Ekspedisi Budaya dan Pendidikan di Taman Nasional Bukit 12

Caption foto: Foto bersama Tim Ekspedisi dengan Suku Orang Rimba dengan mengenakan pakaian adatnya. (WARTAPALA INDONESIA/ Fadli Dian)

Wartapalaindonesia.com, JAMBI – Taman Nasional Bukit 12 merupakan Taman Nasional yang terletak di Desa Bukit Suban, kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Randicho (GW.2019-586), selaku bagian Informasi dan Dokumentasi dari Mahasiswa Gemapala Wigwam Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) mengatakan bahwa ekpedisi bersama tim ke Taman Nasional Bukit 12 dilaksanakan pada 1-5 April.

Ekspedisi ini bertujuan untuk melakukan penelitian edukasi tentang sastra tutur dan hukum adat Suku Orang Rimba. Dimana outputnya akan dijadikan dokumenter film dan foto untuk dilaksanakan pergelaran pameran di aula gedung Politeknik Negeri Sriwijaya.

“Saat melakukan ekspedisi ke Taman Nasional Bukit 12, tim yang ikut terlibat adalah Gemapala Wigwam Fakultas Hukum Unsri, Dosen Politeknik Negeri Sriwijaya Prodi Multimedia, PPA WIGHNA Manggala, dan Karpala Pusri. Sebelumnya dari Dr. Muhamad Erwin, S.H., M.Hum dengan nomor anggota Gemapala Wigwam Fakultas Hukum Unsri GW.98-343. melakukan penelitian disertasi tentang Hukum Adat Suku Orang Rimba,” ungkap Randicho.

Ekspedisi ini merupakan permintaan langsung dari temenggung atau kepala suku, suku orang rimba. Mereka meminta tentang sastra tutur untuk dilestarikan melalui film dan foto dokumenter.

Dengan adanya ekspedisi ini, suku orang rimba merasa sangat terbantu. Suku orang rimba juga memiliki keunikan-keunikan tersendiri.

“Jadi temenggungnya ini mempunyai usaha kreatif sendiri, yaitu dengan membuat rumah adat yang dimaksudkan sebagai mata pencaharian mereka,” lanjutnya.

Taman Nasional Bukit 12 mempunyai beberapa potensi wisata alam, seperti Bukit Bogor, air terjun, sungai yang jernih, hutan yang masih asri serta masih banyak wisata alam yang belum terekplorasi. Masyarakat Suku Orang Rimba yang diwakili oleh Temenggung Bebayang, salah satu Temenggung dari 13 Suku Orang Rimba mengatakan bahwa mereka punya keluhan tentang banyak warga pendatang dan warga transmigrasi yang membuka lahan di Taman Nasional .

“Jadi di sana dilakukan usaha pencegahan oleh Suku Orang Rimba tentang pembukaan lahan oleh masyarakat pendatang di Taman Nasional dengan dibuat Hompongon, yaitu sebagai pembatas hutan tempat masyarakat pendatang dan transmigrasi yang berladang,” terangnya.

Hompongon dibuat seperti pagar mengelilingi bukit 12 ditanami tanaman buah-buahan  yang dimana selain pembatas, juga menjadi penghasilan suku orang rimba. Populasi Suku Orang Rimba sekitar 200.000 orang.

Di Taman Nasional Bukit 12 sendiri terdapat Pergerakan Komunitas Warsi  yang sangat concern terhadap pendidikan Suku Orang Rimba. Diharapkan dengan perluasan pendidikan untuk Suku Orang Rimba dapat mencetak generasi muda yang mengabdi bagi nusa dan bangsa.

Kontributor || Fadli Dian, WIJA Palembang

Editor || N. S. Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: