End Plastic Pollution dalam Tema Peringatan Hari Bumi 2018

Flyer peringatan hari Bumi 2018 tema end plastic pollution, PMPA Kompos UNS, Minggu (22/4/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Halimah,K-543 Sie Lingkungan Hidup)

Wartapalaindonesia.com, SURAKARTA – Minggu (22/4/2018) Hari Bumi diperingati setiap tahun oleh berbagai organisasi peduli lingkungan hidup di dunia ini pertama kali di selenggarakan pada tanggal 22 April tahun 1970 di Amerika Serikat. Penggagas Hari Bumi adalah Gaylord Anton Nelson yang merupakan seorang senator Amerika Serikat yang berasal dari Wincostin.

Peringatan yang sudah berjalan hampir 50 tahun ini membuktikan bahwa semakin banyaknya orang yang peduli akan keadaan bumi akhir – akhir ini. Kepedulian ini timbul setelah banyak kejadian yang membuat bumi kita ‘sakit’. Sudah selayaknya bagi kita yang hidup di bumi untuk membuka mata dan mulai mendengarkan keluh kesah bumi kita yang ‘sakit’ dan mencoba untuk meng’obat’inya.

Peringatan Hari Bumi sedunia tahun 2018 ini memiliki tema “End Plastic Pollution” atau terjemahannya “Akhiri Polusi Plastik”. Tema ini sangat relevan dengan keadaan sampah plastik yang sangat banyak dan mencemari lingkungan dunia.

Studi yang dimuat dalam jurnal ilmiah Sceintific Reports menyebutkan bahwa sampah berakumulasi di lima area di lima samudera dan area terbesar ada di antara Hawaii dan California. Sampah plastik ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan jumlah.

Di Indonesia, fakta yang sangat mencengangkan adalah berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia merupakan peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Fakta ini sangatlah ironis karena jumlah laut Indonesia yang sangat luas akan tetapi juga banyak menghasilkan sampah plastik.

Berdasarkan fakta ini seharusnya kita sebagai salah satu komponen masyarakat Indonesia harus mananggapi masalah ini dengan serius. Berita tentang penyelam Inggris yang menyelam diantara sampah plastik di Nusa Penida, berita tentang banyaknya sampah plastik di Gunung Rinjani dan gunung – gunung lain di Indonesia dan masih banyak lagi masalah sampah plastik yang membuat kerugian. Hal ini semua merupakan sebuah ironi yang sangat seharusnya bisa kita hindari.

Melihat dari berbagai kerusakan bumi yang disebabkan oleh sampah plastik, kita bisa memulai dari sebuah pikiran dasar bahwa bumi merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan dan hewan.

Apabila bumi rusak, apa kabar nasib penghuninya? Apa kabar nasib kita? Masih hidup ataupun ikut rusak kah? Setidaknya kita juga bisa berpikir, kalau bumi rusak pasti kehidupan makhluk di dalamnya juga pasti berantakan, bukan?

Fakta bahwa sampah plastik membutuhkan waktu 500 – 1000 tahun untuk terjadi penguraian sudah seharusnya menjadi tohokan keras untuk kita semua dan apabila tidak ada tindakan yang serius tentang masalah sampah plastik ini, sudah bisa dibayangkan bentuk bumi dalam 500 tahun yang akan datang akan seperti apa, mungkin cicit kita bisa hidup diatas tumpukan sampah.

Melihat dari faktanya yang seperti itu, sudah selayaknya kita sebagai makhluk yang punya akal bisa menjaga tempat hidup kita ini tetap aman untuk di tinggali. Aksi kecil yang bisa kita lakukan adalah mulailah membuang sampah plastik tidak di sungai, perairan, laut ataupun sembarangan di tanah.

Mulailah memilah antara sampah plastik dengan sampah organik karena waktu penguraiannya yang berbeda. Penimbunan sampah organik dan non organik bisa mengakibatkan terkumpulnya gas Methan yang bisa menyebabkan ledakan seperti di TPA Leuwigajah, Bandung pada 2005 silam.

Sudah selayaknya kita bertindak bijak terhadap masalah sampah plastik yang semakin hari semakin banyak. Karena semua yang kita lakukan hari ini, berdampak pada apa yang akan anak cucu kita terima di kelak kemudian hari.

Instagram : pmpakompos

Facebook : PMPA KOMPOS

Web: kompos.fp.uns.ac.id

Email : pmpakomposfpuns@gmail.com

Kontributor || Halimah (K-543) Sie Lingkungan Hidup, Herlina Tri Kumalasari (K-561)

Editor || A. Phinandhita P.

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan