Jalan Santai 10 K, Suarakan Penolakan Pertambangan Emas Tumpang Pitu

Peserta jalan santai menyusuri jalanan menyuarakan penolakan pertambangan emas Tumpang Pitu dari Lapangan Pancer menuju lokasi pertambangan emas PT. BSI. Di Banyuwangi, Minggu (6/5/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Dayat)

Wartapalaindonesia.com, BANYUWANGI – Minggu (6 Mei 2018) warga bersama forBANYUWANGI, PMII Untag Banyuwangi, FNKSDA Banyuwangi, dan Komunitas Homebrandsex kembali turun ke jalan.

Aksi kali ini terbilang unik, karena aksi gabungan ini adalah Aksi Jalan Santai yang mana massa aksi menempuh jarak 10 kilometer untuk menyuarakan penolaka Tambang Emas Tumpang Pitu.

Massa mulai berkumpul di Lapangan Pancer sejak pukul 08.00 wib. Sambil menunggu massa lain, mereka mempersiapkan perangkat aksi berupa sepanduk yang bertema penolakan terhadap tambang emas Tumpang Pitu.

Tepat pukul 09.30 wib ratusan massa berjalan dari Lapangan Pancer menuju lokasi pertambangan emas PT. BSI.

Menariknya, dalam aksi tersebut seorang mahasiswa berperan menjadi rakyat terpasung dan bertelanjang dada berada di barisan terdepan, hal ini menurut Ustman, sebagai simbol rakyat Banyuwangi yang sedang tertindas oleh kerakusan pertambangan.

Ustman, Humas Aksi Jalan Santai mengatakan, setidaknya 22.600 hektar luas kawasan di Pesisir selatan Banyuwangi, tengah menunggu dibongkar untuk keperluan industri pertambangan emas, padahal di tempat ini, potensi ekonomi melalui wilayah-wilayah kelola rakyat telah menunjukkan bahwa rakyat bisa sejahtera tanpa pertambangan.

“Gunung Tumpang Pitu diambil saripatinya dangan mengorbankan keselamatan rakyat, kami tidak rela itu terjadi,” ujar Ustman yang juga kader PMII komisariat Universitas 17 Agustus Banyuwangi.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Ari koordinator Aksi Jalan Santai Tolak Tambang emas Tumpang Pitu, kehadiran industri tambang justru mengancam keselamatan ekologi, sosial, dan ekonomi rakyat yang telah dibangun selama ini.

“Telah tampak nyata kerusakan disekitar kita, Gunung sudah botak. Kehancuran sudah di depan mata. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Ari, dalam orasinya.

Dalam aksi Jalan Santai tersebut juga diungkapkan, puluhan warga telah menjadi korban kriminalisasi dalam rangka mempertahankan ruang hidupnya slama ini. Tarakhir kasus kriminalisasi ditimpakan Budi Pego, salah satu warga yang getol menolak keberadaan Tambang Emas Tumpang Pitu.

Dibalik kerasnya represi ini, menurut Ari, warga Sumberagung tetap meyakini bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan dan memulihkan kehidupan sosial-ekologi mereka adalah tetap tidak mundur dari perjuangan menolak keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu.

“Kami tidak peduli bahwa semangat dan tekad kami akan dihadapkan lagi dengan berbagai bentuk represi lainnya. Dalam keyakinan Kami tak ada jalan mundur dalam berjuang,” tegas Ari.

Setalah puas berorasi di depan lokasi pertambangan emas PT. BSI massa melanjutkan jalan santai menuju perempatan tugu Pesanggaran untuk malakukan aksi teatrikal dan orasi.

Fina dalam orasinya mengungkapkan bahwa pertambangan emas rakus akan air, pasalnya dalam pemurnian emas membutuhkan banyak air yang hal ini dapat mengancam ketersediaan air untuk lahan pertanian.

“Manusia bisa hidup tanpa emas, tapi tidak jika tanpa air,” pekik Fina, orator perwakilan dari PMII.

Selain berorasi dan menyanyikan lagu perjuangan, massa aksi juga membagikan peta konsesi pertambangan kepada warga yang ditemui dan mengajak untuk bersolidaritas dalam gerakan penolakan tambang emas Tumpang Pitu. Aksi berakhir pukul 15.00 wib.

Nara Hubung

Ustman : 0822 4429 0192

Ari : 0821 3964 9049

Kontributor || Dayat

Editor || A. Phinandhita P.

Dokumentasi || ForBANYUWANGI

Penolakan Pertambangan Emas Tumpang Pitu
Penolakan Pertambangan Emas Tumpang Pitu
Penolakan Pertambangan Emas Tumpang Pitu

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan