Kampung Naga dan Kearifan Lokalnya

Landscape Kampung Naga, (foto oleh : exoticjavatrails.com). (WARTAPALA INDONESIA/ Depi Lestari)

Wartapalaindonesia.com, EKSPLORE – Kampung Naga sudah tidak asing lagi di telinga para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu tempat wisata yang berada di Kabupaten Tasikmalaya ini banyak sekali mengandung nilai-nilai sejarah.

Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari, dari dulu hingga sekarang penduduknya masih mempertahankan budaya dan kearifan lokal warisan leluhurnya.

Penduduknya merupakan warga keturunan Sunda asli, jika ada salah satu warga menikah dengan orang diluar keturunan asli Kampung Naga maka ia tidak diperbolehkan menetap di kampung itu melainkan harus tinggal dan menetap di luar kawasan Kampung Naga.

Keturunan Kampung Naga yang tinggal di luar diperbolehkan menyesuaikan dengan lingkungan tempat tinggalnya, dengan catatan mereka harus tetap mengikuti upacara adat yang ada di Kampung Naga.

Penduduk Kampung Naga masih sangat lekat dengan budaya gotong royong, hormat menghormati, dan mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi.

Terdapat dua kepemimpinan di kampung ini, yaitu Pemerintah Desa dan Lembaga Adat (kuncen). Lembaga adat ini yang mengatur seluruh pola hidup dan aturan-aturan yang berlaku di kampung ini, meskipun demikian diantara keduanya saling bersinergi untuk saling menjaga keharmonisan warganya.

Mayoritas penduduk Kampung Naga memeluk agama Islam, disamping itu mereka masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.

Jika mereka menjalankan adat istiadat warisan nenek moyang berarti mereka menghormati leluhurnya, akan tetapi jika mereka melanggar adat maka mereka tidak menghormati leluhurnya dan dipercaya akan mendapatkan malapetaka.

Banyak keunikan dari Kampung Naga ini, mulai dari kebiasaan para penduduknya, budaya dan adat istiadatnya, serta kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh penduduknya.

Keadaan mereka masih sangat tradisional, rumah yang ditempati oleh penduduk Kampung Naga masih terbuat dari bambu dan kayu, atapnya terbuat dari anyaman ijuk atau alang-alang, dindingnya pun masih terbuat dari bilik atau anyaman bambu, posisi dari setiap rumah harus menghadap ke selatan dengan memanjang ke arah barat-timur.

Lingkungan Kampung Naga masih asri mereka menolak moderniasi, karena ini dianggap akan merusak dan merubah warisan leluhurnya, bahkan sampai sekarang di Kampung Naga tidak dialiri oleh listrik, penduduknya hanya menggunakan obor sebagai alat penerangan.

Sebagian besar penduduk Kampung Naga bermata pencaharian sebagai petani sawah dan ladang, baik sebagai pemilik, penggarap, maupun buruh.

Sebagai mata pencaharian tambahannya penduduk Kampung Naga membuat anyaman dan kerajinan tangan dari bambu, hasilnya kemudian dijual sebagai oleh-oleh yang ditawarkan kepada wisatawan.

Ketika musim liburan Kampung Naga ramai dikunjungi para wisatawan terutama wisatawan lokal, bagi wisatawan lokal tempat ini merupakan tempat yang mudah diakses dan tidak terlalu memakan biaya.

Para wisatawan tidak dikenakan tarif untuk memasuki kawasan ini, untuk mengelilingi kawasan Kampung Naga wisatawan akan ditemani oleh pemandu setempat. Untuk jasa pemandu wisatawanpun tidak dipasang tarif, cukup membayar seikhlasnya saja.

Jika ingin menginap, wisatawan hanya diperbolehkan maksimal satu malam saja dengan terlebih dahulu membuat janji dengan pihak pengelola.

Wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang disuguhkan oleh kawasan ini, dengan tetap mengikuti aturan-aturan yang berlaku di tempat ini.

Kontributor : Depi Lestari (Mahasiswa prodi akuntansi syariah STEI SEBI)

Editor : Jelita Sondang

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan