Kali Pertama ASTACALA Pendidikan Dasar Daring

Caption foto: ASTACALA saat menggelar Pendidikan Dasar atau Diksar yang berlangsung secara daring dengan video conference, (WARTAPALA INDONESIA, Shusmita Sahara) 

Wartapalainronesia.com, BANDUNG – Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA, telah melaksanakan Pendidikan Dasar Astacala ke-29 (PDA XXIX) dalam kondisi pandemi Covid-19, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara daring menggunakan video conference.

Hal ini dilakukan untuk memperoleh regenerasi sebuah organisasi, sesuai dengan kebijakan rektor Universitas Telkom bahwa pembelajaran pada semester genap 2020/2021 dilakukan secara daring PDA XXIX dilakukan sejak bulan Januari hingga Maret.

“Ini merupakan kali pertama dilaksanakannya PDA secara daring, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana semua kegiatan dilaksanakan dengan praktik lapangan,” ungkap Anggota Kehormatan (AK) Astacala, Jeffry Hasibuan, Senin (19/04/2021).

PDA XXIX yang meliputi materi kelas, presentasi berkelompok, presentasi individu, case study, dan kuis. Materi yang disampaikan sama dengan materi yang diberikan pada tatap muka, seperti navigasi darat, gunung hutan, survival, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), fotografi dan jurnalistik.

“Pandemi ini masih berlangsung, kita tetap harus waspada. Namun pada situasi seperti ini jangan sampai membuat kita patah semangat menimba ilmu, salah satunya kita dapat mengikuti materi dari panitia tanpa mengurangi makna yang idealnya didapatkan pada praktik di alam terbuka atau alam bebas,” jelasnya.

Masalah yang cukup besar dalam pelaksanaan PDA XXIX secara daring ini adalah mengenai pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan dan kendala teknis berupa koneksi internet. Maka dari itu, diadakan presentasi dari siswa secara berkelompok setelah diberikan materi oleh panitia, untuk menambah pemahaman siswa.

“Siswa PDA XXIX diwajibkan untuk mengikuti seluruh rangkaian dan juga diberikan penugasan sebagai salah satu upaya agar siswa tidak hanya paham mengenai teori yang diberikan tetapi juga mampu melaksanakan praktik secara individu. Pembuatan video berupa praktik disetiap materi dan penjelasan dibuat oleh siswa, lalu dikumpulkan ke panitia untuk dilakukan penilaian,” katanya.

Ditambahkan Pembina KMPA, Mahmud Imrona dalam amanat yang diberikan saat penutupan PDA XXIX, siswa diminta untuk melakukan studi kasus sederhana mengenai permasalahan atau isu lingkungan di media masa.

“Isu tersebut kemudian didiskusikan antar kelompok dan hasil dari diskusi masing-masing kelompok kemudian dipresentasikan kepada panitia dan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab,” jelasnya.

Lanjutnya, hal ini dimaksudkan untuk mengasah kemampuan problem solving dan kemampuan berpikir kritis, pemahaman dan kepedulian terhadap permasalahan lingkungan. “Saya harap penggodokan di Diksar ini dapat menciptakan pecinta alam yang sungguhnya”

Rangkaian yang dilakukan secara daring ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk melakukan kegiatan pendidikan lanjut setelah pandemi usai nanti dan juga sebagai wadah bagi mahasiswa Universitas Telkom yang memiliki ketertarikan terhadap dunia pecinta alam seperti konservasi, kegiatan alam bebas, dan SAR.

Kontributor || Shusmita Sahara, Astacala

Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: