WartapalaIndonesia.com, SOLO – Grand Launching Bumi Berseru Fest (BBF) 2025 yang diselenggarakan di Beams Coffee and Eatery, Colomadu, Karangnyar, berlangsung meriah, penuh semangat dan diikuti ribuan peserta dari Sabang sampai Merauke. Sabtu, 23 Agustus 2025.
Momen pembukaan ditandai dengan pemukulan kentongan bersama Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ary Sudijanto, Prasetyaningsih Soewarno dari DLH Surakarta, dan Hery Susanto selaku SGM Social Responsibility Telkom Indonesia.
Kentongan, alat komunikasi tradisional Jawa, dulunya dipukul untuk memberi tanda bahaya atau seruan penting. Kini, dalam BBF 2025, kentongan menjadi simbol alarm kesadaran lingkungan: bumi sedang berseru, dan kita diminta untuk mendengarnya.
Grand Launching BBF 2025 yang mengusung tema “Tanah, Air, Kita: Menapaki Bumi, Menyemai Perubahan”, digelar secara hybrid – tatap muka di Solo sekaligus disiarkan melalui Zoom.
Ribuan peserta dari Sabang sampai Merauke terhubung secara daring, membuktikan semangat menjaga bumi tidak mengenal sekat ruang maupun jarak.
Dalam sambutannya, Ary Sudijanto menekankan urgensi aksi bersama menghadapi perubahan iklim.“Kita tidak lagi punya waktu untuk menunda. Bumi Berseru Fest adalah bukti bahwa kolaborasi masyarakat, komunitas, dan dunia usaha bisa menjadi energi besar untuk menyelamatkan bumi,” ujarnya.
Sementara itu, Hery Susanto dari Telkom Indonesia menegaskan peran dunia usaha dalam keberlanjutan.“Bumi Berseru Fest adalah ruang kolaborasi. Inovasi hijau dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan. Bersama, kita dorong lahirnya solusi nyata untuk Indonesia yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Program BBF 2025: Lebih Besar, Lebih Inovatif
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Dian Lestari (Program Leader Bumi Berseru Fest). Ia menggambarkan bagaimana BBF 2025 berkembang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika di BBF 2024 hanya ada 27 proyek yang didanai, maka tahun ini jumlahnya hampir dua kali lipat: 50 proyek tahap awal siap mendapat dukungan. Tidak berhenti di situ, proyek-proyek yang berhasil membuktikan dampaknya akan kembali didanai di tahap kedua.
Selain kuantitas, kualitas juga diperluas lewat kategori baru di bidang Teknologi Hijau & Inovasi Berkelanjutan. Dengan demikian, BBF 2025 kini menghadirkan empat kompetisi utama:
- Panggilan Aksi untuk Bumi – kompetisi proposal program lingkungan bagi komunitas, mapala, sispala, hingga organisasi lokal.
- Alam dalam Lensa – lomba fotografi di Instagram, di mana setiap unggahan foto sama dengan sumbangan 1 bibit pohon untuk reforestasi hutan Indonesia.
- Inovasi Eco Produk – ajang kreasi produk lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
- Teknologi Hijau & Inovasi Berkelanjutan – kompetisi ide berbasis teknologi tepat guna yang mendukung keberlanjutan.
“BBF 2025 adalah panggung untuk semua. Tidak peduli dari mana asalmu, apa latar belakangmu, semua orang bisa ikut berkontribusi menjaga bumi,” ujar Dian Lestari penuh semangat.
Semua Terhubung dan Bersuara
Sejak pagi, pengunjung sudah memadati Exhibition Area. Mereka disambut dengan Pameran Eco Product, Aksi untuk Bumi, hingga Pameran Alam dalam Lensa. Setiap sudut menawarkan perspektif baru tentang bagaimana masyarakat bisa berkontribusi menjaga lingkungan, mulai dari produk ramah lingkungan, dokumentasi visual, hingga cerita aksi komunitas yang masuk dalam Wall of Fame.
Di sisi lain, Interactive Activity Area menjadi tempat favorit anak muda. Ada Wishing Tree, tempat pengunjung menuliskan doa dan harapan untuk bumi di secarik kertas, lalu menggantungkannya di pohon harapan.
Ada pula Game Corner yang membuat edukasi lingkungan jadi lebih seru, serta Konsultasi Registrasi BBF yang dipenuhi calon relawan dan komunitas yang ingin bergabung.
Highlight utama ada di Environment Stage. Narasumber yang hadir bukan nama sembarangan. Prigi Arisandi, (aktivis lingkungan dan owner Ecoton), mengingatkan audiens bahwa krisis lingkungan tidak bisa lagi ditunda.
“Kalau kita hanya menunggu kebijakan tanpa bergerak dari diri sendiri, bumi akan kalah cepat. Gerakan kecil kita jauh lebih berarti daripada diam,” tegasnya.
Tak kalah inspiratif, Sabrina Farah Salsabilla (aktivis lingkungan sekaligus pendiri @reservoair), berbicara tentang pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga sumber daya air.
“Air bukan hanya sumber hidup, tapi juga sumber konflik jika tidak kita rawat. Tugas kita adalah memastikan anak cucu kelak masih bisa merasakan air bersih,” ungkapnya.
Selain itu, hadir juga perwakilan komunitas terpilih dari ajang Best of the Best BBF 2024, yaitu Firdaus dari Komunitas Bana Sentra dan Ferry dari Komunitas Seagrass.id. Keduanya berbagi pengalaman bagaimana gerakan komunitas lokal mampu memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Meski inti acara berlangsung di Solo, atmosfer semangat juga mengalir ke layar ribuan peserta daring. Format hybrid ini dipilih agar masyarakat dari berbagai penjuru nusantara tetap bisa berpartisipasi aktif.
Dari Sabang, mahasiswa pecinta alam ikut menyapa lewat chat Zoom. Dari Papua, komunitas lokal berbagi ide soal konservasi hutan adat. Semua terhubung, semua bersuara, menandakan bahwa bumi benar-benar bisa jadi panggung bersama.
Di akhir acara, seluruh narasumber sepakat bahwa BBF 2025 bukan hanya festival atau lomba, tetapi gerakan nasional.
“Harapan kami, kesempatan ini digunakan semaksimal mungkin oleh masyarakat luas. Mari kita bersama-sama menapaki bumi dengan bijak, menyemai perubahan, dan memastikan bumi tetap bersuara untuk generasi mendatang,” tutup Dian Lestari.
Info lebih lanjut silahkan hubungi 📌 Website: bumiberserufest.id
📌 Instagram: @telkomsustainability
Kontributor || Abdul Aziez, WI 200059
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)