Dua Putri Mapala Muhammadiyah, Tampil Inspiratif di Talkshow Kebencanaan SARMMI

Caption Foto : Zeni Nurhidayah Rizkia dari Mapala UMY (kanan foto). Rizka Fitri Amelia dari Stacia UMJ (tengah). Talkshow dipandu oleh Tedi Hendra Setiana dari Mapsa Universitas Muhammdiyah Purwokerto. (WARTAPALA INDONESIA/Ahyar Stone)

WartapalaIndonesia.com,Purwokerto – Dua Putri Mapala Muhammadiyah yakni Rizka Fitri Amelia dari Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta. Serta Zeni Nurhidayah Rizkia dari Mapala Universitas Muhammadiyah Yogyarta, tampil inspiratif di acara Talkshow Kebencanaan yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Jumat, 5 Agustus 2022.

Talkshow yang mengusung thema, “Srikandi Mapala Muhammadiyah : Mewujudkan Generasi tangguh sebagai pilar bangsa menghadapi bencana”, merupakan rangkaian acara Munas SARMMI. (Musyawarah Nasional SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia).

Munas SARMMI diselenggarakan pada Jumat hingga Minggu, 5-7 Agustus 2022. Pelaksana Munas SARMMI adalah Mapsa Mapala Satria Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

 

Menurut Rizka Fitri, mahasiswa yang berlatar belakang ilmu kesehatan, lalu masuk Mapala, merupakan hal luar biasa.

“Seorang mahasiswa yang memiliki Ilmu kesehatan sekaligus memiliki skill Mapala, maka saat dia terjun ke lokasi bencana, dia akan menjadi relawan yang luar biasa,” jelasnya.

Diceritakan oleh Rizka Fitri, saat dirinya masuk ke desa terpencil di daerah Lebak, Banten, yang mengalami bencana longsor, dia bersama tim relawan harus berjalan kaki di medan sulit sambil membawa peratan medis.

Di sana, mereka menemukan korban longsor yang kakinya luka.

“Di kehidupan normal, orang terluka adalah kejadian biasa. Tetapi di lokasi bencana alam yang terpencil, kejadian orang terluka adalah peristiwa genting yang harus ditangani segera. Apalagi bila lukanya mulai membusuk,” ungkap Rizka Fitri.

Di bencana alam, apalagi desanya terpencil, semuanya serba terbatas. Termasuk peralatan  medis. Padahal korban yang memerlukan bantuan medis harus ditangangi segera. Tak boleh ditunda.

Turut dipaparkan oleh Rizka Fitri, saat dirinya bersama tim relawan SARMMI yang dipimpinnya menangani korban asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kampar, Riau, harus menerobos kabut asap.

Kami harus bertindak cepat lanjut Rizka Fitria, karena warga yang desanya bersebelahan dengan titik api (hot spot) mengalami gangguan pernafasan.

“Kami merupakan tim relawan pertama yang masuk desa itu. Kami berhasil melakukannya, karena semua anggota tim relawan memiliki latar belakang Mapala, dan saya sendiri memiliki latar belakang ilmu kesehatan,” jelas Rizka Fitri.

Sementara itu, Zeni Nurhidayah yang merupakan Ketua Tim Operasi Kemanusiaan SARMMI di bencana erupsi gunung Semeru, Jawa Timur. Mengaku tidak menemui kendala berarti saat memimpin operasi kemanusiaan. Padahal dirinya belum pernah terjun kel lokasi bencana.

“Saat tim SARMMI ke bencana erupsi Semeru. Saya satu-satunya putri. Juga belum pernah ikut ke lokasi bencana. Anggota lain sudah berkali-kali ke lokasi bencana,” ungkapnya.

“Meski nol pengalaman, dan memimpin personil dari beberapa Mapala yang sudah berpengalaman ke lokasi bencana di berbagai daerah, saya tidak menemui kendala berarti. Semuanya berjalan lancar,” imbuh Zeni Nurhidayah.

Hal itu terang Zeni Nurhidayah, karena dia memiliki latar belakang aktif di Mapala UMY. Saat di lokasi bencana, semua pengalaman dan skill pecinta alam yang dimilikinya, sangat berguna.

“Selain itu, semua personil yang dipimpinnya adalah anggota Mapala, yang kendati memilik karakter berbeda-beda, tetapi mereka mampu membangun team work yang kuat, serta senantiasa saling mendukung. Termasuk mendukung saya,” tambahnya.

Kepada putri-putri, terutama yang dari kalangan pecinta alam, Zeni Nurhidayah berpesan, modal utama terjun ke lokasi bencana adalah kemauan yang kuat.

“Jika teman-teman memiliki kemauan yang kuat, kalian pasti akan menjadi relawan tangguh saat di lokasi bencana, walaupun kalian belum berpengalaman,” pesan Zeni Nurhidayah.

Sedangkan Rizka Fitri, mengajak anggota mapala yang memilik latar belakang ilmu kesehatan, agar tak segan-segan terjun ke lokasi bencana.

“Ilmu kita di bidang kesehatan, sangat dibutuhkan oleh korban bencana alam. Lokasi bencana adalah medan paling tepat untuk mengabdikan ilmu kita untuk kemanusiaan,” pungkas Rizka Fitri.

Terhadap acara talkshow, seorang peserta Munas SARMMI, Lalopi Dawamo. dari Mapala Universitas Muhammadiyah Maluku Utara mengaku sangat terinspirasi. Hal membuatnya tambah termotivasi terjun ke lokasi bencana alam.

“Putri-putri Mapala Muhammadiyah sudah berkiprah luar biasa di bencana. Kita yang lali-laki, terutama saya, harus tambah proaktif terjun ke lokasi bencana,” kata Lalopi Dawamo yang di Mapala UMMU menjabat sebagai Sekretaris Umum. (AS)

Kontributor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, (WI 160009)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: