Kekeb Babi, Nasib Sang Preman Langit yang lagi Ngehits

Salah satu aktivitas komunitas hobi burung “Kekeb Babi” di Jogging Track Unesa Lidah Surabaya, Minggu (7/1/2018). (WARTAPALAINDONESIA/ A. Phinandhita P.)

Wartapalaindonesia.com, HITS/UNIK – Suara peluit bersahutan dengan teriakan ‘keb, kekeb’. Sejurus kemudian seekor burung berbulu dada putih menukik tajam ke atas sarung tangan ping. Banyak pasang mata menatap kagum dengan kecerdasan si dada putih.

Minggu pagi (7/01/2018), nampak dua orang bapak yang tak mau disebut namanya, satu bertopi (46) dan satu berbaju polo merah (56) menjadi pusat perhatian di jogging track danau kampus Unesa Lidah.

Bukan dua bapak itu aktor utamanya, tapi dua ekor burung dada putih yang sibuk melahap ulat hongkong. Setelah melahap hadiahnya, kembali mereka terbang lincah mengelilingi danau, kadang tak terlihat menyelinap di antara pepohonan.

Kekeb Babi atau White-Breasted Woodswallow sebutan burung berdada putih itu. Sebagian masyarakat menyebutnya “preman langit”.

Bernama latin (Artamus leucorynchus) termasuk salah satu anggota keluarga Artamidae. Di pulau Jawa, banyak ditemui Kekeb Babi dengan ras Artamus leucorynchus amydrus (Oberholser, 1917).

Berpostur tubuh sedang, dikelompokkan sebagai jenis burung pemakan serangga. Habitatnya di kawasan pesisir, sawah, tegalan, dan hutan sekunder hingga ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut (mdpl).

Keberadaannya banyak ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Disebutkan, lima dari sembilan ras burung kekep babi tersebar di wilayah Indonesia, terutama Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (omkicau.com).

‘Suit’, kembali terdengar suitan peluit dari bapak bertopi. Tangannya kirinya dibalut sarung tangan abu-abu diacungkan ke atas.

Si Kekeb pun langsung datang dan bertengger di atas tangan si bapak bertopi. Hap, seekor ulat hongkong kembali mematuk hadiahnya.

Kekeb Babi kini menjadi primadona, bukan karena bulu indah atau suara menariknya. Suaranya seperti burung sriti. Namun kecerdasannya yang hampir sama dengan burung elang, parkit dan burung hantu, membuat Kekeb Babi kini banyak diburu.

“Cukup mudah mendapatkan Kekeb Babi, biasanya Kekeb Babi liar bertengger di tower listrik, menara pemacar atau gedung tinggi,” ungkap bapak bertopi, saat melatih Kekeb Babi di jogging track Unesa Lidah, Minggu, 7 Januari 2018.

Sedikit disinggung tentang apa tujuan bermain dengan Kekeb Babi, bapak berpolo merah menjelaskan. “Untuk hobi saja mas, selain itu biayanya murah. Lebih lagi bisa untuk teman jalan-jalan dan menghibur masyarakat, terutama anak-anak,” ujarnya saat melatih Kekeb Babi di jogging track Unesa Lidah, Minggu, 7 Januari 2018.

Sejak 2017, Kekeb Babi mulai digandrungi. Kini komunitasnya mulai menyebar dan sudah banyak yang melakukan jual beli anakan untuk dilatih. “Umumnya Kekep dilatih sejak masih anakan ataupun masih muda. Karena apabila sudah dewasa, apalagi dari hasil tangkapan liar akan sulit dilatih,” tambah bapak bertopi.

“Untuk mau gabung di komunitasnya sendiri gampang kok, di medsos sudah cukup banyak yang membuat forum. Bahkan kita sudah sering mengadakan kopdar,” jelas bapak berpolo merah yang mengaku terpikat dengan daya tarik Kekeb babi.

Bagaimana pandangan lifestyle tersebut dari sudut konservasi?

Happy Ferdiansyah (27) pemerhati burung asal Surabaya mengingatkan. “Dari sisi konservasi kegiatan tersebut tidak baik. Satwa yang diambil dari alam, tidak akan bisa menjalankan fungsi perannya sebagai kesatuan ekosistem dan salah satu pengisi rantai makanan.”

“Di sisi lain, kegiatan ini juga memicu orang lain yang tertarik untuk ikut memelihara burung tersebut. Yang pastinya burungnya juga diambil dari alam. Karena sepengetahuan saya, sampai saat ini belum ada penangkaran resmi yang mengembangbiakkan Kekeb Babi,” tambahnya saat dihubungi WI, Kamis, 11 Januari 2018.

Begitu pula dengan status Kekeb Babi yang saat ini berstatus tidak dilindungi. Bukan berarti Satwa yang tidak dilindungi dan masih banyak jumlahnya di alam liar boleh kita buru sebebas-bebasnya. Apalagi jika satwa tersebut di eksploitasi demi memenuhi hasrat ketertarikan pemiliknya.

Happy yang pernah meraih trofi juara pertama di lomba identifikasi burung tingkat dunia (Selangor Bird race 2016) punya pengalaman sendiri terkait hal tersebut. “Meski sekarang masih banyak (Kekeb Babi), jika terus diburu sama saja akan habis. Contoh, burung Branjangan Jawa, dulu masih banyak sekali di sawah-sawah pulau Jawa, sekarang?”

“Contoh lain burung Kacamata, dulu banyak sekali di hutan, setiap saya melakukan pengamatan pasti mudah menjumpai. Tapi sekarang susah sekali menjumpai,” tambah Pria yang juga tercatat sebagai Kader Konservasi di Jawa Timur tersebut.

Terkait dengan daya tarik terhadap Satwa sendiri, pria yang akrab disapa Cak Hap ini menjelaskan. “Intinya, semua Satwa punya daya tarik masing-masing, tak perlu dipelihara pun mereka sudah punya daya tarik.”

Solusi bagi mereka yang sudah terlanjur memelihara Kekeb Babi

Happy yang tercatat sebagai Mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair menerangkan. “Release, tapi pastikan dulu kesehatannya, agar tidak menularkan penyakit di alam bebas ketika dilepas. Periksakan burung ke Dokter hewan sebelum dilepaskan.”

“Sedangkan untuk jenis burung Kekeb Babi, cukup pastikan burung itu sehat, bisa terbang, dan bisa cari makan sendiri, setelah itu baru bisa dilepas di habitat yang sesuai,” tambahnya.

Happy juga mewanti-wanti, “jika benar-benar terpaksa memelihara, pelihara burung hasil tangkaran saja. Jangan beli burung hasil ngambil dari alam atau berburu.”

Bagi yang terlanjur kecanduan hobi memelihara Kekeb babi, saran Happy. “Ganti hobi jadi yang lebih positif, misal, jadi pelestari lingkungan atau menjadi pengamat burang di alam,” tutupnya.

Kontributor : A. Phinandhita P.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: