Cintai Aku, Lindungi Aku dan Lestarikanlah Aku!

Caption foto: Potret kerusakan alam di Kabupaten Bogor (sumber foto: Hallobogor.com). (WARTAPALA INDONESIA/ Seprian Nurhidayatulloh)

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Berbicara soal lingkungan memang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Sebagai manusia yang hidup di muka bumi dan selalu berdampingan dengan alam, membuat kita harus bisa bersahabat dengannya. Karena sejak bangun tidur sampai kita dalam keadaan tidur pun tidak bisa terlepas dari alam.

Manusia dapat dikatakan sebagai makhluk pemakan segala. Karena semua yang ada di alam semesta ini dimakan dan dimanfaatkan tanpa memikirkan keberlanjutan kelestarian lingkungan hidup.

Manusia tidak berpikir tentang pemanfaatan secara menerus tanpa adanya upaya pelestarian, maka alam pun akan habis. Dapat dipastikan jika kelestarian alam kita sudah hilang maka keberlanjutan kehidupan manusia pun akan terancam.

Kita sudah banyak melihat kejadian-kejadian kerusakan alam di negeri tercinta Indonesia. Indonesia yang terkenal dengan sumber daya alam melimpah pun mulai tercemar dengan terjadinya kerusakan alam. Hal tersebut disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.

Tugas dan kewajiban melestarikan alam, bukan sepenuhnya tugas pemerintah. Akan tetapi menjadi tugas semua manusia, karena pada hakekatnya kitalah yang mejadi penikmat alam.

Jika kita mencintai negeri ini maka sudah sepatutnya juga turut mencintai alam. Karena keberlangsungan alam semesta ini bukan hanya generasi sekarang yang ingin menikmati, tetapi juga untuk anak cucu kita nanti.

Di Indonesia, sejumlah permasalahan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan penyelesaian. Persoalan ini menjadi sangat krusial, karena menyangkut kualitas kehidupan di masa datang.

Setidaknya ada 10 permasalahan lingkungan di Indonesia yaitu sampah, banjir, pencemaran sungai, rusaknya ekosistem laut, pemanasan global, pencemaran udara, sulitnya air bersih, kerusakan hutan, abrasi dan pencemaran tanah.

Indonesia termasuk kedalam 10 besar negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, sehingga menghasilkan persoalan lanjutan yaitu produksi sampah dan pembuangannya.

Dampak dari sampah yang tidak tertangani akan menimbulkan banjir. Banjir juga dipicu karena tingginya curah hujan, rusaknya hutan dan berubahnya fungsi sungai.

Sedangkan pencemaran sungai terjadi karena ekses dari ulah manusia yang membuang limbah atau sisa industri ke sungai.

Jika kita berbicara soal sampah plastik memang tidak akan pernah ada habisnya. Penggunaan sampah plastik yang berlebihan disebabkan hampir semua jenis produk makanan ataupun yang lainya menggunkan bahan dasar plastik.

Sulit memang menghindarkan pemakaian sampah plastik, selain praktis juga sudah menjadi kebutuhan untuk kita. Permasalahannya adalah sampah plastik tidak bisa terurai, dan akan abadi selamanya terkecuali sampah plastik itu dimanfaatkan dan digunakan kembali.

Belum lama Indonesia juga berduka dengan adanya peristiwa kebakaraan hutan (karhutla) yang terjadi di Riau. Selain karbon berbahaya yang dihasilkan, juga banyaknya spesies-spesies yang mati.

Setiap tahunnya kejadian-kejadian kerusakan lingkungan seakan menjadi kebiasaan, belum lagi pencemaraan air laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak, kerusakan terumbu karang akibat jangkar kapal yang tidak bertanggungjawab. Pengeboman ikan di laut dan masih banyak jika kita sebtukan satu persatu.

Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan di negara-negara belahaan dunia pun ikut merasakan.

Hal tersebut diungkapkan dalam Konferensi Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) atau program ilmu pengetahuan dan kebijakan antar pemerintah mengenai keanekaragaman hayati dan ekosistem di Paris, Perancis. Dalam forum tersebut, PBB peringatkan tentang kerusakan alam akibat ulah manusia.

Artinya adalah masalah lingkungan ini adalah kasus tidak main-main karena pada dasarnya ketika lingkungan hidup rusak maka akan berdampak pada hal-hal yang lain baik politik ataupun keamanan nasional dan internasional.

Apa upaya yang harus kita lakukan? Untuk mengembalikan sumber daya alam yang hilang, yaitu dengan melestarikan alam, atau melestarikan keanekaragaaman hayati.

Itu tidak mudah, sebab membutuhkan proses, bantuan dan upaya dari setiap individu. Intinya adalah lakukan hal kecil jika kita mencintai alam ini, mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.

Memulai hal kecil berarti melangkah untuk hal besar. Membiasakan diri untuk tidak buang sampah sembarangan, meminimalisir penggunaan sampah plastik, mendukung program pemerintah tentang pelestarian alam dan kelompok pecinta alam. Karena hal tersebut kita lakukan guna untuk mempertahankan atau memperlambat daripada kerusakan alam, agar kelak anak cucu kita nanti masih bisa menikmati keindahaan alam.

Jika alam berbicara pasti ia akan mengatakan, “Jangan kau sibuk menikmati dan menghacurkanku. Cintai aku, lindungi aku dan lestarikanlah aku.”

Kontributor || Seprian Nurhidayatulloh, WIJA Tangerang (081995806643)

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: