Krisis Danau Limboto : Dikabarkan Akan Menghilang Pada Tahun 2025

Caption foto: Tumpukan sampah di area Danau Limboto, Gorontalo (Sumber Foto : Beritagar.id). (WARTAPALA INDONESIA/ Meilan Mooduto WI 200201)

Wartapalaindonesia.com, GORONTALO – Danau merupakan daerah perairan yang berbentuk cekungan. Danau terjadi akibat peristiwa alam ataupun secara sengaja dibuat oleh manusia yang menyimpan air dari hujan, mata air atau sungai.

Salah satu Danau yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakatnya adalah Danau Limboto, yang terletak di Provinsi Gorontalo. Danau Limboto merupakan cekungan rendah atau laguna yang menampung air 7 sungai besar dan 23 anak sungai kecil.

Danau Limboto melingkupi lima Kecamatan yaitu Batudaa, Limboto, Tibawa, Telaga dan Kota Barat dengan ketinggian 4,5 MDPL. Selain itu Danau Limboto juga memiliki sumber air panas. Letaknya berada di sisi bagian barat Danau yang bersuhu konstan sebesar 75 derajat, dan saat ini dijadikan sebagai kawasan wisata alam.

Menurut sejarah geologi, Danau Limboto terbentuk sekitar dua juta tahun silam. Sebelum terbentuk, Dataran Interior Paguyaman-Limboto itu berupa laut. Danau yang terbentuk tadinya adalah sebuah kaldera dari gunung api yang meletus ribuan tahun lalu.

Sebelum terjadinya krisis pendangkalan parah Danau Limboto dahulu memiliki banyak fungsi dan manfaat yaitu sebagai penyedia air bersih, habitat tumbuhan dan satwa, pengatur fungsi hidrologi, sumber daya alam hayati, sumber perikanan dan pendapatan, pengendali banjir, sebagai kawasan wisata alam juga sarana penelitian dan pendidikan.

Pada tahun 1932, rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7.000 hektar. Pada tahun 1955 kedalaman Danau menurun menjadi 16 meter. Pada tahun 1990 – 2008 kedalamanDanau Limboto tinggal rata-rata 2,5 meter dan luasnya yang tersisia tinggal 3.000 hektar.

Dalam kurun waktu 52 tahun Danau Limboto berkurang 4304 hektar (62.60 %). Jika dihitung per tahunnya, tingkat penyusutan Danau mencapai 65.89 hektar.

Permasalahan besar yang dihadapi Danau Limboto saat ini adalah sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan dan penyusutan. Masalah lain yaitu eutrofikasi, pertumbuhan enceng gondok, pencemaran limbah cair dan padat, meningkatnya laju erosi dari sungai, dan masifnya aktifitas keramba jaring apung dan jaring tancap.

Tanaman enceng gondok yang tumbuh di Danau Limboto.

Eceng gondok dan tanaman mengapung lainnya tumbuh meluas dan mencapai sekitar 70% dari luasan Danau sejak 2016 silam. Penyebarannya dipengaruhi hembusan angin yang berbeda-beda di tiap musim.

Eceng gondok yang telah mengering atau mati akan turun dan mengendap di dasar Danau yang membuat proses pendangkalan lebih cepat. Sehingga ketika curah hujan tinggi Danau tidak dapat menampung air yang kemudian menyebabkan terjadinya banjir lalu menenggelamkan rumah-rumah penduduk, lahan dan menggagalkan panen.

Selain itu banjir juga membawa rerumputan, sampah, lumpur yang kemudian mengendap di dasar Danau dan menambah pendangkalan. Begitu pula sebaliknya, jika terjadi kemarau panjang maka Danau akan mengalami kekeringan parah dan pastinya akan menimpa masyarakat miskin.

Apalagi masyarakat yang mencari nafkah di bidang pertanian atau perikanan sehingga sumber-sumber pendapatannya dipengaruhi. Terlalu banyak atau sedikit air adalah ancaman utama bagi mereka.

Danau Limboto saat ini terancam hilang karena berhentinya kebijakan pengelolaan, perlindungan dan pelestarian juga kesadaran manusia, baik masyarakat sekitar maupun pemerintah yang saling bergantung dan melempar tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan. Nyatanya Danau Limboto masih bertahan pada 8 Danau kritis di Indonesia dan diisukan akan benar-benar menghilang di tahun 2025.

Kontributor || Meilan Mooduto, WI 200121

Editor || Yahya M. Ilyas, WI 200092

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: