Hutan Hujan Tropis, si Hijau Penyelamat Bumi

Suasana Danau Nyadeng, Merbabu, Kalimantan Timur. Foto oleh : Black Borneo Expedition 2015. (WARTAPALAINDONESIA/ EIGERIAN)

Wartapalaindonesia.com, LINGKUNGAN – Tingkat karbondioksida di dunia beberapa tahun belakangan cukup mengkhawatirkan.

Hal itu dibuktikan dengan peristiwa cuaca ekstrem yang baru-baru ini terjadi, seperti badai Dahlia di Indonesia, air terjun Niagara yang membeku di Amerika Serikat, hingga turun salju di padang gurun Sahara.

Karbondioksida memegang peranan penting dalam menstabilkan kondisi cuaca. Bila tingkat karbondioksida terus meningkat, maka peristiwa global warming serta pencemaran udara tidak dapat dihindari.

Gas Karbondioksida banyak dihasilkan oleh asap kendaraan, pabrik, hutan yang terbakar, orang yang membakar sampah, hingga orang yang merokok.

Walau beberapa teknologi telah dikerahkan untuk mengurangi kadar gas karbondioksida di bumi, namun hal tersebut tidaklah memberikan efek yang signifikan.

Media alam sendiri dan perilaku kepedulian manusia terhadap lingkunganlah yang mampu mengurangi efek dari gas karbondioksida tersebut.

Salah satu media alamnya, yaitu Hutan Hujan Tropis yang banyak ditemukan di Indonesia, antara lain di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.

Hutan Hujan Tropis adalah tipe hutan tropis yang tingkat curah hujannya tinggi yaitu lebih dari 1.200 mm per tahun, memiliki musim kering yang pendek, bahkan di beberapa tempat tidak pernah mengalami musim kering.

Mungkin karena hal tersebut, tipe hutan ini disebut hutan selalu basah (everwet) atau selalu hijau (evergreen).

Hutan Hujan Tropis dikenal sebagai paru-paru dunia. Diperkirakan sekitar 40 persen produksi oksigen dihasilkan dari hutan ini.

Tak hanya memproduksi okisgen, namun jenis hutan tropis ini merupakan tempat penyimpan cadangan karbon dunia.

Maka hutan hujan tropis sangatlah membantu dalam menekan kadar karbondioksida di bumi.

Jika terjadi kerusakan pada hutan ini, maka akan menyebabkan dampak yang serius bagi keberlangsungan maklhuk hidup.

Oleh karena itu, kita sebagai maunsia yang berakal, seharusnya lebih menyadari dan turut aktif menjaga lingkungan.

Cintailah hutan beserta lingkungannya sama seperti kita mencintai diri sendiri, karena kita dan alam adalah satu.

Dan keindahannya adalah anugerah, yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk dijaga dan dirawat.

Kontributor : EIGERIAN

Editor : Jelita Sondang

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: