Kuliah Whatsapp IYDRR 2.0 : Hoax Dalam Berita Bencana, Bagaimana Menyikapinya?

Pamflet Kulwap IYDRR 2.0. (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, PERS RILIS – Kuliah Whatsapp (Kulwap) 2.0 ini adalah sebuah kegiatan diskusi grup yang diadakan oleh Indonesian Youth On DRR (IYDRR).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia.

Kulwap dilakukan pada hari Rabu (18 Juli 2018), dengan diskusi formal yang berlangsung selama dua jam dari pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB yang dimoderatori langsung oleh Dewinta S. Pratiwi dari IYDRR.

Ada 2 narasumber pada Kulwap 2.0 IYDRR, yaitu Ahmad Arif dari Jurnalis Kompas dan Irina Rafliana dari International Center for Interdisciplinary and Advanced Research (ICIAR) LIPI.

Irina membuka diskusi grup dengan materi komunikasi risiko.

Dilanjutkan oleh Arif dengan pengantar tentang hoax yang tidak hanya melanda Indonesia, namun hampir terjadi di seluruh penjuru dunia.

Menurut Arif, tanpa disiplin bernalar, kita akan kehilangan daya memilah banjir informasi di dunia yang makin kompleks, dimana citra menggantikan realitas, iklan, dan propaganda membaur dengan berita. Bahkan, gosip dan hoax bersanding dengan fakta.

Pada akhirnya, kita akan tergagap. Tak kuasa lagi membedakan fakta dan opini. Tak mengherankan jika hoax, meme, atau olok-olok dari propagandis pun menyebar dengan deras dalam ruang informasi, dan kemudian ditelan mentah-mentah oleh masyarakat yang tunaliterasi sebagai kebenaran.

Di Indonesia, hoax menjadi masalah lebih serius karena rendahnya literasi masyarakat kita. Atau Arif mengistilahkannya bahwa bangsa kita nyaris tuna literasi karena lemahnya kemampuan membaca.

Dalam diskusi ini dibuka tiga termin pertanyaan untuk peserta dengan jumlah sembilan pertanyaan yang diterima oleh moderator dan dilemparkan ke diskusi grup.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh kedua narasumber dan beberapa peserta ikut menanggapi jawabannya atas izin moderator diskusi.

Berikut beberapa contoh pertanyaan serta jawaban yang terjadi saat diskusi grup Kulwap IYDRR 2.0 :

1. Fathoni, Mahasiswa Keperawatan Fak. Kedokteran Univ. Brawijaya (UB) Malang bertanya, “adakah regulasi yang mengatur fake/hoax/unethical news tentang bencana? Sebab ada media mainstream penyebar hoax sehingga menimbullkan kegaduhan dan trauma psikologis demi bombastis berita.”

Arif menjawab, “Kode Etik Jurnalistik sebenarnya sudah mengamanatkan media harus memberitakan berdasarkan fakta. Untuk media sosial, juga sudah ada UU ITE yang bisa memidanakan penyebar hoax.”

2. Sholahuddin Nasution, Medan bertanya, “langkah apa yg terfikirkan selama ini oleh narasumber sebagai solusi ideal untuk menangkal atau setidaknya meminimalkan kerusakan yang diakibatkan penyebaran berita bohong atau berita yang tujuannya hanya untuk mengakomodir suatu kepentingan tertentu ?”

Irina menjawab, “Rekan-rekan dibeberapa WAG sudah mulai saling mengingatkan untuk teliti dan jeli dengan berita. Ciri-ciri hoax biasanya cukup kentara. Misalnya, saat beredar berita tentang saran kesehatan tapi ditulis seolah dari Prof. Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Saling mengingatkan untuk jeli dengan berita, bertanya kembali, dan mengecek ulang perlu jadi budaya kita yang baru untuk menangkal hoax.”

