Diego dan Marlies, Sepasang Pesepeda Lintasi 23 Negara

Caption foto: Foto yang dipamerkan dalam pameran foto Everything in Between:The Exhinition di Kopi Kalyan, Jakarta. (WARTAPALA INDONESIA/ Varellio Putra)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Diego Yanuar dan Marlies Fennema, sepasang pesepeda yang melakukan perjalanan Belanda-Indonesia. Mereka melakukan perjalanan selama 322 hari. Perjalanan dimulai dari Belanda pada April 2018 dan mereka tiba di Indonesia pada Februari 2019.

Petualangan ini berawal dari percakapan mereka berdua. Mereka sering kali melakukan perjalanan Indonesia-Belanda dan Belanda-Indonesia, tetapi menggunakan pesawat.

Lantas suatu hari Marlieis berkata, “gimana kalau kita naik sepeda aja supaya bias lihat semua yang ada di bawah?”

Hingga akhirnya Diego menyutujui apa yang dikatakan oleh Marlies.

Kenapa mereka memilih sepeda? Karena menurut mereka, kecepatan sepeda paling pas. Tidak terlalu cepat seperti motor atau mobil, tapi juga tidak terlalu lambat seperti berjalan kaki.

Naik sepeda juga membuat mereka lebih bisa beraktivitas, dari pada hanya diam dan memutar gas motor atau menyetir mobil, sekalian olahraga.

Diego dan Marlies melintasi 23 negara, dengan jarak tempuh 12.000 kilometer. Negara yang paling mengesankan dan menantang menurut Diego adalah Tajikistan, karena rute yang dilewati dominan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 4600 meter di atas permukaan laut. Saat salju akan turun, Diego dan Marlies Fennema, bertemu warga kemudian diajak berteduh di rumah warga.

Dalam perjalanan ini mereka memiliki misi untuk menggalang dana yang dapat diakses melalui website fundraising. Cerita selama perjalanan diunggah, sehingga siapapun yang tertarik dengan cerita mereka bias memberikan donasi.

Jurnal perjalanan itu mereka unggah dalam akun instagram @everythinginbetween. Dalam jurnal, sudah ada sebanyak 237 foto yang diunggah. Tujuan amal mereka tertuju pada manusia, hewan dan lingkungan.

Pada saat perjalanan Diego mengabadikan perjalanan mereka dengan foto dan video, kendala saat memotret dan merekam yaitu sulitnya mengisi ulang baterai kameranya. Perjalanan yang sulit pun membuat dia mendapatkan foto-foto yang menakjubkan, karena dalam perjalanan dia melewati pegunungan, menerjang salju yang sangat tebal saat bersepeda.

Iran, menjadi Negara favorit mereka. Selama di Iran, mereka tinggal di rumah warga. Rumah itu terbuat dari tanah liat. Tidak banyak yang bias bahasa Inggris. Untungnya, Diego bisa sedikit-sedikit membaca huruf Arab-Persia dan berkomunikasi dengan mereka.

Kontributor || Varellio Putra, WI 200108

Editor || Muda Lahir Ria, WI 170013

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.