Desa Poncosari, Sajikan Wisata Kebencanaan

Caption foto: Wisata kebencanaan Desa Poncosari, Bantul, DIY (WARTAPALA INDONESIA/Kharisma Desthalia Erlambang)

WartapalaIndonesia.com, DIY – Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah hingga siapapun berlomba-lomba memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk berbagai kepentingan. Keindahan dan keunikan di setiap daerah menjadi potensi daya tarik tersendiri untuk sektor pariwisata.

Dari masa ke masa, manusia selalu membutuhkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, mencari kemudahan dengan terus menerus mengambil dari alam. Tanpa disadari lupa mengembalikan dan justru mengganggu keseimbangan alam.

Hal tersebut merupakan landasan para pemuda asal Desa Poncosari, Bantul, DIY membuat sebuah tur wisata berbasis kebencanaan di daerahnya. Sebuah tur wisata yang cukup berbeda dari wisata pada umumnya.

Tur kebencanaan tersebut digagas oleh para pemuda Desa Poncosari, Bantul salah satunya ialah Hermitianta Prasetya yang akrab disapa Mimit. Tur tersebut bertujuan untuk mengenali potensi bencana dan mempelajari pola mitigasi bencana dalam kehidupan sehari-hari.

Dikatakan Hermitianta Prasetya, Konsep wisata berbasis kebencanaan dengan bersepeda berkeliling desa dan adanya unsur edukasi di setiap perjalanan. Pada pemberhentian pertama di Muara Progo, wisatawan akan melihat aktivitas tambang pasir disini.

Mimit sapaan akrabnya, mengklaim bahwa penambangan pasir di wilayah ini untuk normalisasi Daerah Aliran Sungai. Namun hal itu masih menimbulkan tanda tanya besar, karena wilayah tersebut merupakan tempat biasa migrasi burung-burung.

“Dengan adanya penambangan pasir membuat migrasi burung-burung secara tidak langsung juga terganggu. Setelah pengamatan aktivitas tambang pasir, wisatawan diberi edukasi tentang pengenalan dasar seputar bencana meliputi kondisi geografis dan geologis Indonesia, risiko bencana, mitigasi bencana hingga dampak lingkungan,” ungkapnya.

Wisatawan saat diberikan edukasi sederhana tentang kebencanaan

Tempat pemberhentian kedua yaitu Tempat Evakuasi Sementara (TES) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Disini dijelaskan juga bagaimana fungsi dari gedung tersebut yang mestinya dan bagaimana operasional seharusnya.

Perjalanan selanjutnya menuju Pantai Kuwaru. Dari kejauhan terdapat sebuah bangunan di bibir pantai yang telah roboh. Bangunan itu akibat dari terjangan ombak dan abrasi pantai.

“Salah satu risiko bencana dapat berasal dari faktor alam yang dimana itu kita tidak dapat memprediksinya. Setidaknya sebelum terjadi bencana, kita mengetahui sumber risiko yang ada agar dapat melakukan mitigasi dari awal, karena dalam pariwisata faktor keamanan merupakan hal yang penting,” katanya.

Wisatawan diberikan edukasi sederhana perihal kebencanaan

Setelah menyapa laut di Pantai Kuwaru, perjalanan terakhir menuju sebuah gubuk wisatawan disajikan dengan hidangan lokal Desa Poncosari.

Diketahui, tur kebencanaan yang edukatif ini merupakan salah satu program BUMDesa Mukti Lestari Desa Poncosari, Bantul dapat dijumpai di laman Instagram @konservasi.poncosari.

Poin penting dalam tur wisata ini adalah mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap potensi bencana. Mengetahui ilmu kebencanaan juga sangat penting untuk kehidupan sehari-hari agar dapat tanggap dan tangguh dalam menghadapi bencana sesungguhnya.

Wisata yang tidak hanya sekedar foto-foto di tempat indah pada umumnya, namun menelisik realita yang ada serta adanya unsur edukasi yang menjadi nilai penting dalam pariwisata.

Hal yang diharapkan menumbuhkan kesadaran kepada wisatawan agar lebih menghargai serta menjaga lingkungan dimana pun berada.

Kontributor || Kharisma Desthalia Erlambang
Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: