KPG Adakan Guyub Tandur Di Gunung Sindoro

Caption Foto : Peserta Guyub Tandur sedang menanam pohon Puspa di Gunung Sindoro. Wonosobo. Jawa Tengah. (WARTAPALA INDONESIA/Ratdita Anggabumi T)

WartapalaIndonesia.com, Wonosobo – Komunitas Pendaki Gunung (KPG) mengadakan Guyub Tandur di Gunung Sindoro. Guyub Tandur adalah gerakan menanam bersama.

Lokasi penanaman pohon berada di area camp Gunung Sindoro. Desa Sigedang Ngadirejo. Kecamatan Kejajar.  Wonosobo.  Jawa Tengah

Kegiatan ini mulanya digagas oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Bakopak, Komunitas Pecinta Alam Kendal, KPG, volunteer-volunter di base camp pos pendakian, serta beberapa komunitas pecinta alam.

Mereka kemudian melakukan kepanitiaan bersama untuk kegiatan penanaman.

Teknis kegiatan dimuali pada 25 Desember 2021.  Dengan melakukan pratanam. Bentuknya pembersihan lahan dan membuat lubang tanam.

Kemudian pada 26 Desember 2021, dilanjutkan penanaman pohon.

Agar penanaman berhasil, peserta Guyub Tandur mendapat penyuluhan berupa sosialisasi medan, tata cara menanam, serta perawatan.

Bibit yang dipilih untuk Guyub Tandur adalah jenis pohon Puspa.

Pohon Puspa dipilih karena sudah di uji coba di ketinggian 2500 mdpl. Pohon ini tetap tumbuh dengan baik.

Turut hadir pada Guyub Tandur adalah aparat desa setempat, perwakilan dari Perhutani, Mantri Wilayah Kedu Utara, tokoh masyarakat desa Sigedang, serta beberapa organisasi di sekitar Gunung Sindoro.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum KPG Joko Pamungkas mengatakan, tujuan gerakan ini adalah agar masyarakat di lereng Gunung Sindoro lebih memperhatikan gunung yang menjadi tempat sumber air untuk penghidupan masyarakat.

“Seperti yang kita ketahui bersama, lahan kebun dan pertanian masyarakat makin lama makin naik ke atas.  Maka demi kelangsungan hidup bersama, kesadaran masyarakat dalam kelestarian lingkungan dan alam harus ditingkatkan,” terang Joko Pamungkas.

“Harapan kita wilayah tersebut hijau kembali sehingga dapat menjadi penyangga cadangan air di wilayah lereng dan pedesaan di kaki Gunung Sindoro,” imbuhnya.

Sementara itu, Andri Budi yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum KPG, mengatakan, kesadaran masyarakat terhadap kelestarian dan keseimbamgan alam dapat sama-sama dibangun demi kelangsungan hidup jangka panjang dengan merawat alam.

“Sekarang banyak sumber air yang mati. Kalau merawat alam tidak dimulai sekarang, akan berpengaruh terhadap lingkungan, dan keberlangsungan hidup generasi penerus”, jelas Andri Budi.

Andri Budi berharap agar kegiatan ini bisa menjangkau lebih luas pada personil yang hadir. Adanya tim sukarela untuk perawatan tanaman sangat dibutuhkan untuk hasil yang maksimal.

Andi Budi juga menghimbau ke semua Regional KPG supaya tiap bulan Desember melakukan kegiatan reboisasi secara Nasional sebagai perwujudan visi dan misi KPG.

Untuk diketahui, di wilayah Temanggung, sekitar 13.000 hektar terdapat areal kritis.

Sebagian besar lahan yang sebelumnya ditanami pohon keras, mulai berkurang karena berubah jadi lahan pertanian.

Menurut penelitian, teridentifikasi banyak mata air berkurang debitnya, bahkan ada yang mati. Hal ini semestinya menjadi perhatian masyarakat agar mata air bisa kembali muncul seperti semula, termasuk debitnya. (AS)


Kontributor || Ratdita Anggabumi T, WI 190039
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: