Diduga Musim Berbiak, Macan Tutul dan Macan Kumbang Terekam Kamera di Sanggabuana

Caption foto: Penampakan 2 ekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dengan pola tutul dan hitam terekam kamera jebak di Pegunungan Sanggabuana (WARTAPALA INDONESIA)

Wartapalaindonesia.com, JAWA BARAT – Kabar menggembirakan kembali didapat dari Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat bertepatan dengan “International Leopard Day” atau Hari Macan Tutul Internasional 3 April 2022 lalu. Dua ekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dengan pola tutul dan hitam terekam berada di tempat dan hari yang sama oleh kamera jebak di Pegunungan Sanggabuana.

Kamera jebak atau kamera trap milik Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) yang dipasang di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana berhasil merekam macan tutul  dan macan kumbang pada hari yang sama di tempat yang sama, dengan selisih waktu sekitar 3 jam.

Macan tutul jawa dan macan kumbang merupakan satu jenis, sama-sama macan tutul jawa, salah satu dari 9 sub spesies macan tutul atau Panthera pardus yang ada di dunia. Sedangkan macan tutul jawa dan macan kumbang (Panthera pardus melas) merupakan macan tutul endemik jawa.

Walaupun merupakan satu sub spesies, tetapi sama seperti sub spesies macan tutul india (Panthera pardus fusca) dan macan tutul indochina (Panthera pardus delacouri) macan tutul jawa kadang mempunyai perbedaan warna yang disebabkan oleh pigmen melanistik, hingga beberapa mempunyai warna lebih gelap, seperti macan kumbang ini yang berwarna hitam. Tapi ketika dilihat dalam jarak dekat, tetap ada pola tutulnya.

Dari data video rekaman kamera trap SCF, macan tutul jawa dengan pola tutul pertama terekam kamera pada tanggal 22 April 2022 pukul 10.05.54 WIB kemudian macan tutul jawa pigmen gelap atau macan kumbang terlihat melewati depan kamera trap pada hari yang sama pada pukul  13.13.46 WIB

Menurut Uce Sukendar, Kepala Divisi Pelestarian dan Perlindungan Satwa (DPPS) SCF, macan tutul pertama dan macan kumbang tersebut dari analisis kamera dan jejak di lapangan datang berlawanan arah. Jadi ada kemungkinan mereka bertemu di jalur yang sama sekitar 1,5 jam setelah macan pertama terekam kamera.

Video macan tutul pertama yang terekam hanya terekam bagian belakang dan ekornya saja, sedangkan video kedua terekam macan kumbang berjalan melewati kamera. Beberapa video yang tidak utuh ini, menurut Uce karena kesalahan settingan interval triger kamera.

“Terlalu lama trigernya, jadi macan lewat 3 detik baru kamera merekam, harusnya sepersepuluh detik. Tapi walau bagaimanapun ini penting untuk data kita, untuk menganalisa dan evaluasi. Ada dua individu beda pola atau pigmen ditempat yang sama dan hari yang sama.” Terang Bujil, panggilan Uce Sukendar.

Video terekamnya macan tutul dan macan kumbang di Pegunungan Sanggabuana ini dibenarnkan oleh Bernard T. Wahyu Wiryanta Pembina SCF. Bernard mengatakan bahwa selama ini macan tutul yang berhasil direkam visualnya hanya yang berpola tutul, dan baru kali ini macan kumbang atau macan tutul dengan pigmen gelap atau hitam berhasil menampakkan diri.

“Yang membuat kami gembira bukan penampakan macan kumbang yang selama ini ditunggu visualnya, tetapi macan tutul dan macan kumbang berada di tempat yang sama dan hari yang sama. Karnivora besar ini adalah satwa soliter dan tidak berbagi daerah teritorial, ketika mereka ada di satu kawasan yang sama, ini indikasi musim berbiak mereka.” Terang Bernard yang sudah meneliti satwa liar di Pegunungan Sanggabuana sejak tahun 2020 .

Seminggu sebelumnya, ditempat yang sama juga terjadi perjumpaan langsung antara warga dan macan tutul betina dengan dua anaknya. Namun namun menurut Bernard induk yang mengasuh anaknya ini belum terekam kamera, tetapi jejak di lapangan memang mengidikasikan ada jejak dari beberapa individu dengan perbedaan ukuran jejak, jadi bisa dipastikan laporan warga benar.

“Untuk data yang dikirim tim lapangan pagi ini, macan kumbangnya diperkirakan berjenis kelamin jantan, untuk yang tutul belum teridentifikasi. Selain dua ekor macan ini, dari video kiriman Bujil juga terekam beberapa satwa lain seperti burung, luwak dan babi hutan yang merupakan pakan alami macan tutul jawa.” Terang Bernard.

Lokasi kedua macan tutul jawa terekam kamera ini menurut Bernard berada di sebuah puncak gunung di kawasan Pegunungan Sanggabuana yang sempat dibuka jalurnya untuk wisata. Padahal lokasi ini merupakan teritorial dan lintasan karnivora, juga 2 primata endemik. Temuan ini sudah beberapa kali dilaporkan ke Adm Perum Perhutani KPH Purwakarta dan BBKSDA Jabar, dan pihak Perhutani setuju bahwa lokasi lintasan karnivora dan primata ini tidak akan dibuka untuk wisata.

Kontributor || Willy Firdaus, WI 170016

Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: