Difabel, Tidak Menghalangi Kegiatan Alam Bebas

Caption foto: Alim (Sepi) difabel pertama masuk Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) “Mushroom” UTY. (WARTAPALA INDONESIA/ Yunita Putri Arumsari)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Mahasiswa aktif Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) jurusan S1 Informatika yang bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) ini berbeda dengan anggota yang lain. Pemilik nama asli Guruh Hizbullah Alim ini lahir dengan keadaan tuli dan sulit untuk berbicara secara normal.

Lahir pada tanggal 22 September 1995, laki-laki berkebutuhan khusus (difabel) ini sudah mengalami banyak pengalaman pahit ataupun pengalaman berkesan sehingga membuat dia semangat menjalani hidup yang semakin berat. Memiliki cita-cita sebagai pilot semasa kecilnya dan dengan dorongan dari (almh) ibunya, dia mampu bersekolah di sekolah umum setelah menempuh Sekolah Dasar di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Bantul (1-3) dan Sekolah Luar Biasa Negeri 2 Bantul (4-6).

“Sebelum masuk SMP aku tidak mau dikarenakan takut diejek orang dengar. Tidak PD, malu, banyak minder. Terus aku dipaksa mama dengan terus menyemangatiku dan menasehati agar nanti bisa masuk kuliah setelah lulus sekolah umum, jadi aku menerimanya karena mama,” ujar laki-laki yang pernah menjuarai tingkat 2 lomba IPA di SLB se-Indonesia tersebut.

Laki-laki yang memiliki nama lapangan “Sepi” ini berkomunikasi sehari-hari dengan bahasa isyarat dan sesekali menggunakan notice yang ada pada ponselnya.

“Sewaktu SMP aku banyak mendapatkan nilai jelek dari 1-3, ada yang mengejek meski aku bertahan sekolah sampai lulus, tetapi sebelum lulus aku pernah ingin keluar dari SMP umum lalu pindah kembali ke SLB karena mudah mendapatkan pelajaran yang baik. Akhirnya aku tetap jalan sampai lulus di SMP umum. Namun setelah lulus SMP aku sadar, pelajaran sekolah umum sangat jauh dari pelajaran di SLB,” lanjut Alumni dari SMPN 2 Sewon itu.

Memiliki keterbatasan tidak menurunkan niat belajarnya, Alim sudah dididik semenjak ada di Taman Kanak-kanak. Anak dari pasangan dr.H.Pernodjo Dahlan dan Sriwati Laksmi Andani (almh) ini bersekolah di dua tempat dalam sehari, Taman Kanak-kanak Budi Mulia di pagi hari dan SLB B Karnnamanohara (Sekolah Khusus Tunarungu) pada sore harinya. Itu semua dilakukan oleh  kedua orang tua Alim agar dia dapat berinteraksi secara lancar dengan orang normal dan untuk membentuk karakter Alim agar lebih percaya diri.

“Impianku saat ini adalah aku ingin mendorong anak-anak tuli supaya diajarkan pelajaran yang baik seperti sekolah umum agar bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mandiri, memiliki keberanian dan bakat, percaya diri. Namun sayangnya belum terwujudkan, jadi sekarang aku perlu banyak belajar dari orang-orang sukses bagaimana meraih sukses untuk mewujudkan impianku. Juga sangat penting didukung orang dengar untuk mendorong kesetaraan tuli dan dengar dalam hal apapun, peduli bahasa isyarat untuk dijadikan kurikulum pelajaran dalam pengajaran kepada anak tuli,” tulis Alim melalui ponselnya.

Dan untuk mewujudkan itu semua Alim kini memperluas jaringan relasinya dengan mengikuti berbagai organisasi seperti, Deaf Adventure Community (DACom) dan dia menjabat sebagai ketuanya, Gerakan Kesejahteraan Untuk Tunarungu Indonesia (Gergatin DIY) menjabat sebagai wakil sekertaris, Deaf Art Community (DAC) sebagai anggota, dan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) sebagai pengajar kelas bahasa isyarat setiap hari Sabtu. Tidak hanya sebagai pengajar di Pusbisindo Alim juga mengajar di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Timoho dan Universitas Janabadra Timoho (Fakultas Hukum).

Dengan banyaknya organisasi yang dia ikuti maka keyakinan Alim untuk bergabung dengan mapala UTY semakin kuat. Keraguan yang sempat datang menghampirinya hilang setelah dia memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu lewat sosial media instagram milik Mapala “Mushroom” UTY.

“Aku tuli pertama kali yang gabung dengan mapala UTY, jadi akupun percaya dan pantang menyerah,” begitulah semangat Alim setelah diterima menjadi calon anggota muda Mapala “Mushroom” UTY.

“Harus bisa meraih apa yang dicita-citakan dan jangan menyerah,” lanjutnya saat ditanyai apa moto hidupnya saat ini.

Disetujui oleh Yusuf Saputra atau yang kerap di panggil “Kumbang” selaku ketua umum mapala UTY waktu itu, “Aku optimis aja sih selama dia punya keinginan kita tidak bisa menolak tanpa alasan yang pasti, apa lagi dia juga memenuhi syarat sebagai mahasiswa UTY juga dia punya hak untuk masuk UKM manapun,” ungkapnya.

“Menurutku ketika Sepi ikut Mapala itu suatu hal yang istimewa, ada penyemangat bagi kita-kita yang dalam keadaan normal. Lalu ketika ada tamu dari temen-temen pendaki yang sama-sama tuli kan ada si Sepi yang pandai bahasa isyarat jadi bisa bantu. Kita asyik belajar bahasa isyarat, tapi saya merasa kasihan juga ketika kita sedang sibuk dan dia bingung sendiri gitu, contohnya kemarin waktu di Puskodal kita kan lagi siapin alat-alat dan dia bingung sendiri mau ngapain,” imbuhnya saat ditemui pada malam api unggun Pendidikan Dasar Mapala “Mushroom” UTY yang diadakan di Kaliangkrik,Magelang (3/2/2019).

“Aku sudah diterima di Universitas Swasta sehingga saya bisa berbaur dengan teman-teman dengar, meski tidak semua yang bisa mengajak ngobrol banyak orang yang baik di samping aku apa lagi dia malah cepat paham isyarat abjad A-Z. Aku belajar dari masa lalu sejak SMP-SMK dari situasi menjadikan aku harus bisa berbaur untuk kesetaraan, aku pun kini bisa menjadi guru bahasa isyarat untuk umum dan juga bersosialisasi dengan bahasa isyarat kepada siapapun,” ungkap Alim.

Alim mengatakan yang menjadi kunci sukses baginya adalah belajar apapun agar bisa meraih sukses dan pantang menyerah.

Kontributor || Yunita Putri Arumsari, WIJA Yogyakarta

Editor || Agung Wahyu Utomo

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: