Identifikasi Flora Fauna di 110 Km Sungai Citarum Hilir

Caption foto: Lutung (Trachypithecus auratus) yang masih ada di Muara Bendera-Tanjung Karawang. (WARTAPALA INDONESIA/ Willy Firdaus)

Wartapalaindonesia.com, KARAWANG – Ketika akhir musim penghujan saat banjir di bantaran Sungai Citarum telah surut, maka akan banyak para pemancing berjejer di sepanjang alirannya. Bukan tanpa sebab para pemancing tersebut mencoba peruntungan di Sungai Citarum, karena saat banjir surut maka sungai akan banyak ikannya.

“Para pemancing di Rengasdengklok sudah menanti moment ini, dari pagi hingga sore mereka sudah berjejer memancing ikan,” tutur Tita, salah satu remaja bantaran Citarum Hilir. Dan momentum banyaknya para pemancing di Sungai Citarum Hilir dimanfaatkan oleh dua remaja untuk mengidentifikasi ikan endemik yang tersisa.

Sungai Citarum Hilir sendiri merupakan bagian dari Sungai Citarum yang pernah dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia. Namun setelah pemerintah pusat dan daerah menggelar program pemulihan, kondisi Sungai Citarum mulai membaik.

“Citarum Hilir bagian dari 269 KM Sungai Citarum, namun segment hilir ditarik dari titik Bendung Walahar di Karawang hingga Muara Bendera di Bekasi sepanjang 110 Km,” jelas Tita, selaku Manajer Ekspedisi.

Menurut Tita kenapa segment hilir dihitung dari Bendung Walahar, karena Citarum setelah Walahar hanya dianggap sebagai badan sungai untuk membuang limpasan air berlebih dari hulu dan tengah ke laut.

“Kami tidak melakukan penangkapan ikan atau fauna lain, bahkan untuk flora pun kami selektif untuk identifikasinya sehingga tidak merusak yang tersisa,” ujar Tita ketika menjelaskan metode identifikasi yang dilakukannya.

Tita Sari bersama Ratu Almadaniah merupakan anggota Bara Rimba, yaitu organisasi penggiat alam yang ada di Rengasdengklok- Karawang. Dimana sedang melakukan ekspedisi dalam rangka identifikasi flora fauna di Sungai Citarum segment hilir.

“Setiap pagi dan sore kami datangi para pemancing antara Bendung Walahar sampai ke Rengasdengklok untuk mendata ikan apa saja yang berhasil mereka tangkap,” jelas gadis ini.

Dari hasil identifikasi ikan di sepanjang 110 Km Citarum Hilir selama 6 bulan, didapatkan 10 jenis ikan yang telah teridentifikasi. Total 10 jenis ikan tersebut tidak semuanya endemik Sungai Citarum, ada dua jenis ikan yang bersifat invasive alien species atau spesies asing yang mempengaruhi habitat ikan lainnya. Dua jenis ikan invasive tersebut adalah Pterygoplichthys pardalis (ikan sapu-sapu) dan Oreochromis niloticus (ikan nila).

Koridor sungai antara Bendung Walahar hingga Tanjung Pura diketahui sudah dikoloni secara massif oleh jenis ikan nila. Hal ini disimpulkan dari hasil tangkapan para pemancing yang dominan mendapatkan ikan jenis tersebut. Sedangkan ikan sapu-sapu memiliki ukuran yang sangat besar dan secara acak ada di semua koridor Citarum Hilir, hal ini dimungkinkan karena banyaknya makanan bagi pertumbuhannya.

“Sangat mengerikan ketika kita tau bahwa ikan-ikan invasive tersebut telah massif hidup di Citarum Hilir, namun secercah harapan masih kami temui,” kata Tita sambil menunjukkan beberapa jenis ikan endemik yang masih ditemuinya.

Kedua remaja tersebut masih menemukan Macrobrachium rosenbergii (udang galah), Mystus nigriceps (ikan keting), dan dua jenis ikan baung (Hemibagrus nemurus dan planiceps). Bahkan juga masih banyak ditemukan dua jenis ikan tawes (Barbonymus altus dan gonionotus) di sepanjang Citarum Hilir. Pada Muara Citarum sendiri ditemukan satu jenis kepiting (Parathelphusidae sp) dan ikan golodog (Periophthalmodon schlosseri).

Dan yang paling special dari identifikasi ikan di Sungai Citarum Hilir, ditemukannya ikan belida atau Notopterus notopterus dan juga ditemukan ikan ompok atau Ompok bimaculatus. Menurut IUCN (The International Union for Conservation of Nature) ikan jenis Notopterus notopterus masuk dalam kategori resiko rendah, sementara Ompok bimaculatus masuk dalam kategori hampir terancam.Untuk ikan belida walaupun kategorinya resiko rendah, namun penemuan ikan ini di Sungai Citarum sangat special disaat masih banyak pencemaran terjadi. Apalagi untuk ikan ompok yang status konservasinya sudah hampir terancam dan mendekati kerentanan punah. Tita menitipkan ikan belida (Notopterus notopterus) kepada Komandan Distrik Militer Letkol Inf. Endang Sumardi (0604 Karawang).

Fauna Terancam Punah di Sungai Citarum Hilir

“Bukan hanya Notopterus notopterus danOmpok bimaculatusfauna yang terancam kepunahannya di Sungai Citarum Hilir. Namun hasil identifikasi kami ada lima jenis lainnya yang saat ini kondisi konservasinya terancam kepunahan,” jelas Tita kepada Media Wartapala Indonesia.

