Kiprah Inspiratif Putri Mapala UMY Di Lokasi Gempa Cianjur

Caption foto : Aufadhia Anjani relawan dari Mapala Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Saat menggerinda besi tiang rumah warga korban gempa Cianjur. (WARTAPALA INDONESIA / Ahyar Stone)

WartapalaIndonesia.com, Cianjur – Aufadhia Anjani namanya. Dara berjilbab ini mahasiswa semeseter 7 Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Anjani yang akrab dipanggil mbak Sarot, sejak tahun pertama kuliah sudah bergabung di Mapala UMY.

“Sejak awal saya masuk Mapala UMY, saya sudah mendengar kiprah senior saya di Mapala UMY di lokasi bencana. Kepedulian, totalitas dan ketangguhannya mereka menginspirasi saya untuk terjun ke lokasi bencana,” kata Aufadhia.

Meski Indonesia kerap dilanda bencana, tetapi tidak serta merta mudah bagi Aufadhia untuk datang ke lokasi bencana. Selalu ada hambatan yang membuatnya urung berangkat. Mulai dari jadwal kuliah yang padat, kegiatan di Mapala UMY dan lain-lain.

Tiba-tiba tersebar kabar duka yang mengagetkan, Cianjur diguncang gempa magnitude 5,6. Korban jiwa mencapai ratusan. Ribuan orang mengungsi dan di banyak tempat rumah-rumah warga porak poranda. Naluri kepedulian Aufadhia membara, membakar jiwa Mapala-nya. Dia tak sabar ingin ke Cianjur.

Pucuk dicinta ulam tiba. Kali ini Aufadhia berada di situasi yang tepat. Kuliahnya longgar, kegiatan Mapala UMY belum banyak. Pekerjaannya sebagai barista di sebuah café di Kota Gedhe Jogja, bisa cuti.

“Saya dan yunior saya bernama Ivan Helguera ditugaskan Mapala UMY ke Cianjur,” kata Aufadhia bersemangat.

Mereka naik bis ekonomi dari Jogja ke Cianjur. Tiba di Cianjur pada 5 Desember 2022. Mereka langsung menuju Posko Kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia). Posko SARMMI berada di Kampung Ciseupan, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur.

Kampung Ciseupan merupakan salah satu kampung di Kecamatan Cilaku yang tingkat kerusakannya tergolong parah lantaran gempa yang terjadi beberapa waktu di Cianjur. Di kampung yang mayoitas warganya buruh tani inilah, SARMMI mendirikan posko kemanusiaan guna melakukan pendampingan.

Posko Kemanusiaan SARMMI dikelola oleh relawan SARMMI, relawan Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Hizbul wathan Universitas Muhammadiyah Jakarta Camp STIEM Jakarta, Pattupala Jakarta, Sapta Pala SMAN 7 Jakarta, Mapala Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.

“Saya dan Ivan sampai di Posko SARMMI jam 06 pagi. Jam 08 pagi kami sudah gotong royong dengan warga korban gempa,” ujar Aufadhia.

Aufadhia mengungkap, saat dia dan Ivan tiba di Posko Kemanusiaan SARMMI, semua relawan menyambut hangat. Padahal baru kali ini mereka bertemu.

“Saya belum kenal mereka. Mereka juga belum kenal saya. Tapi hanya dalam hitungan menit, kami sudah akrab dan siap ke lapangan. Situasi ini terjadi karena kami sama-sama anak pecinta alam dan datang ke sini dengan niat yang sama, yaitu kemanusiaan,” imbuh Aufadhia.

Di sela-sela perkenalan, Aufadhia dan Ivan diberitahu tentang kegiatan kemanusiaan yang sudah dilaksanakan dan yang akan dilakukan relawan di Kampung Ciseupan. Semua kegiatan harus segera diselesaikan, agar kehidupan warga kampung Ciseupan segera pulih seperti sebelum terjadi gempa.

“Tiap menit berada di lokasi gempa, sangat berharga. Relawan tak boleh buang-buang waktu. Kami relawan di Posko Kemanusiaan SARMMi siap kerja 24 jam. Tak ada libur,” kata Aufadhia.

Merobohkan Rumah Rusak Berat

Ada 11 kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan relawan SARMMI di Kampung Ciseupan. Yaitu pemutakhiran data warga. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi. Memberikan bantuan kesehatan. Edukasi kebencanaan. Membuat dapur umum. Siaga SAR 24 jam.

Kemudian menyelenggarakan sekolah darurat. Psikososial untuk anak-anak. TPA darurat. Merobohkan rumah warga yang rusak berat. Mendirikan hunian darurat.

