Komunitas Banyu Bening Berkolaborasi dengan Pusdal Menggelar Pelatihan Konservasi Berbasis Air Hujan

WartapalaIndonesia.com, SLEMAN – Komunitas Banyu Bening berkolaborasi dengan Pusdal Jawa (Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup) menggelar Pelatihan Konservasi Berbasis Air Hujan Reforestasi Untuk Keberlanjutan dan Kemandirian Air di Turi. Sabtu, 31 Mei 2025.

Pelatihan yang diawali dengan penanaman pohon di sekitar embung Bedog yang berada di wilayah Gondorejo Turi, Kabupaten Sleman, melibatkan berbagai pihak. Di antaranya masyarakat Gondorejo, Babinsa Turi, komunitas Cakar Merapi, Komunitas Rain Nusantara, R-KomPAS (Rumah Komunitas Pecinta Alam Senusantara), Gila Selingkuh (Giat Lestarikan Alam Selamatkan Lingkungan Hidup), dan Komunita Jaka Tarub sebagai penyuplai bibit

Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, dalam sambutannya menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, terutama dalam upaya mengembalikan keberadaan air yang mulai menurun akibat kerusakan alam dan alih fungsi lahan. Ia juga menyampaikan rencana pelatihan konservasi lanjutan di Joglo Banyu Bening.

Sementara Ketua Komunitas Jaka Tarub, Kamaludin, menegaskan kembali gerakan konservasi adalah tanggung jawab moral lintas generasi. “Sedekah yang paling mulia adalah sedekah air,” tegasnya.

Kamaludin mengajak semua pihak untuk menjaga alam, agar air tetap menjadi warisan, bukan kehilangan yang meninggalkan air mata.

Usai sambutan, dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan komunitas dan aparat, dilanjutkan penanaman bersama oleh warga. Di tengah kegiatan, Kamaludin menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, dengan harapan agar kegiatan ini menjadi sumbangsih untuk generasi mendatang.

Sosialisasi di Sekolah Air Hujan Banyu Bening
Usai penanaman, peserta diarahkan ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Ngaglik, Sleman. Di sana, digelar sesi sosialisasi bertajuk “Reforestasi untuk Keberlanjutan dan Kemandirian Air.”

Sosialisasi ini diawali dengan sambutan dari perwakilan PUSDAL Jawa, Neta, yang mengapresiasi semangat kolaboratif semua pihak serta menekankan pentingnya kesinambungan gerakan ini.

Di kesempatan yang sama Sri Wahyuningsih kembali menekankan pentingnya air hujan dalam keberlanjutan masyarakat. Ia memperkenalkan jargon khas: “Ngombe banyu udan ben ora edan” (Minum air hujan agar tidak kehilangan kewarasan, red).

Sri Wahyuningsih juga menekankan bahwa solusi terhadap krisis air dimulai dari kesadaran kolektif, termasuk menanam pohon dan mengurangi alih fungsi lahan seperti kebun salak yang justru menyerap banyak air tanpa menyimpannya.

Dalam diskusi, warga dari Gondorejo Lor membagikan pengalaman mereka mengalami krisis air, termasuk harus mendalamkan sumur hingga bergantung pada distribusi air dua hari sekali. Ini menandakan pentingnya peran konservasi dan penggunaan air hujan sebagai alternatif berkelanjutan.

Seorang warga dari Condong Catur juga berbagi pengalaman bahwa sejak rutin mengonsumsi air hujan, kondisi kesehatannya membaik. Ini menjadi pembuka bagi Ning dalam menyampaikan materi tentang 5M: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri—sebagai kunci pemanfaatan air hujan yang sehat.

Sri Wahyuningsih memaparkan teknologi filtrasi air hujan menggunakan Gama Rain Filter dan proses elektrolisa sebagai metode untuk menghasilkan air yang layak konsumsi. Teknologi ini melibatkan sistem penyaringan berlapis, termasuk penyaringan awal di talang, pipa, hingga tandon (penampungan akhir) yang dilengkapi dengan media khusus dan pengolahan listrik rendah.

Para peserta juga diajak praktik langsung dalam merakit alat elektrolisa air hujan, dibagi dalam dua kelompok: Gondorejo Lor dan Condong Catur. Dalam sesi ini, mereka belajar bahwa kualitas air tanah bisa lebih tercemar dibanding air hujan, tergantung bagaimana limbah rumah tangga dikelola. Melalui edukasi ini, masyarakat diajak berpikir ulang tentang sumber air minum sehari-hari mereka.

Acara diwarnai dengan pertunjukan tari dari Sanggar Tari Banyu Bening, yang juga menjadi bagian dari program rutin komunitas tersebut. Kegiatan ditutup dengan pemaparan mengenai manfaat air hujan, praktik penyaringan, dan uji kualitas air menggunakan alat TDS. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata air yang dibawa warga memiliki nilai TDS cukup tinggi, menegaskan pentingnya pengolahan air yang baik. (an).

Kontributor || Ainaya Nurfadila
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.