Iwan ‘Kwecheng’ Irawan : Mendaki Untuk Hidup

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Mendaki bukan hanya tentang mencapai puncak dan berfoto selfie. Mendaki adalah bentuk rasa syukur terhadap Tuhan dan mempelajari nilai-nilai dalam kehidupan. Itulah arti mendaki bagi Iwan Irawan, atau biasa disapa Kang Kwecheng. Kang Kwecheng salah satu dari orang Indonesia yang berhasil mencapai puncak Everest pada 2012 silam.

Pengalaman Kang Kwecheng dalam kegiatan alam bebas sudah tidak diragukan lagi. Bergabung dengan organisasi WANADRI sejak Agustus 1993, Kang Kwecheng sudah mencapai puncak-puncak tertinggi di dunia. Seperti Everest (Nepal, Cina), Aconcagua (Argentina), Denali (Alaska), Elbrus (Rusia), Vinson Masif (Antartika), dan Cartenz (Indonesia). Di Indonesia, Kang Kwecheng juga sudah mendapat predikat sebagai 7 Summiter Indonesia atau orang yang sudah mencapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia.

Namun, Kang Kwecheng mendaki bukan untuk mengejar ambisi semata. “Saya sering mendaki, tapi untuk kepentingan kemanusiaan,” ujar pria berkucir itu sambil tersenyum. Kang Kwecheng kemudian bercerita tentang pengalaman mendakinya yang kebanyakan bertujuan untuk misi kemanusiaan. Seperti saat mendaki Gunung Merapi di Sumatera Barat tahun 1995. Pria asal Bandung itu hanya memiliki uang 15 ribu saja. “Saya punya waktu dan tenaga, tapi nggak punya uang. Nah, saya berdoa sama Tuhan, tolong gunakan tenaga saya untuk hal yang bermanfaat buat orang lain.”

Ditemui setelah acara Bincang-Bincang Film Everest pada hari Selasa, 17 November 2015 di Aula Garuda mukti Kampus C Unair, Kang Kwecheng bercerita tentang pengalamannya mendaki Everest sebanyak 2 kali. Pada tahun 1997, ia bersama rekan-rekannya dan tim Kopassus melakukan ekspedisi ke Everest untuk pertama kali. Namun, ia gagal mencapai puncak lantaran terkena AMS (Acute Mountain Sickness), yang memaksanya turun dari ketinggian sekitar 6500 mdpl.

Kegagalan mencapai Everest kala itu, membuat pria yang hobi panjang tebing itu lebih merenungi hidupnya. “Waktu itu keadaan buruk sekali. Saya harus turun. Saya ingat berbuat salah sama teman-teman saya, orang tua saya. Tapi dari situ saya mendapat titik balik kehidupan saya. Hidup nggak sekedar sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, tapi bisa bermanfaat buat orang lain.Kang Kwecheng menambahkan bahwa

kegagalan itu menunjukkan bahwa mendaki gunung bukan untuk menunjukkan ego dan ambisi. Tetapi untuk mendapat nilai-nilai kehidupan, melatih diri, dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Selain itu, menurut Kang Kwecheng, banyak hal yang di dapat saat mendaki gunung. Ayah satu anak ini menceritakan kisahnya setelah berhasil mencapai Everest tahun 2012 lalu. “Guide kami saat itu beragama Buddha. Dia mengajarkan kami tentang rasa hormat terhadap makhluk hidup, adat istiadat setempat. Dari situ saya seperti mendapat pencerahan dan saya pun mendaki dengan rasa tenang.”

Meskipun sudah mencapai puncak Everest, ternyata Kang Kwecheng masih menyimpan mimpi. “Mimpi saya ke Hkakabo Razi. Ini untuk prestasi Indonesia dan dunia. ”Perlu diketahui, Hkakabo Razim erupakan puncak tertinggi di Asia Tenggara atau diibaratkan “ekornya” Himalaya yang terletak di wilayah Myanmar yang memiliki ketinggian 5881 mdpl.

Pendakian pertama kali dilakukan oleh pendaki asal Jepang, Takashi Ozaki, dan Nyima Gyaltsen dari Myanmar tahun 1997. Pada November 2014 lalu, Tim National Geographic yang disponsori oleh The North Face, gagal mencapai puncak. “Ini saatnya menunjukkan Indonesia punya pendaki-pendaki hebat. Ini kesempatan kita menunjukkan prestasi pada dunia.”

Setiap orang berhak bermimpi. Tidak ada larangan, tidak ada batasan. Bermimpilah, ikuti kata hati, dan jalani apa yang ada di depanmu dengan sebaik mungkin. Hidup akan menunjukkan jalannya. Itulah yang diyakini oleh Kang Kwecheng tentang impian dan hidup. Dua hal yang saling berkaitan. Hidup takkan berarti tanpa mimpi. Dan mimpi akan membuat hidup menjadi berarti. “Bermimpilah sesuai dengan jiwamu.”

Laporan : Ragil Putri Irmalia, Mahapala UPN Veteran Jawa Timur

Editor : Efrina Fitrianingrum

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Dokumentasi

CIMG2438

CIMG2441

CIMG2442

CIMG2448

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.