GEMPA IAIN Bengkulu dan Gempa Bumi di Lombok

Foto bersama dengan masyarakat Lombok di Posko Gabungan Relawan Peduli Gempa Lombok. (WARTAPALA INDONESIA/ Asef Irawan, GEMPA IAIN Bengkulu)

Wartapalaindonesia.com, HUMANISME – Saya relawan perwakilan dari Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (GEMPA) IAIN Bengkulu pada tanggal 22 Agustus 2018 tiba di Pulau Lombok NTB, tepatnya di RSUD Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Di sana saya bergabung dengan posko gabungan relawan peduli gempa Lombok yang berlokasi di depan RSUD Tanjung Lombok Utara. Berbagai macam bantuan telah dilakukan dengan semaksimal mungkin.

Mulai dari membantu pihak TNI dan BASARNAS untuk mengevakuasi warga yang tertimpa bangunan-bangunan, ada yang mengambil air bersih meggunakan truk untuk dibagikan ke pos pengungsi, ada yang melakukan pendataan ke dusun-dusun guna untuk mengetahui jumlah KK, jumlah jiwa, riwayat penyakit yang di derita, jumlah kerusakan, dan jumlah korban jiwa. Semua upaya telah dilakukan untuk membantu saudara-saudara yang sedang ditimpa bencana gempa bumi.

Pada tanggal 26 Agustus 2018 posko gabungan relawan peduli gempa lombok pindah ke dusun Desantreng, kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Karena kondisi di Tanjung sudah mulai kondusif jadi dari posko gabungan pindah lokasi ke Bayan, sebab di Bayan sendiri masih kurang bantuan, di kecamatan Bayan ada 9 desa : Akar-akar, Anyar, Bayan, Karang Bajo, Loloan, Mumbul Sari, Sambik Elen, Senaru, Suka Dana.

Di kecamatan Bayan tak hanya gempa yang mereka alami, selain rumah mereka hancur karena gempa mereka juga mengalami kekurangan air bersih. Karena pipa di sumber mata air yang berada di kaki Gunung Rinjani tertimpa longsor yang mengakibatkan warga kekurangan air bersih.

Dari tim posko gabungan juga ikut bergabung membantu tim yang lain untuk memperbaiki pipa yang hancur tertimbun longsoran tersebut. Saya pribadi pun tak tega melihat masyarakat Lombok, terutama yang berada di kawasan Lombok Utara. Tak hanya saya, dari teman-teman posko pun mungkin juga merasakan demikian.

Gempa yang datang silih berganti setiap harinya, menghancurkan tempat tinggal mereka tanpa ada toleransi, belum lagi ada yang sampai kehilangan anggota keluarganya. Hanya bisa menerima dan ikhlas akan keadaan yang terjadi, semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap harinya saya bertugas melakukan pendataan ke dusun-dusun yang ada di kecamatan Bayan, mewawancarai sekaligus meminta data yang ada di dusun tersebut, mulai dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT, hingga ke masyarakatnya langsung demi mendapatkan data yang benar-benar valid.

Tidak sedikit dari warga yang saya temui mencoba mengeluarkan keluhan yang mereka punya dan saya sangat menerima itu dengan baik, mencoba untuk mendengarkan dan menempati hati saya pada suasana yang terjadi pada saat itu.

“Jika kami dikasih pilihan beras atau air, kami semua memilih air mas, kalo untuk makan mah bisa minta sama kerabat atau tetangga. Di sini susah sekali untuk masalah air, kalo beli juga itu 2000 liter harganya 100-200 ribu rupiah, tergantung jarak yang ditempuh. Itu juga bertahan hanya 3-4 hari mas. Ditambah lagi semenjak terjadinya gempa ini suhu di sini lebih panas dari biasanya,’’ ungkap salah seorang warga yang saya temui.

Suhu disana memang luar biasa panasnya mana lagi di dusun-dusun masih ada jalan yang belum aspal debu-debu tebal sudah menjadi makanan setiap harinya. Banyak juga warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan disebabkan dari debu yang mereka hirup, penderitanya biasanya anak-anak dan lansia.

Berbagi satu sama lain, sedikit banyaknya, harus bisa sama rata dalam penerimaan logistik dari para penyumbang baik itu makanan, pakaian, bahan-bahan pokok dan terpal. Cukup atau tidaknya yang penting sama rata.

Masyarakat Lombok adalah masyarakat yang mandiri, mereka mempunyai semangat hidup yang kuat, bangkit dari suatu kesengsaraan yang membuat mereka tertatih untuk bangkit.

Untuk saat ini sedikit demi sedikit sudah mulai stabil, dari tim relawan sendiri sudah berupaya membantu warga dalam proses pemasangan pipa di sumber mata air, agar mereka tak mengalami kekeringan lagi, sudah cukup mereka kehilangan tempat tinggal, di landa kesusahan.

Semaksimal mungkin semuanya akan membantu membangkitkan kembali kebahagiaan masyarakat Lombok yang sempat hilang karena dilanda bencana gempa bumi.

Kontributor || Asef Irawan, GEMPA IAIN Bengkulu

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan