Oleh : Dr. Irwan Wisanggeni, M.Si.
Dosen dan Penjelajah
Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Kali ini saya ingin bercerita soal penjelahan ke Gunung Sindoro (3.153 mdpl) via Desa Kledung, Wonosoboh, Jawa Tengah.
Penjelahan kali ini saya lakukan bersama Gen Z yang memberi nama kelompoknya Badak Gunung. Mungkin mereka terinspirasi dari binatang badak yang hidup di Ujung Kulon atau dari nama Kandang Badak, salah satu nama shelter di Gunung Gede-Pangrango.
Binatang badak memang keren, selain langkah juga tenaganya sering dijadikan lambang kekuatan yang dasyat. Ya. semoga demikian deh.
Sindoro memiliki pemandangan yang cukup menawan, dengan vegitasi yang masih terjaga. Di lereng bawah dikonversi menjadi lahan pertanian yang terdiri dari ladang sayur sawi, kubis dan pohon jati, juga cemara.
Semakin tinggi vegetasi berubah menjadi hutan Dipterocarpaceae yang di dominasi oleh pohon-pohon besar seperti Shorea Javanica dan Dipterocarpus Retusus.
Lalu jika mendaki lebih tinggi lagi kita akan memasuki jenis tumbuhan paku-pakuan dan lumut yang tebal, dan tentunya bunga menawan hati Edelweis, bunga ikonnya para petualang ketinggian.
Vegitasi masih terjaga dengan baik sehingga bisa dinikmati keindahan oleh para pendaki yang mengerti indahnya flora. Kita sangat respek kepada pengelola kawasan Gunung Sindoro karena berjuang untuk menjaganya.
Pendakian di bulan Februari 2026 memiliki tantangan sendiri karena akan menghadapi curah hujan yang tinggi yang menciptakan udara kian lembab.
Kemungkinan akan hujan sekitar 56 %, suhu udara sekitar 15 -20 derajat celcius. Biasanya angin yang bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan 10-15 mph akan bertambah menjadi 30-33 mph.
Teori cuaca ini ternyata benar harus dihadapi tim Badak Gunung saat berkemah di Sunrise Camp ketinggian sekitar 2.423 mdpl kami diterjang badai angin dan hujan deras sehingga tenda-tenda kami melengkung namun tidak roboh.
Kewalahan kami dibuatnya bahkan beberapa tenda mengalami kebocoran akibat derasnya hujan angin atau tendanya berusia sudah tua, setua yang menulis artikel ini.
Kami bertahan dengan terus berdoa, dan berbuat sebisanya dalam tenda agar tetap eksis dan selamat tentunya.
Memang penjelahan ke alam bukan perkara mudah dan tanpa persiapan, semua perlu direncanakan dengan matang, logistik, fisik dan perlengkapan. Semua tak boleh diremehkan.
Tanpa bekal pengetahuan pendakian karena akan berakibat fatal seperti kejadian baru-baru ini banyak menelan korban di gunung karena meremehkan persiapan yang cermat.
Semoga para pendaki tua dan pendaki muda terus mengedukasi kepada mereka yang mau menjelajah ke alam luas dengan persiapan yang matang dan cermat, agar dapat menghadapi risiko yang dapat terjadi tiba-tiba.
Jangan pernah berhenti menjelajah ya… Salam lestari dan salam rimba. Tabik. (IW).
Foto || Badak Gunung
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)