Pada pagi pertama di kampung Ciseupan, Aufadhia dan Ivan disertakan di kegiatan merobohkan rumah warga yang rusak. Sorenya di Psikososial anak-anak. Malamnya menyalin data-data lapangan.

“Nyaris tak ada lahan kosong di Kampung Ciseupan yang dapat dipinjam warga sebagai lokasi mendirikan hunian darurat. Makanya merobohkan rumahnya sendiri menjadi kebutuhan prioritas, karena lahannya bakal diipakai warga bersangkutan mendirikan hunian darurat,” kata Aufadhia.

Rumah rusak berat, berpotensi roboh mendadak. Situasi ini tentu membahayakan. Jangan sampai merobohkan rumah justru mencelakai relawan yang melakukannya, dan mengagetkan warga yang masih dalam suasana trauma gempa.

Lantaran itulah, merobohkan rumah yang rusak berat, tak bisa dilakukan sembarangan. Perlu perhitungan dan strategi praktis dari relawan berpengalaman.

“Kami mengajak warga, agar warga langsung belajar merobohkan rumah memakai peralatan sederhana. Namun efektif, berhasil, tetap aman dan tidak memicu trauma baru bagi warga Kampung Ciseupan,” jelas Aufadhia.

Pola SARMMI di lokasi gempa kata Aufadhia adalah pendampingan. Kunci sukses pola pendampingan adalah interaksi akrab relawan dan warga korban gempa. Lantaran inilah SARMMI senantiasa mendirikan posko kemanusiaan di desa-desa yang memiliki banyak keterbatasan. Tidak dipinggir jalan raya atau di lokasi aman yang banyak kemudahan.

“Kami bergaul akrab dengan warga. Di sela-sela interaksi kami selipkan edukasi untuk membangun optimis. Agar warga memiliki semangat tinggi untuk memulihkan hidupnya,” kata Aufadhia.

Di kegiatan perobohan rumah, Aufadhia ikut mendorong balok kayu yang merupakan alat utama merobohkan rumah. Mengangkut puing yang sudah roboh. Termasuk memotong besi tiang rumah menggunakan gerinda.

Aufadhia juga masih mendapat tugas tambahan yaitu mendata rumah yang dirobohkan, serta membuat dokumentasi foto dan video yang nantinya digunakan sebagai film dokumenter.

Selama di Kampung Ciseupan, relawan SARMMI dan warga, merobohkan tujuh rumah. Selanjutnya dikerjakan warga pemilik rumah.

“Korban gempa punya banyak waktu dan tenaga, tetapi mereka bingung mau mengerjakan apa. Dengan membereskan rumahnya yang sudah dirobohkan, warga punya kegiatan. Ini juga psikososial untuk mereka,” jelas Aufadhia.

Selain ikut merobohkan rumah dan bertanggungjawab penuh atas dokumentasi kegiatan relawan, Aufadhia juga terlibat di update data warga, penyelenggaraan sekolah darurat. Psikososial untuk anak-anak. TPA darurat. Membantu tim kesehatan. Edukasi kebencanaan. Mendukung dapur umum. Belanja barang bantuan hingga mengantarnya ke tenda-tenda pengungsian warga Kampung Ciseupan.

Meski tiap hari bekerja – bahkan hingga malam – Aufadhia mengaku tak merasa lelah. Dia justru “menikmati” aktivitas kerelawanannya.

“Saya tidak lelah karena semua aktivitas diniatkan untuk ibadah. Jika kita niatkan ibadah, kita pasti totalitas, militan, jujur, dan tulus iklhas tanpa pamrih. Di desa lokasi gempa, kita nggak bakal mengeluh. Kita malah enjoy,” kata Aufadhia membuka rahasia kecilnya.

Terhadap kiprah Aufadhia, Ketua Umum SARMMI Handi Abdullah Muflih, SE. Mengaku memberi apresiasi dan berharap menjadi inspirasi bagi relawan lain, khususnya di kalangan putri.

Sejak dulu papar Handi, Mapala UMY senantiasa melahirkan Srikandi yang inspiratif di lokasi bencana. Di bencana erupsi Semeru lalu, putri Mapala UMY malah memimpin operasi kemanusiaan SARMMI. Kali ini di Gempa Cianjur, Mapala UMY melahirkan Aufadhia.

“Di Indonesia, relawan dari kaum putri yang terjun di garis depan masih langka. Karena inilah saya berharap, kiprah putri Mapala UMY menjadi inspirasi bagi putri-putri di Indonesia. Sehingga nantinya, bakal bertambah banyak relawan garis depan dari kalangan putri Indonesia,” kata Handi optimis. (AS)

Kontributor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.