Oleh : Yat Lessie
Jana Buana – IMT
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Afrizal, itulah nama pendaki amatir yang ramai diberitakan hilang sejak Sabtu 4 juli 2020, saat mendaki Gunung Guntur setinggi 2249 mdpl di Garut.
Beruntung, setelah 31 jam hilang, dicari oleh team SAR, akhirnya ditemukan kang Entis, seorang penjaga parkir di area tersebut. Pada hari minggu 5 juli 2020 jam 9 pagi, dengan keadaan yang sungguh mengejutkan, yaitu nyaris telanjang, hanya memakai celana dalam saja. Afrizal ditemukan di balik batu besar, dekat mata air Cikole.
Saat ditanya, apa yg terjadi, Afrizal hanya menggeleng tak tahu apa-apa. Bahkan kaget saat menyadari dirinya sudah terpisah dan tidak lagi bersama teman-teman seperjalanannya. Beruntung Minggu pagi itu, dia tersadar dan mendengar namanya diteriakkan berulang-ulang oleh kang Entis, sehingga bisa menjawab, dan segera diburu untuk diberi pertolongan awal.
Saat “menghilang” selama 31 jam, lalu menjadi sebuah cerita dramatis. Karena sesungguhnya menjadi sebuah batas tipis antara hidup dan mati. Batas redup antara pulang selamat, atau terpaksa digotong dalam kantung mayat.
Yang sering menjadi keanehan dalam kasus hipotermia, mengapa korban selalu cenderung untuk membuka bajunya. Padahal semua orang tahu, di gunung apalagi dalam bulan bulan Juli sampai Agustus di musim kemarau, temperatur pada malam hari umumnya sangat dingin, bisa dikisaran antara 1-5 C saja. Terus ngapain mereka buka baju? sebuah paradox.
Ada sebuah kasus yang bahkan lebih aneh. Seorang Lincoln Hall pendaki asal Australia yang terkena hipotermia, membuka bajunya di ketinggian 8000 mdpl, padahal suhunya –25°C. How come?
Di bawah ini, penulis kembali menyajikan cerita dramatis Miracles on Everest-nya Lincoln Hall tadi. Lengkap dengan argumen mengapa seseorang saat dikenai hipotermia, cenderung untuk melepaskan pakaian.
Lincoln Hall
Adalah pendaki asal Quensland Australia, yang di tahun 2006 kembali mencoba peruntungannya untuk mendaki mount Everest, simbol dari The Greatest Adventure on Earth. Setelah 22 tahun sebelumnya, bersama temannya, Greg Mortimer, tahun 1984, dia berhasil menginjakan kakinya di puncak tertinggi itu. Bedanya kali ini dia lakukan setelah usianya di atas 50 tahun.
Setelah 2 bulan melakukan aklimatisasi, dan mendaki secara bertahap mencapai pos demi pos, lalu sampailah pada momen yang paling krusial, berupa pendakian langsung menuju puncak, dari pos terakhir.
Semua berjalan sempurna, seperti yang dia katakan melalui telepon langsung pada Barbara istrinya. Cuaca cerah, dia didampingi 3 orang sherpa pemandu, kondisi fisik dan mental juga semua fit. Dari pos terakhir untuk mencapai puncak diperkirakan butuh waktu 9 jam. Sementara untuk turun dari puncak Everest, tidak boleh melebihi jam 2 siang, jika tidak ingin terjebak dalam cuaca dan kegelapan saat turun.
Pendakian dimulai tengah malam. Pada suhu dingin, es cenderung mengeras, sehingga resiko adanya longsoran salju bisa ditekan. Diperjalanan dia menemukan 2 jenazah pendaki, satu dari Rusia dan satunya lagi David Hunt dari Inggris.
Keduanya tak tertolong dan jenazahnya dibiarkan tergeletak dipinggir jalur. Pertama karena kepercayaan penduduk disana yang tak boleh mengevakuasi jenazah sebelum 3 hari. Yang kedua, karena dimedan dead zone, jangan kata membopong jenazah, bahkan untuk membuat tubuh kita sendiri mampu bergerak pun, sudah sangat susah, karena tipisnya oksigen.
Semua sesuai rencana, setelah 9 jam pendakian, Hall dan kawan-kawan, berada di puncak tertinggi. Dengan gembira Hall menelpon istrinya, bahwa dia sukses mencapai puncak, dan “everything is allright” katanya. Satu-satunya yang jauh dari kesan “allright” adalah menuruninya. The most dangerous things in mountain climbing is to descend. Yang sangat berbahaya adalah ketika menuruninya, begitu postulatnya.
Saat naik, kita selalu punya dua opsi. Naik terus kalau kuat, dan turun lagi, jika kondisinya payah. Tapi saat turun, yang tinggal hanya satu opsi saja, yaitu anda harus turun lagi, titik.
Sedangkan satu-satunya alat untuk survival, adalah kecepatan. Karena tubuh kita butuh oksigen, berlama-lama pada daerah dead-zone, artinya cuma satu, yaitu kematian itu sendiri. The only risk is dead it self.
Kondisi baik-baik saat di puncak, dihadapkan pada fakta yang sesungguhnya, yang tidak sebaik perkiraan. Gaya gravitasi akan menyeret anda ke bawah, sehingga dibutuhkan otot-otot untuk menyangga tubuh agar jangan sampai limbung. Untuk itu otot butuh tenaga melalui hasil pembakaran dalam sel. Sementara untuk pembakaran dalam sel, dibutuhkan oksigen, dan oksigen inilah yang minim.