3. Muhammad Ridho, MDMC Banyumas bertanya, “langkah apa yang harus dilakukan jangka pendek maupun jangka panjang oleh para relawan/pegiat/jurnalis terkait mengenai kebencanaan khusus di Indonesia yang sudah menjadi daging di dalam tubuh, dimana sifat-sifat kebiasaan bahwa berita bencana yang tidak ada tangisan maupun drama itu kurang mengundang minat masyarakat untuk menyimak berita tersebut.”

Arif menjawab, “saya kira, media tetap bisa memberitakan bencana tanpa harus mengeksploitasi kesedihan dan air mata, apalagi dengan tendensi yang disengaja. Tulisan atau reportase tentang mitigasi bencana juga bisa menarik. Saya pernah mencoba mempraktikannya di Kompas dengan membuat seri liputan ekspedisi cincin api tahun 2011-2012. Contoh tulisan saya di Kompas beberapa tahun lalu, juga mungkin bisa dibaca bahwa jurnalisme sebaiknya lebih banyak mendorong mitigasi, dibandingkan mengeksploitasi kesedihan saja.”

4. Putra Agina, Stikes Muh Gombong Kebumen bertanya, “bagaimana cara efektif yang bisa dilakukan ketika terjadi penyebarluasan informasi hoax tentang kejadian bencana (bahaya)? Dan kepada siapa klarifikasi tersebut bisa dilakukan?”

Arif menjawab, “sebagai bagian dari masyarakat: cek ulang kebenaran berita, lihat beberapa referensi berita lain yang bisa dipercaya. Baca sampai tuntas, jangan setengah-setengah atau hanya judul saja. Pertimbangkan dampak berita (hoax) jika disebarluaskan, maka stop ikut-ikutan menyebarluaskan berita yang diragukan kebenarannya. Jika terlanjur menyebarkan, perlu segera lakukan ‘damage control’, koreksi dan ingatkan bahwa berita tersebut keliru/hoax. Minta maaf. Jangan ulangi. Jadilah pengguna media daring yang lebih bijak, berhati-hati dalam menyebarkan dan meneruskan berita. Sebagai pegiat kebencanaan, ilmuwan atau jurnalis, bangun kebiasaan baru dengan menyampaikan informasi menggunakan sumber yang baik, terpercaya. Pertimbangkan pembaca/pemirsa saat memproduksi berita atau informasi. Ajak publik untuk ikut juga kritis terhadap informasi yang diterima. Banyaklah membaca referensi atau literatur.”

“Terima kasih atas kesempatannya untuk bergabung dalam Kulwap kedua ini. Grogi sekaligus bangga untuk menjadi narasumber bersama Mas Arif. Salut dengan teman-teman IYDRR juga Mbak Dewinta selaku Admin dan Moderator kita. Sedikit tambahan, ingin sekali bersama dengan rekan-rekan semua di sini untuk rapatkan barisan, belajar science communication, praktikkan, ikut menuliskan pengalamannya, dan ikut mempersenjatai masyarakat dengan ilmu pengetahuan untuk mengurangi risiko bencana,” tutup Irina di penghujung diskusi grup Kulwap 2.0 IYDRR.

Menurut Arif, jalan terbaik melawan hoax, termasuk yang terkait kebencanaan, adalah dengan berhati-hati dan kritis dalam mengunyah informasi, apalagi menyebarkannya. Pikir baik-baik sebelum klik, jangan sampai kita terikut menyebar hoax.

Khusus, terkait jurnalisme, salah satu prinsip dasar jurnalistik adalah disiplin verifikasi. Media seharusnya salah satu tugasnya memverifikasi fakta, bukan sebaliknya turut menyebar berita bohong demi rating, klik, atau like. Dan prinsip saya kira juga penting dilakukan bagi pelaku jurnalisme warga atau siapa saja yang terhubung dengan sosial media.

Hoax tidak akan berdayaguna jika publik sudah cerdas, kritis, dan tidak mudah dibodohi. Itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki literasi yang baik saya kira, diskusi yang sehat seperti kita lakukan malam ini, juga salah satu jalan bagi kita untuk meningkatkan literasi kebencanaan kita.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih

Editor || Alton Phinandhita Prianto

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan