Ini Tujuan Malimpa UMS Ekspedisi Ke Gunung Chimborazo Di Equador

Caption foto : Semua anggota tim ekspedisi Malimpa ke   Gunung Chimborazo,  selama 6 bulan terakhi diberi pelatihan fisik dan pembekalan lainnya. Termasuk videografi, fotografi, dan kemampuan bahasa asing. (WARTAPALA INDONESIA / Iqbal Nurri Anam)

WartapalaIndonesia.com, Surakarta – Jika tak ada aral melintang, Mahasiswa Muslim Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Surakarta (Malimpa UMS), pada bulan Oktober 2022, akan memberangkatkan tim ekspedisi pendakian ke Gunung Chimborazo di Equador.

Diterangkan oleh Ketua Umum Malimpa UMS, Yuda Adi Prasetyo, tim yang diberangkatkan bernama Malima UMS Indonesia Expedition (MUIE). Selama 6 bulan terakhir, semua anggota tim sudah diberi berbagai latihan dan pembekalan keterampilan. Antara lain berupa pembekalan fisik yang intens setiap hari Senin – Sabtu.

“Selain pembekalan fisik, anggota tim ekspedisi juga dibekali bermacam-macam keterampilan. Diantaranya teknik pendakian gunung es, pertolongan pertama penyakit ketinggian, videografi dan fotografi, kemampuan bahasa asing dan masih banyak lagi,” terang Yuda Adi Prasetyo.

Terkait pemilihan Gunung Chimborazo sebagai sasaran ekspedisi Malimpa UMS, Yuda Adi Prasetyo menjelaskan, selama ini masyarakat luas hanya tahu gunung tertinggi di dunia adalah Gunung Everest. Belum banyak orang yang tahu jika gunung tertinggi di dunia justru Gunung Chimborazo di Ekuador, yang berada di jajaran Pegunungan Andes. Bukan Gunung Everest di Pegunungan Himalaya.

Chimborazo berada satu derajat sebelah Selatan Khatulistiwa, sementara Everest hampir 28° Utara Khatulistiwa. Pasalnya, bumi bukan bola yang sempurna. Planet bumi lebih “tebal” di sekitar khatulistiwa. Hal inilah yang menjadikan Gunung Chimborazo sebagai daratan tertinggi di dunia di atas inti bumi.

Dari inti bumi lanjut Yuda Adi Prasetyo, Gunung Chimborazo menjulang setinggi 6.384,416 kilometer. Sedangkan Gunung Everest di angka 6.382,605 kilometer. Dari perhitungan ini terlihat dengan mudah, Gunung Chimborazo hampir 2 kilometer lebih tinggi dibanding Gunung Everest.

“Jika perhitungan dilakukan dari permukaan laut, Gunung Everest yang tingginya 8884 mdpl, memang unggul dibanding Gunung Chimborazo yang tinggi 6.268 mdpl. Tetapi jika dihitung dari inti bumi, Gunung Chimborazo adalah gunung tertinggi dunia diatas inti bumi,” imbuh Yuda Adi Prasetyo.

Lantaran Gunung Chimborazo merupakan daratan yang paling dekat dengan atmosfer, maka menjadi tantangan tersendiri tatkala mendakinya. Ketika siang hari, salju dan es akan mencair lebih cepat dibanding gunung-gunung tinggi di kawasan lain. Medan pendakian seperti ini tentu membutuhkan fisik yang prima.

“Medan pendakian Gunung Chimborazo sangat menantang. Dibutuhkan kemampuan fisik yang baik agar berhasil mencapai puncaknya. Inilah yang membuat kami menyiapkan banyak hal agat tim MUIE sukses sampai ke puncak Gunung Chimborazo,” jelas Yuda Adi Prasetyo.

 

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Nur Yatmi memaparkan, di Equador nanti tim MUIE selain mendaki Gunung Chimborazo, juga akan mempromosikan potensi seni, budaya, pariwisata Nusantara, serta melakukan studi etika dan kebiasaan berbusana masyarakat Ekuador.

Latar belakang anggota tim MUIE sebagai akademisi dan mahasiswa pecinta alam, menjadi dasar rangkaian program ini dibentuk. Hal ini juga sebagai rangsangan bagi pemuda Indonesia agar terus mengembangkan potensinya, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Nur Yatmi berharap, program MUIE turut menyemarakan Muktamar Muhammadiyah ke 48 yang akan dilaksanakan di Surakarta November mendatang. Juga sebagai “kado istimewa” yang dipersembahkan untuk almamater UMS yang sebentar lagi Milad ke 64.

“Malimpa UMS sadar, ekspedisi ini tidak mudah. Tantangannya sangat besar. Tetapi berbekal disiplin berlatih, persiapan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan semangat tinggi untuk mengibarkan merah putih, serta serta do’a ikhlas dari seluruh bangsa Indonesia. Insya Allah kami akan berdiri di puncak gunung tertinggi di dunia Chimborazo pada Oktober tahun ini,” pungkas Nur Yatmi. (AS).

Kontributor || Iqbal Nurri Anam
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.