Kondisi berubah memburuk. Satu jam setelah menuruni puncak, Hall dihadapkan pada kenyataan pahit. Kekurangan oksigen membuat pembuluh kapiler di otaknya membesar dan mengeluarkan cairan. Otaknya membengkak terserang oleh radang otak akut. High Altitude Cerebral Edema (HACE), membuatnya limbung dan terjatuh. Halusinasi datang menyergap, ucapan meracau tak jelas, gerakan tubuh sulit dikontrol.
Pada kondisi yang semakin memburuk, team Hall dihadapkan pada the second step, berupa jurang sedalam 45 meter yang harus dituruni dengan rappelling. Usaha menurunkan tubuh Hall pada tebing ini, membuat seorang sherpa terluka parah, karena tertusuk oleh runcingnya ujung crampon sepatu. Namun ketiga sherpa ini dengan setia, terus berusaha menurunkan Hall dari ketinggian, karena hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan jiwa Lincoln Hall.
Namun fakta berkata lain, masih di daerah dead zone, HACE yang menyerang Hall tak lagi bisa dibendung, dinyatakan dalam kondisi koma. Jam 5 sore, atau 17 jam setelah awal pendakian, otaknya berhenti berfungsi, juga detak jantung dan pernafasan menghilang.
Setelah semua sherpa menungguinya selama 2 jam berikutnya, tubuh Hall harus ditinggalkan sendiri. Karena jika tidak maka resiko kematian akan beralih pada para sherpa pendamping, yang juga sudah kehabisan oksigen.
Saat berita kematian Hall ini tersebar ke seluruh dunia, semua berkabung. Barbara dan kedua putra remajanya, hanya mampu menangis dan diam dalam kebisuan yang memilukan.
Keajaiban Terjadi
Malam itu muncul awan menggumpal di dead zone, sehingga suhu tertahan di minus 25°C, dan tidak jatuh lebih rendah ke minus 40°C seperti biasanya. Di tengah malam Hall itu tiba-tiba terjaga, dengan kesadaran yang pulih. Ada sesuatu di bawah sadarnya yang mengharuskan dia untuk bertahan untuk tetap hidup, sehingga dia mempraktekan bernapas dengan cara yoga.
Pagi harinya, dia merasakan tubuhnya yang beku kembali memanas. Saking kegerahan, malahan dia membuka jacketnya.
Aneh, pada suhu sedingin itu, 13 jam tanpa oksigen, tanpa perlindungan tenda, kena hypotermia, frostbite di sekujur tubuh, otak kena HACE, dehidrasi luar biasa, dia malahan merasa kegerahan. Inilah yang disebut dengan “Paradoxical Undressing In Fatal Hypothermia“. Paradoks melepas pakaian, saat diserang dinginnya hypotermia akut, tapi tubuh merasa kegerahan. Hal ini banyak kita jumpai pada kasus kasus serangan hipotermia, di mana banyak jenazah ditemukan dengan tanpa pakaian sewajarnya.
Bisa dijelaskan, seperti api lilin yang menyala membesar, di saat-saat terakhir sebelum kehabisan bahan bakarnya. Tubuh pada saat-saat terakhir, melepas energi yang tersisa. Mengalirkannya pada bagian tubuh terluar (extrimities), yang selama ini tak dialiri darah dan kena frostbite. Sehingga Hall mengalami paradoks kegerahan. Hanya tinggal satu langkah lagi, sesudah itu, Hall akan mengalami kematian sesungguhnya, karena energinya benar-benar sudah habis, tak ada lagi yang tersisa.
Untungnya, malam itu sebuah team lain naik mendaki. Myles Osborne dengan 3 pemandunya sungguh terkejut menjumpai Hall di wilayah dead zone. Sehari sebelumnya, Myles sudah tahu bahwa Hall dinyatakan meninggal dunia di lereng Everest. 13 jam di daerah dead zone, atau 30 jam setelah keberangkatannya, tanpa oksigen, tanpa perlindungan, tanpa air, dalam suhu membeku, dan ternyata masih hidup, sungguh sebuah keajaiban. Kini dia menemukan Hall dengan jacket pelindung yang dilepas, berada tepat di bibir jurang.
Hall segera ditolong, jacketnya dikenakan lagi, pasokan oksigen kembali disisipkan, air minum diberikan. Semua sadar, mereka berlomba dengan waktu. Detik detik jam mengarah pada kematian Hall, dimana terlambat sedikit saja, maka nyawa Hall kali ini bakalan tak tertolong.
Base camp dikontak, semua terperangah mendengar bahwa Hall ternyata masih hidup. Dunia dan keluarga Hall di Australia bangkit lagi harapannya.
Setelah 4 jam berkutat untuk menyelamatkan nyawa Hall, bantuan 2 orang sherpa yang naik dengan membawa pasokan oksigen baru datang. Evakuasi Hall ke basecamp, menjadi cerita bersejarah. Sebuah keajaiban tentang daya survival manusia, yang sanggup bertahan pada kondisi paling ekstrim merebak ke seluruh penjuru dunia.
Dua buah kejadian, sama-sama “hilang” di kisaran 30 jam. Sama-sama kena hipotermia, dan dikenai sang paradox “striptease”. Yang satu di Gunung Everest dan satunya di Gunung Guntur, seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa satu-satunya hukum di alam hanyalah ketidakpastian belaka. Jadi sudah sewajarnya, satu-satunya gantungan kita hanyalah pada Dia, yang Maha Pasti saja.
Bersikap santun di alam, hormat pada sang ibu pertiwi. Tidak berkata kata sompral, tidak melamun seraya home sick, dan segala sesuatu sudah semestinya dimulai dengan doa dan niat yang bersih.
Sebuah pembelajaran kembali terulang.
Agar kita semua tetap bersikap waspada dan siaga, seraya berpijak pada kesadaran tentang kekinian dan kedisinian. (yl).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Foto || Nayla Shabiha
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)