Kubangan Buatan untuk Satwa Africa Van Java

Caption foto: Kubangan yang dipasok air oleh petugas, guna kehidupan satwa di Taman Nasional Baluran. (WARTAPALA INDONESIA/ Susi Rianto)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Taman Nasional Baluran, mendengar nama itu memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat awam bahkan warga mancanegara. Merupakan salah satu dari lima Taman Nasional tertua yang ada di Indonesia.

Kawasan ini juga ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO. Terletak di ujung timur Pulau Jawa tepatnya di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.

Kawasan Pelestarian Alam yang ditetapkan pada tahun 1980  ini memiliki luas 25.000 Ha, di dalamnya terdapat berbagai macam ekosistem yang menjadi habitat flora, fauna serta berbagai macam mikroorganisme penyusunnya.

Ekosistem savana dan hutan musim dataran rendah mendominasi  ekosistem  yang ada di Baluran. Dimana terdapat banyak jenis satwa mamalia seperti banteng (Bos javanicus), kerbau ( Bubalus bubalis), rusa (Cervus timorensis) , lutung, monyet ekor panjang dan juga berbagai jenis burung seperti jalak putih punggung hitam, kangkareng perut putih, ayam hutan dan sebagainya, menghuni daerah ini.

Kondisi iklim tropis daerah ini menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dimana musim penghujan yang begitu  singkat dari akhir bulan Desember hingga April, serta musim kemarau yang cenderung lebih panjang pada akhir April hingga Desember membuat daerah ini mimiliki julukan “Africa Van Java”.

Ditambah dengan perpaduan suguhan yang apik dan memesona, bermacam-macam satwa yang ada di dalamnya. Sehingga banyak orang berdatangan dengan tujuan sebagai wisatawan maupun peneliti yang berdatangan ke tempat ini.

Kondisi iklim yang cenderung panas dan kering, merupakan tantangan tersendiri bagi pengelola kawasan pelestarian alam yang dinaungi langsung di bawah Dirjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ini. Dimana air menjadi bagian dari unsur kebutuhan terpenting pada keberlangsungan hidup seluruh mahkluk.

Di Taman Nasional Baluran sebetulnya banyak terdapat kubangan-kubangan alami pada lahan estuary di daerah peralihan antara hutan mangrove dan hutan pantai. Dimana kubangan tersebut bisa dijadikan sebagai tempat minum satwa.

Di lain sisi mengingat banyaknya populasi satwa serta daerah jelajah yang cukup luas maka itu semua dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air terhadap satwa. Hal ini dibuktikan pada sejarah kelam pengelolaan TN dimana pada tahun 92an mengharuskan banyak satwa penghuni Baluran keluar kawasan untuk mencari air bahkan lebih tragisnya lagi banyak satwa yang mati,

Hal ini disebabkan musim kemarau berkepanjangan, yang membuat embung-embung air di Baluran mengering. Tidak ingin mengulangi kejadian tragis sejarah kelam, tidak juga bermaksud menantang kuasa alam. Pihak Taman Nasional menginisiasi program mulia dengan menambah kubangan-kubangan buatan dan bak air minum sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air terhadap satwa.

Dengan memanfaatkan energi panas cahaya matahari yang melimpah, didirikanlah bangunan penampang-penampang Penangkap cahaya matahari (PLTS) Sebagai bentuk pemanfaatan energi yang terbarukan, guna sumber listrik untuk menaikkan pompa portable sedalam 60 meter di bawah tanah, untuk menyuplai kebutuhan air di kubangan Savana Bekol.

Air-air tersebut didapat dari mata air Kacip yang terletak di Gunung Baluran, yang merupakan zona inti, dari kawasan ini. Kurang lebih sejauh 9 km air dialirkan menggunakan pipa yang terbentang dari gunung dan melewati beberapa bak kontrol serta  penampungan sebelum menuju kubangan pada savana Bekol.

Terdapat lima lokasi kubangan buatan yang ada pada savana. Lokasi tersebut merupakan daerah kumpul satwa.

Pada kubangan-kubangan tersebut umumnya sering dijumpai banteng, kerbau, rusa, lutung, burung merak bahkan anjing hutan, Satwa-satwa tersebut ke kubangan untuk sekedar minum bahkan berkubang untuk mengurangi sengatan teriknya matahari.

Namun ketersediaan air yang ada di savana pun dirasa masih belum cukup untuk pemenuhan kebutuhan air, mengingat tingginya jumlah populasi satwa yang ada. Maka pihak pengelola juga menambahkan kubangan dan bak air minum buatan pada tipe habitat hutan musim. Hampir setiap harinya truk tangki kapasitas 5000 liter dan mobil slip on mengisi tempat minum satwa tersebut.

Kubangan yang dipasok air oleh petugas, guna kehidupan satwa di Taman Nasional Baluran.

Kontributor || Susi Rianto

Editor || A. Phinandhita P, WI 150001

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: