Cegah Banjir, CAMP STIEM Jakarta Selenggarakan Stadium General Kebencanaan

Caption foto : Diskusi kelompok peserta Stadium General Kebencanaan. Acara ini diselenggarakan CAMP STIEM Jakarta dalam rangka Musyawarah Tahunan Anggota. (WARTAPALA INDONESIA / Adinda Nurdiana)

WartapalaIndonesia.com, Jakarta – Biopori adalah istilah untuk lubang-lubang di tanah yang terbentuk akibat berbagai aktifitas organisme yang terjadi di dalam tanah.  Misalnya oleh cacing, rayap, semut, dan perakaran tanaman. Biopori dapat meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah.

Demikian kata Ketua Bidang Operasional SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) Fadlik Al Iman, tatkala mengisi Stadium General Kebencanaan di Kampus STIE Muhammadiyah Jakarta. Pada Sabtu. (1 Oktober 2022)

Stadium general merupakan rangkaian acara Musyawarah Tahunan Anggota ke-XXV CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta. Musyawarah tahunan kali ini mengangkat thema, “Mewujudkan Kepengurusan yang Kompeten dan Loyal Dalam Dunia Kepencintaalaman”.

“Biopori yang terbentuk, akan terisi udara. Kemudian menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah,” kata Fadlik Al Iman.

Lantaran itulah lanjut Fadlik Al Iman, biopori memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah untuk mencegah banjir.

“Air hujan yang meluap karena daya tampung drainase terbatas, akan diserap oleh biopori. Hal ini mampu mengurangi resiko banjir akibat meluapnya air hujan,” jelas Fadlik Al Iman.

Di stadium general, Fadlik Al Iman mengungkap pula pengalamannya membuat biopori di Bali, dan di beberapa tempat lain.

Sementara itu, seorang peserta Adinda Nurdiana, menceritakan kepada Ahyar Stone dari Wartapala, materi di stadium general membuat dirinya paham banyak tentang penanggulangan bencana. Terutama dari segi mitigasi bencana. Yakni segala upaya untuk mengurangi risiko bencana.

“Sekarang saya jadi paham, mitigasi dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, serta melalui pembangunan secara fisik. Misalnya dengan membuat biopori yang banyak,” terangnya.

Turut diceritakan Adinda Nurdiana, usai materi ruang dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Di sesi ini peserta stadium general dibagi menjadi tiga kelompok. Nama kelompok disesuaikan dengan tiga jenis bencana, yakni bencana dari alam, non alam, dan sosial.

“Masing-masing kelompok, ditugaskan mencari contoh bencana sesuai dengan nama kelompoknya. Lalu mencari cara menanggulanginya, serta peralatan apa yang dibutuhkan untuk mencegah bencana tersebut,” pungkas Adinda Nurdiana. (AS)

Kontributor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.