Wartapalaindonesia.com, BANDUNG – Ratusan mahasiswa dan masyarakat penggiat konservasi dari berbagai daerah berkumpul di Gedung Manterawu Telkom University mengikuti sarasehan pencinta alam yang diselenggarakan PMPA (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ) Astacala Telkom University dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April setiap tahunnya.
“Salah satu tujuan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi kritis ekosistem saat ini khususnya di pulau Jawa kepada Pencinta Alam maupun aktivis konservasi dan lingkungan agar dapat menjalin kerja sama yang sinergis dan berkelanjutan dalam berperan menyelamatkan dan memulihkan ekosistem ,” tutur Ketua Pelaksana Niken Galuh Ramadhani di Bandung, Sabtu lalu.
Niken mengatakan, seminar nasional sarasehan pencinta alam merupakan yang pertama kali digelar Astacala, berawal dari ide reuni anggota Ekspedisi Harimau Jawa yang dilakukan 20 tahun silam.
Melalui tema “Pencinta Alam Menyelamatkan dan Memulihkan Ekosistem Pulau Jawa”, diharapkan muncul kesadaran Pencinta Alam untuk segera beraksi merumuskan gagasan-gagasan konkret yang dapat direalisasikan dalam menyelamatkan dan memulihkan ekosistem.
Walaupun bertemakan Pencinta Alam, peserta yang menghadiri acara terdiri dari berbagai latar belakang studi. ”Kami memang tidak hanya mengundang organisasi pencinta alam, tetapi juga kawan-kawan dari organisasi yang bergerak di bidang konservasi, penyelamatan satwa serta himpunan mahasiswa dari jurusan biologi, kehutanan, kedokteran hewan, .dll,” ungkap Niken.
Niken menyebutkan kegiatan sarasehan Pencinta Alam terdiri dari beberapa rangkaian, yaitu diskusi panel, workshop dan pemutaran film dokumenter, yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 20.00 WIB.
Dalam sesi diskusi panel Astacala menghadirkan narasumber dari Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS), Wahyu Giri Prasetyo selaku salah satu peneliti dalam Ekspedisi Harimau Jawa, Rosdi Bahtiar Martadi dari Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL), dan Eko Teguh Paripurno selaku pendiri Komunitas Pencinta Alam Pemerhati Lingkungan (KAPPALA) Indonesia, serta moderator oleh Siti Maimunah yang merupakan mantan Koordinator Nasional JATAM dan peneliti dari Sajogyo Institute.
Dalam pemaparan pertama oleh Sasmita Nugroho dari PDLKWS, Ia memamparkan keadaan ekosistem Jawa saat ini yang sebenarnya sudah tak layak lagi dihuni berdasarkan daya dukung lingkungan hidup (DDLH) penyediaan pangan dan air.
“Konsumsi menjadi salah satu permasalahan ekosistem. Ketersediaan air di Jawa sudah sangat timpang antara kebutuhan dan ketersediannya,” jelas Sasmita Nugroho.
Selanjutnya, Wahyu Giri Prasetyo atau yang akrab disapa Cak Giri, menjelaskan peran penting karnivor sebagai puncak rantai makanan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
Ia menceritakan pengalamannya berjuang bersama tim Ekspedisi Harimau Jawa untuk membuktikan keberadaan Harimau Jawa (panthera tigris sondaica) yang telah dinyatakan punah oleh WWF pada tahun 1996.
Selain itu, Ia juga menambahkan bahwa ada indikasi kekeliruan dalam menyatakan punah Harimau Jawa.” Sebuah spesies dinyatakan punah jika dia tidak ditemukan selama 2 kali jumlah masa hidupnya dengan penelitian intensif,” Cak Giri menambahkan.
Menurutnya Harimau Jawa yang memiliki masa hidup hingga 25 tahun, membutuhkan waktu 50 tahun untuk dinyatakan punah. Tercatat Harimau Jawa terakhir yang terlihat, berdasarkan penelitian Steidensticker & Soejono, adalah pada tahun 1976. Itu berarti pada tahun 2026 Harimau Jawa baru layak dinyatakan punah.
“Pernyataan punah harimau jawa berimplikasi pada ancaman alih fungsi dan status lahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Rosdi Bahtiar Martadi juga ikut menambahkan bagaimana ketika suatu spesies langka dinyatakan punah di suatu kawasan konservasi, pemerintah dapat dengan mudah menurunkan status kawasan tersebut menjadi kawasan produksi. Seperti yang terjadi di Tumpang Pitu saat ini, kawasan yang berjarak 4 km dari Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) sedang mengalami kisruh mengenai rencana pembukaan lahan penambangan emas.
“Padahal dalam kajian AMDAL tertuang bahwa kawasan Tumpang Pitu di dalamnya terdapat habitat bagi Macan Tutul Jawa yang statusnya kini terancam,” kata Rosdi Bahtiar Martadi.
Di sisi lain, Eko Teguh Paripurno memaparkan belakangan keterdesakan manusia untuk memenuhi kebutuhan menjadikan manusia makin gencar melakukan ekspolitasi alam. Asas keserasian dan kesetimbangan ditinggalkan.
“Dan, kita, Pencinta Alam, disadarai atau tidak, sebenarnya telah jauh hari memahami kebutuhan akan perlunya kseselarasan alam dan keselarasan lingkungan,” ucapnya.
Di Indonesia pada akhir tahun 1980, WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) lahir dimotori oleh para aktivis Pencinta Alam dengan semangat etika pengelolaan lingkungan dan sumberdaya bumi.
“Namun bagaimana perkembangan peran Pencinta Alam selanjutnya?” tanya Eko Tegoh yang juga merupakan pendiri Komunitas Pencinta Alam Pemerhati Lingkungan (KAPPALA) Indonesia.
Kemudian, tokoh yang juga menerima Sasakawa Award dari badan PBB ini mengajak Pencinta Alam untuk melihat kembali peran Pencinta Alam dalam menyelematkan dan memulihkan kembali keselarasan lingkungan.
“Jujur saja, nampaknya Pencinta Alam cenderung telah mengalami degradasi peran. Atau barangkali, telah mengalami reorientasi peran,” tuding Eko Teguh Purnomo.
Menurutnya Pencinta Alam saat ini bersikap hedonis. Pencinta Alam saat ini lebih suka melakukan ekspedisi-ekspedisi yang banyak manfaatnya untuk Pencinta Alam sendiri, tetapi rendah manfaat bagi alam dan lingkungan.
Di akhir perbincangan, Siti Maimunah selaku moderator menyimpulkan bahwa kondisi Ekosistem di pulau Jawa, khususnya, pada saat ini sudah sangat kritis. Berbagai permasalahan lingkungan banyak bermunculan, dan hingga saat ini masih belum menemukan penyelesaian.
“Lalu ditengah banyaknya Pencinta Alam saat ini, peran apa yang dapat kita lakukan sebagai Pencinta Alam ?” tanyanya.
Setelah selesai diskusi panel, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop Tematik. Sesi workshop ini merupakan media pengaktualisasian peserta seminar setelah sebelumnya mendapatkan gambaran-gambaran mengenai situasi dan kondisi ekosistem di pulau Jawa.
Workshop tematik dibagi menjadi tujuh kelompok yang terdiri dari 10-15 orang dan dipandu oleh seorang fasilitator. Selain para panelis sebelumnya, Astacala juga mendatangkan fasilitator yang berasal dari tokoh-tokoh ahli di bidangnya, antarai lain Yayat Hidayat selaku pendiri Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (FK-KBPA-BR), Dadang Sudardja mantan Dewan Nasional WALHI, Dedi Kurniawan Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) dan Adang Kusnadi selaku ketua Dewan Daerah WALHI JABAR.
Menurut Hilyah Abqoriyah, salah satu peserta sarasehan, workshop tematik berhasil membuat topik pembahasan yang cukup luas dan berat menjadi ringan dan mudah dipahami bagi khalayak meskipun bukan dari latar belakang keilmuan yang sama.
“Saya mendapatkan banyak hal dari kegiatan ini. Konservasi yang saya pikir hanya sebatas soal pencegahan, pembaharuan, ternyata tidak sekecil itu,” ungkap Hilyah mahasiswa Co-As Kedokteran Hewan IPB.
Dia juga berharap setelah pulang dari acara ini, peserta akan meningkat awareness terhadap lingkungan sekitar, semakin terpacu untuk melakukan one little action di sekelilingnya dan menularkan semangat konservasi kepada masyarakat di luar sana.
Kontributor : Wahyu Ramadhan
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)