Kado Manis MBSC-17, Hari Pertama

Wartapalaindonesia.com, JEMBER – Kaca bis patas berembun bersamaan dengan laju roda yang menggelinding langsam. Hujan terintik di luar sana mulai redah yang sejak pagi membasahi kota Surabaya. Ini perjalanan kami pertama kali ke kota Jember yang konon menjadi pusat konservasi di negeri ini. Banyak harap dan mimpi untuk mengikuti sekolah konservasi yang hanya diadakan setahun sekali di sini.

Dalam perjalanan kami lebih memilih memejamkan mata dimana waktu tempuh perjalanan selama 5-6 jam. Nyamannya suasana dalam bis membuat kami benar-benar terlelap sebelum kondektur bis patas menyorongkan tiket resmi seharga Rp. 60 ribu untuk perjalanan Surabaya – Jember. Cukup terjangkau meski berbeda Rp. 20 ribu dibanding bis ekonomi yang konon banyak pencuri sejenis penodong dan kompolotannya beraksi pada malam hari.

20151217_005035
Bis patas (Surabaya-Jember) Rp. 60.000

Apa benar demikian? Ada saran dari sahabat bahwa lebih baik pilih bis patas, sebab bis ekonomi menuju Jember saat beroperasi malam hari sangat rawan. Konon supir keneknya berkomplot dengan kawanan perampok. Cukup ngeri, untuk negeri yang katanya kejahatan berawal dari kesulitan ekonomi. Meski begitu ada beberapa kawan yang memilih menunggangi kuda besi, seperti kawan-kawan dari Himmpas Sidoarjo dan Mupalas Surabaya.

Sungguh butuh ekstra tenaga dan nyali bagi mereka, tapi mereka suka dan sudah terbiasa , katanya anak Mapala sudah biasa terlatih susah. Salut buat mereka.

Jam tangan hitam bertulis eiger tak terasa sudah menunjukkan pukul 06.00 am, bersamaan dengan mata memandang keluar terlihat hamparan hijau pegunungan yang mengapit kota Jember. Tak lama kemudian bis berhenti bersama hiruk pikuk di terminal Jember.

Pertama kali turun bis adalah menghirup udara kota konservasi. Ah, cukup segar juga untuk kawasan kota, berbeda sekali dengan kota Surabaya yang meski nampak hijau namun tetap berpolusi. Ah atau ini hanya sementara, mungkinkah 5 tahun ke depan udara di sini masih sama seperti ini? Atau lebih asri berkat konservasi atau lebih berpolusi dari ibu kota negeri ini?

20151217_062118
Jember masih asri

Dari sini melalui pesan singkat kami menghubungi panitia, pasti panitia sudah stand by di terminal ini. Ah, kami menggerutu kala panitia menyarankan untuk menaiki lin E menuju polisi militer. kamipun bertanya, apa panitia kurang siap atau bagaimana?

Belakangan kami baru tau jika di sini kekurangan panitia, salut kami berikan pada panitia MBSC 17 kali ini. Selanjutnya kami pun menaiki lin E warna merah dengan harga Rp. 6rb, baru dari sinilah kami dijemput oleh panitia. Wow, kami cukup terpesona, baru sadar jika panitia bernama Zakiyah itu adalah seorang gadis manis asal Pandaan.

Haha, cukup mengobati kecewa dan parahnya banyak juga rekan-rekan peserta yang mengira Zakiyah adalah seorang pria.

20151220_213348
Zakiyah sebelah kiri, abaikan yang laki-laki

Dengan mengendarai matic biru, Zakiyah mengantarkan kami (aku) menuju kantor TN Meru Betiri yang ternyata hanya kurang dari 2 kilometer. Ah, terlalu singkat untuk perjalanan berdua dengan gadis manis yang akhir-akhirnya mengaku seorang calon ibu guru.

Belum sampai setengah perjalanan, gadis berkulit putih dengan pemanis kacamata ini menyarankanku untuk membeli camilan di minimart. Sempat juga bertanya, apa di tempat berkegiatan nanti tidak ada toko atau warung?

Sebab di gunung Lawu yang tinggi di atas 3rb meter saja masih ada warung lengkap beserta kopi dan pembalut wanita.

Akhirnya kembali berfikir ke pasal satu di mana panitia selalu benar, aku pun memilih sebuah cracker yang murah dan berisi banyak sekali. Perjalanan dilanjut sampai kantor TNMB yang cukup asri, di sana sudah banyak peserta yang akan melakukan daftar ulang dan sebagian bersih diri serta packing untuk perjalanan selanjutnya. Perjalanan selanjutnya?

Ya ternyata masih ada perjalanan selanjutnya, kantor TNMB hanyalah pusat berkumpul, di mana kegiatan akan dilaksanakan di dusun Sukamade yang masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri yang masih harus ditempuh selama 8 jam perjalanan. Cukup membuat aku dan kawan lain menelan ludah.

Ini saat yang tepat untuk mengisi daya baterai dan power bank sebelum menuju lokasi yang kata panitia tidak ada listrik di sana. Sedikit mata melirik ke arah terminal listrik, ah semua sudah penuh, makhlum dewasa ini gadget menjadi kebutuhan mendasar.

Untungnya pengalaman mengajarkan bahwa harus sedia T, selamat juga masih bisa mengisi daya dan member aliran buat beberapa rekan yang lain. Sebentar saja lalu terdengar panitia mengumumkan bahwa registrasi peserta sudah bisa dimulai, semua peserta dengan tertib melakukan registrasi.

Mulai dengan mengumpulkan bukti pembayaran yang hanya Rp.300rb, foto 2×3 5 lembar, kaos peserta, makan pagi hingga surat keterangan sehat dari dokter, ini yang menjadi pertanyaan, apa surat keterangan sehat dari dokter masih berlaku?

Bagaimana jika dua hari yang lalu saat urus surat sehat masih sehat, tapi saat kegiatan sakit? Oh, ternyata di sini panitia sudah sangat pengalaman, mereka menyediakan tenaga kesehatan untuk memeriksa satu per satu kesehatan peserta. Mulai dari cek nadi, hingga riwayat penyakit. Ini sungguh sangat mengesankan, sudah saatnya kita semua yang berkegiatan di alam bebas melakukan prosedur seperti ini.

Selain ada surat sehat, ada juga cek kesehatan sebelum peserta berangkat berkegiatan.

Daftar ulang dan cek kesehatan peserta
Daftar ulang dan cek kesehatan peserta

Di sinilah pertama kali kami melihat seorang bapak-bapak yang nampak usianya jauh dari usia mahasiswa, padahal syarat peserta salah satunya adalah berusia rata mahasiswa sederajat. Namun bapak ini sudah terlewat senja menurutku, siapa bapak ini?

Insting pewartakupun keluar, harus kepo, akhirnya aku berkenalan dan mengetahui bahwa bapak ini bernama pak Giri atau biasa disapa Cak Giri. Bodohnya aku, tak mengerti bahwa bapak ini merupakan salah satu pemateri dan orang paling berpengaruh di konservasi.

Ah, aku kira bapak ini peserta juga, akhirnya aku sempat berfoto dengannya, meski hingga saat itu juga aku belum tau siapa Cak Giri, kamu tau?

Cak Giri berkaos merah, yang paling kanan berkaos hitam adalah Dollah Mapensa, sang ketua pelaksana
Cak Giri berkaos merah, yang paling kanan berkaos hitam adalah Dollah Mapensa, sang ketua pelaksana

Dan saatnya briefing kegiatan, semua peserta berkumpul di halaman kantor TNMB untuk melakukan briefing dan pelepasan yang dilakukan oleh kepala balai TNMB Bapak Ir. Pratono Puroso.

Selepas itu peserta digiring menuju dua bis yang disiapkan panitia, rencananya bis ini akan membawa peserta menuju TNMB dengan estimasi waktu selama 4 jam perjalanan. Selama empat jam perjalanan dipastikan peserta akan dihidangi perjalanan dengan pemandangan indah dan juga akan melihat tumpang 7 yang kini sedang panas-panasnya.

20151217_113328
Briefing pelepasan peserta

Namun setelah semua peserta masuk ke dalam masing-masing bis yang lumayan pengap dan membuat keringat bercucuran, supir bis tak juga melajukan kendaraannya, ada apa gerangan?

Ternyata panitia masih menunggu dua peserta dari Surabaya yang masih dalam perjalanan, sesuai kesepakatan dan solidaritas Pencinta Alam, semua peserta rela menunggu dua rekannya yang masih dalam perjalanan menuju kantor TNMB.

Berkat panas dan pengap, banyak juga peserta yang memesan es, salah satunya adalah es rumput laut, cukup menggelitik, di mana es rumput laut tertulis cabang Sidoarjo, cukup jauh juga abang es rumput laut ini. Lucunya, baru juga pesan es rumput laut, dua kawan yang ditunggu sudah datang, akhirnya gagal beli es deh, naik bis lalu berangkat.

20151217_114248
Akhirnya naik bis juga

Walau panas dan gerah kami rasa dalam bis namun tetap kami sambut dengan ceria, tak beberapa lama kami disuguhkan dengan pemandangan jalanan berliku khas alas kumitir. Sepanjang jalan mata kami menangkap sebuah fenomena, banyaknya peminta-minta yang kami tak tau siapa dan bagaimana awalnya.

Yang kami tau sepanjang jalan kami menemui para peminta itu sebelum kami melihat tumpang pitu yang tinggi gagah entah bagaimana selanjutnya. Kebijakan pemerintah sungguh membuat kami hanya bisa menahan diri meski kawan-kawan Mapala Jember sudah berusaha melakukan advokasi.

20151217_131355
Kawan yang sudah terlelap
20151217_131939
Potret peminta sepanjang jalan alas Kumitir

Tak terasa bis yang kami tumpangi berhenti, kiri kanan kawan yang duduk di bangku telah terlelap entah ke mana mimpinya. Kami sudah sampai pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri, ah udara segar lagi yang kami hirup.

Beberapa kawan segera menuju kamar kecil untuk melepas hajatnya, yang lain segera memindah day bag dan carier menuju truk engkel bak terbuka. Truk engkel? Ya, dari sin ibis tak bisa masuk, mengingat medan yang berliku. Beberapa kawan duduk di atas atap truk, sebagian lagi memilih melanjutkan tidurnya di dalam bak truk yang ada 4 kendaraan.

Sekedar tips saja, apabila naik atap depan truk bak terbuka, usahakan berada di sisi tengah atau kanan, sebab sisi kiri akan banyak berhalangan dengan pohon-pohonan. Yang paling aman adalah berada di dalam bak truk, dan perjalanan di mulai.

Beberapa dari kami takjub melihat keindahan vegetasi TNMB yang masih rapat, ditambah banyak fauna yang dapat kami jumpai, mulai dari elang hingga kera. Bukan hanya itu selama perjalanan kami dikejutkan dengan hadirnya pantai rajekwesi dan teluk ijo (green bay). Namun kami tak berhenti, mengingat hari mulai senja, kami hanya bisa mengintip sedikit keindahannya dari atas bak truk terbuka.

20151217_155733
Bersama rekan-rekan dari Mupalas dan Gubhatras

Perjalanan cukup lama antara 2-3 jam, beberapa kawan terlihat ada yang mabuk mengingat medan berbatu dan macadam yang harus ditempuh. Dan inilah akhirnya, truk berhenti di dusun Sukamade yang merupakan tempat kami berkegiatan dalam MBSC ke 17 ini.

Segera saja kami turun truk dan mengikuti briefing panitia, semua peserta diarahkan untuk menuju tanah lapang untuk mendirikan tenda. Pas sebelum memasuki tanah lapang, kami disambut banner bertuliskan selamat dating di MBSC 17. Ya kami sudah tiba, kini giliran kami semua mendirikan tenda, setelah berbagai macam dan merek tenda berdiri sebagian dari kami melakukan ibadah dan sebagian lagi mengisi perut yang sudah menggeliat.

20151217_181649
Selamat datang di Sukamade
20151217_182416
Saling membantu dalam mendirikan tenda

Tak ada 30 menit terdengar suara panitia lewat megaphone memberi aba-aba agar kami berkumpul di sumber suara, panitia mengajak kami menuju drop zone yang mana juga menjadi dapur umum, di sana terdapat bangunan penangkaran penyu, cottage, warung, mushola hingga toilet.

Kami berbaris rapi menunggu giliran megambil nasi dan lauk bak prasmanan.

Menariknya, kami diberi tanggung jawab membawa satu piring dan satu sendok dari panitia, yang mana harus tetap kami bawa hingga kelak kegiatan selesei, memang lebih hemat dan terkesan eco friendly.

20151217_195039
Antri santap malam

Setelah kami bersantap malam nasi campur, kami berkumpul di dalam sebuah tenda barak yang dapat menampung 100 orang lebih. Di sini kami briefing bersama dan melakukan perjanjian kegiatan dengan membahas peraturan-peraturan.

Yang menarik di sini, kami yang belajar menjadi kader konservasi tingkat mula, mulai berperang dengan diri sendiri. Ambillah contoh kami yang ahli hisap, perokok, kadang kami harus melawan kontradiksi diri.

Menariknya lagi, tak banyak peraturan disuarakan, sebab kami semua yang ada di sini berasal dari manusia yang saling sadar dan tanggung jawab.

20151217_204030
Briefing
20151217_204115
briefing

Yang cukup mengejutkan adalah kita tidak dibagi run down acara, wah mengapa? Ternyata di sini dipastikan tidak ada sinyal untuk berkomunikasi, sehingga panitia tidak bisa memastikan kapan pemateri datang, hanya komitmen dari pemateri yang menjadi patokan.

Panitia yakin dengan komitmen pemateri yang kebanyakan dari lulusan MBSC itu sendiri. Peraturan selelesei, begitu juga dengan hari ini, kami semua dipersilahkan untuk istirahat, kami harus beradaptasi dan sedikit hibernasi. Selamat istirahat.

Run Down, Kamis 16 Desember 2015

  • 06.00 – 08.00 = Daftar ulang peserta
  • 08.00 – 11.00 = Ishoma
  • 11.00 – 12.00 = Pemberangkatan oleh kepala balai TNMB, Ir. Pratono Puroso
  • 12.00 – 15.00 = Perjalanan Kantor TNMB – Gerbang Masuk TNMB
  • 15.00 – 18.00 = Perjalanan Gerbang Masuk TNMB – Dusun Sukamade
  • 18.00 – 20.00 = Mendirikan Tenda
  • 20.00 – 21.00 = Makan Malam
  • 21.00 – 23.00 = Briefing peraturan kegiatan
  • 23.00 – 06.00 = Istirahat

Bersambung Kado Manis MBSC-17, Hari Kedua

Laporan : A. Phinandhita P.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.