Kalau Nggak Siap Tektok, Jangan Paksa Diri Demi Tren

Oleh : Abdul Aziez
Editor Wartapala, WI 200059

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF — Belakangan ini, istilah “tektok” makin sering terdengar di dunia pendakian. Bukan cuma dibahas di forum pencinta alam, tapi juga berseliweran di media sosial. Banyak yang bangga bisa menaklukkan gunung dalam sehari—naik pagi, turun sore—tanpa repot bawa carrier atau mendirikan tenda.

Sekilas memang terlihat keren: praktis, cepat, dan seolah efisien. Tapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan: sudah siapkah kita menjalani tektok, atau hanya ikut-ikutan demi eksistensi?

Tektok sebenarnya bukan hal baru. Para pendaki senior dan pelari trail sudah lama mengenal metode ini. Mereka melakukan pendakian pulang-pergi dalam sehari, tapi dengan perencanaan matang, latihan fisik konsisten, serta pemahaman baik terhadap medan dan cuaca.

Sayangnya, fenomena sekarang agak bergeser. Banyak yang tergoda mencicipi sensasi tektok hanya karena melihat story teman sampai puncak jam sembilan pagi. FOMO takut ketinggalan. Mereka lupa bahwa tubuh, mental, dan logistik tak bisa disamakan begitu saja.

Kalau trail run adalah olahraga dengan perhitungan nutrisi, ritme, dan perlengkapan yang tepat, dan hiking adalah perjalanan perlahan penuh perenungan, maka tektok versi kekinian lebih mirip “jalan cepat dadakan”: minim riset, perlengkapan seadanya, tapi ambisi langit. Seperti mencoba lari maraton setelah tidur siang.

Yang juga menyedihkan, banyak dari kita mulai melupakan esensi naik gunung. Puncak memang menggoda, tapi bukan segalanya. Tujuan utama pendakian adalah kembali dengan selamat.

Puncak itu cuma bonus. Gunung bukan tempat lomba. Nggak ada medali untuk yang sampai paling cepat. Tapi sekarang, sebagian orang memperlakukan gunung layaknya panggung konten. Yang penting story, keselamatan nomor sekian.

Padahal, gunung bukan tempat bercanda. Alam bisa berubah dalam hitungan menit. Satu kesalahan kecil bisa jadi besar jika kita terlalu meremehkan.

Beberapa kasus pendakian tektok yang berujung tragis sudah cukup jadi bahan refleksi. Di salah satu gunung di Jawa Tengah, seorang pendaki muda harus dievakuasi karena dehidrasi berat. Ia hanya membawa satu botol air kecil.

Di gunung lain, seorang pendaki tersesat saat turun karena tidak membawa headlamp. Semua dengan pola serupa: naik buru-buru, turun malam, dan minim persiapan.

Menurut catatan relawan SAR, lebih dari 40% evakuasi pendaki dalam dua tahun terakhir berkaitan dengan tektok yang dipaksakan. Sebagian besar karena salah kalkulasi waktu, logistik minim, hingga kelelahan ekstrem.

“Banyak pendaki yang kami temui tektok cuma bermodal semangat. Headlamp lupa, makanan pas-pasan, bahkan kadang sepatu yang dipakai lebih cocok buat lari di trotoar daripada jalur berbatu,” ujar Arif Ginanjar, pendaki asal Purwodadi yang juga pernah terlibat dalam evakuasi di Gunung Lawu.

Yang sering muncul sebagai alasan adalah “nggak punya waktu.” Tapi kalau dipikir ulang, ini bukan soal waktu, tapi soal prioritas dan tanggung jawab. Gunung nggak akan ke mana-mana. Tapi keselamatanmu bisa lenyap seketika kalau kamu naik tanpa perhitungan.

Naik gunung itu bukan soal siapa paling cepat sampai puncak, tapi siapa yang tahu cara pulang dengan selamat. Kalau semua harus instan, lalu di mana letak pelajaran yang seharusnya kita petik dari alam?

Bukan berarti tektok itu buruk. Tektok bisa jadi opsi bijak jika dilakukan dengan benar. Kalau kamu sudah punya latihan fisik, tahu betul jalur dan estimasi waktu, mengantongi logistik darurat, dan punya kesiapan mental—silakan saja. Tapi kalau cuma modal niat dan gengsi, lebih baik urungkan dulu.

Seperti yang dikatakan Wahyu Hutomo, pendaki dari Nabire, Papua, “Mendaki itu soal tanggung jawab, bukan seberapa cepat kamu sampai. Kalau kamu naik hanya demi terlihat keren, kamu sedang main-main dengan nyawa. Gunung itu bukan tempat gaya-gayaan.”

Buat kamu yang tetap ingin mencoba tektok, pastikan kamu sudah mempersiapkan hal-hal dasar: kondisi fisik prima, pemahaman jalur, perkiraan cuaca, serta peralatan penting seperti headlamp, jas hujan, makanan cadangan, hingga P3K.

Jangan lupa naik bersama tim, atau setidaknya beri tahu orang lain tentang rencana pendakianmu. Jangan pernah anggap remeh perencanaan, karena yang bikin kita selamat bukan semata kekuatan, tapi kesadaran.

Sudah terlalu sering kita dengar cerita pendaki yang harus dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa. Atau pendaki yang menyusahkan orang lain karena salah langkah. Padahal semua itu bisa dicegah jika saja kita sedikit lebih bijak.

Relawan SAR, porter, bahkan warga lokal sering harus berjibaku menyusuri malam, menembus hujan, demi menyelamatkan mereka yang lupa bahwa naik gunung itu butuh lebih dari sekadar niat.

Satu hal yang patut kita renungkan bersama: pendakian itu bukan adu cepat, tapi adu sadar. Sadar akan diri sendiri, sadar akan cuaca, medan, dan risiko. Pendaki yang keren bukan yang paling cepat sampai puncak, tapi yang bisa turun dengan selamat tanpa merepotkan siapa pun.

Sudah waktunya kita tarik napas dan kembali ke esensi mendaki. Gunung bukan ajang pembuktian ego. Mendaki adalah tentang perjalanan, bukan pencapaian. Tentang pulang dengan cerita, bukan dengan luka.

Tektok itu sah-sah saja, asalkan disertai tanggung jawab. Tapi kalau kamu belum siap, jangan maksa. Jangan paksa tubuh dan alam untuk mengikuti egomu.

Gunung akan tetap berdiri. Kamu bisa mendakinya kapan saja. Tapi keselamatan? Sekali hilang, nggak bisa diulang.

Jadi sebelum bilang “Tektok, yuk!” tanyakan dulu ke diri sendiri: aku siap naik, tapi udah siap pulang belum? 

Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.