Tita menunjukkan lokasi saat melihat dan memotret burung cerek jawa (Charadrius javanicus) di Desa Amansari Kec.Rengasdengklok. Lokasinya tepat di bantaran Sungai Citarum dan burung tersebut sedang mencari makan diantara para pemancing yang sedang asik memancing sore itu. Burung cerek jawa masuk kategori hampir terancam menurut IUCN, bentuknya yang kecil dengan kaki jenjang dan bulu kecoklatan hampir tidak terlihat jika tak teliti.

Sementara untuk empat fauna lainnya yang terancam punah di Sungai Citarum Hilir ditemukan di Muara Bendera–Tanjung Karawang. Tiga diantaranya termasuk rentan (vulnerable) menurut IUCN, bahkan dua diantara tiga hanya ada di muara Sungai Citarum sebagai habitat alami terakhir sepanjang Pantai Utara Jawa.

“Sekarang hanya tersisa satu koloni lutung (Trachypithecus auratus) antara 30-40 ekor mendiami lahan sempit seluas 5 Ha, kalau tidak ada penyelamatan lebih lanjut maka dikhawatirkan kedepan seluruh lutung di Pantai Utara Jawa akan punah,” tutur Tita.

Kekhawatiran Tita ini berdasarkan sudah punahnya lutung di TWA Muara Angke, bahkan kucing bakau (Prionailurus viverrinus) pun bernasib sama dan Muara Bendera sekarang satu-satunya habitat yang masih dihuni.

“Dua lainnya adalah Amblonyx cinerea (berang-berang) yang juga berstatus rentan, dan burung bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang berstatus genting (endangered) selangkah lagi menuju punah,” pungkasnya.

Fauna-fauna eksotis ini selangkah menuju gerbang kepunahan di Sungai Citarum jika tidak ada tindakan konservasi dari pemerintah dan masyarakat. Tita bersikeras bahwa penaikan status kawasan di Muara Bendera–Bekasi sangatlah penting dilakukan untuk menjaga keberlangsungan habitat fauna yang terancam punah. Ditambah beberapa fauna hanya memiliki habitat terakhir di Muara Bendera seperti Trachypithecus auratus dan Prionailurus viverrinus.

Serangan Invasive Alien Species di Sungai Citarum Hilir

Selain menunjukkan berbagai fauna yang hampir terancam kepunahan, Tita dan Ratu juga menyampaikan fakta yang mengejutkan.

“64% tanaman atau tumbuhan yang ada di sepanjang bantaran Sungai Citarum Hilir sudah bukan tanaman asli Nusantara bahkan Citarum itu sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya dari puluhan tanaman yang didata telah berhasil diidentifikasi 42 jenis dan 39 jenis lainnya telah diketahui asalnya. Dan hanya ada 14 jenis yang endemik Nusantara dari 39 jenis hasil identifikasi, 25 jenis lainnya merupakan invasive alien species yang massif.

Invasive tanaman asing ini juga diikuti oleh masuknya 16% serangga invasive alien species dan mengancam tanaman endemik serta tanaman pangan masyarakat. Dari puluhan serangga yang terdata telah teridentifikasi 23 jenis dan 4 diantaranya hanya sampai tingkat genus. Terdapat 3 jenis serangga invasive yaitu Agraulis Vanillae, Charidotella Sexpunctata, dan Macrodactylus subspinosus. Secara hipotesa kedatangan serangga-serangga invasive ini terbawa atau dibawa saat datangnya tanaman invasive.

“Datangnya tanaman asing ke Sungai Citarum sudah sangat lama terjadi, yaitu saat bangsa Eropa mulai menjelajah dan menjajah ke Pulau Jawa. Seperti Passiflora Foetida (rambusa) dan Jatropha Gossypifolia L (jarak merah) yang asli Amerika Latin datang pada masa 1800an,” jelas Tita.

Para penjelajah Eropa tersebut awalnya berniat baik dengan membuat taman atau memperkenalkan tanaman baru yang bermanfaat ke Nusantara. Namun di Sungai Citarum terutama segment hilir, tanaman-tanaman tersebut tumbuh massif mengambil alih habitat selama ratusan tahun.

Tanaman asli Sungai Citarum Hilir sendiri hanya tersisa Calotropis gigantea, Dioscorea bulbifera, Nauclea orientalis L (gempol) dan Senna siamea (johar).

“Dua tanaman yang disebut terakhir bahkan menjadi toponim nama daerah di Karawang, ada Situ Gempol di Karawang Barat dan Pasar Johar di Karawang Timur,” kata Tita.

Kekhawatiran Sungai Citarum Hilir kedatangan tanaman jenis invasive alien species disampaikan Tita ketika marak terjadi penanaman atau penghijauan dibantaran Sungai Citarum.

“Dengan pola penghijauan yang mendatangkan tanaman bukan habitat Citarum serta menghilangkan pohon endemik, maka akan berdampak pada munculnya serangga invasive dan hal ini harus menjadi perhatian,” tutupnya.

Kontributor || Willy Firdaus, WI 170016

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang ditemukan di koridor Citarum Hilir.
Burung cerek jawa (Charadrius javanicus) yang terlihat di Desa Amansari Kec. Rengasdengklok, tepat di bantaran Sungai Citarum.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: