negative masyarakat awam untuk melarang generasi muda dalam belajar lewat alam dan dunia kepencinta alaman.
Akhirnya melalui crew, Wartapala Indonesia berterimakasih kepada BIOS TV Surabaya yang telah memberi kesempatan untuk mengedukasi masyarakat tentang perbedaan Pencinta Alam dan penikmat Alam. Khusunya kepada Mas Ervan ‘Kecheng’ juga Mbak Putriana selaku crew BIOS TV dan juga segenap crew dari BIOS TV dan masyarakat pencinta alam di Indonesia. Salam Lestari.
Penulis : Amita Pradana Putra
Editor : Efrina Fitrianingrum
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)







