Wartapalaindonesia.com, BANTAENG – Memasuki agenda sidang Pleno 3 Temu Wicara (TWKM) 28 Sulsel, sejarah kembali terukir. Setelah tercetak sejarah dari tuan rumah TWKM 28 Mapala UMI Makassar sebagai penyelenggara TWKM untuk kedua kalinya, kini saudara Mapala di bumi Sulawesi mencetak sejarah baru di Balai Kartini Kabupaten Bantaeng pada Kamis 20 Oktober 2016.
Agenda sidang yang membahas tentang penetapan pengurus Pusat Kordinasi Nasional (PKN), diikuti oleh 10 bakal calon dari Mapala ternama di nusantara. Sepuluh organisasi kandidat PKN itu berasal dari Mapagama UGM, Mapa Atmawana, MPA. Ghubatras, Wanala Unair, Mapala UI, Mapala Tilongkabila, Lawalata IPB, Kampala UPM, Stacia UMJ dan Unasman Sulbar.
Dalam proses seleksi kesanggupan menjadi PKN, Mapagama yang diwakili oleh M. Yusya A menyatakan untuk tidak mengambil amanah sebagai PKN disebabkan ada agenda ekspedisi yang menjadi prioritas organisasi. Mapa Atmawana yang diwakili Seigi Egayansyah juga tidak mengambil amanah dan menyarankan Mapala UI untuk mengambil amanat karena lebih dekat dengan pusat kebijakan.
Kunjungi FB : TWKM 28 Sulsel dan FB : Mapala UMI Makassar
MPA Ghubatras yang diwakili oleh Muda Lahir Ria juga menyatakan ketidak sanggupannya sebab belum ada kordinasi dengan pernagkat organisasi. Wanala Unair yang diwakili Bernad Yogi Abrian juga menyatakan untuk tidak mengambil amanat disebabkan masih mengerjakan program ekspedisi 7 summit dunia di Denali Alaska.
Mapala UI yang diwakili oleh Sri Mulyanto paling banyak mendapat dukungan dari audiens, juga memilih untuk tidak mengambil bagian sebagai PKN sebab masih belum ada amanat dari ketua umum. Berikutnya Mapala Tilongkabila yang diwakili Yoyong Adam juga tidak mengambil amanat disebabkan keberadaan Mapala Tilongkabila yang jauh dari pusat.
Lawakata IPB yang diwakili Viedela A.K juga menyatakan belum ada kordinasi dan sedang mempersiapkan pergantian pengurus. Kampala UPM diwakili oleh M. Akzan Akbar juga menyatakan bahwa ada kesibukan di luar Mapala. Stacia UMJ yang diwakili Arif Pratono juga mengundurkan diri sebab tahun ini hingga tahun depan masih dipercayai menjadi BPS (Badan Pelaksana Sekretariat) pada jambore Mapala Muhammadiyah se-Indonesia.
Dan hanya menyisakan satu kandidat yakni Wawan Rukman yang berasal dari Mapala Unasman Sulbar. Hanya satu peserta bakal calon membuat Mapala Unasman dapat langsung menjadi PKN, namun kenyataannya tidak demikian dipersidangan. Banyak interupsi dan bahkan kembalinya Mapala UI dan Mapagama UGM untuk menjadi PKN sesuai permintaan peserta sidang.
Meski begitu, Mapala UI dan Mapagama UGM tetap saja menolak untuk menjadi PKN. Perdebatan alot mewarnai penenuan PKN, banyak peseta yang mendung diadakan penambahan bakal calon ulang namun tak sedikit yang tetap mendukung Mapala Unasman menjadi PKN. Maka dengan ketukan palu sidang piminan sidang yang terhormat, palu sidang penetapan PKN jatuh pada Mapala Unasman Sulbar pada 23.13 WITA.
Terpilihnya secara syah Mapala Unasman Sulbar sebagai PKN, telah mencetak sejarah baru bagi TWKM 28 Sulsel. Hal ini karena bumi Sulawesi telah menjadi PKN untuk pertama kalinya sepanjang sejarah TWKM, sebab hanya Unissula Semarang Jawa Tengah dan Mapala Unasman Sulbar yang tercatat pernah menjadi PKN selain wilayah Jabodetabeka.
Saat ditanya mengenai kesiapan Mapala Unasman Sulbar menjadi PKN, Pemuda yang memiliki nama lapangan kura-kura ini mengatakan, “kami sudah mengkordinasikan hal ini kepada Ketua Umum, dan kami siap untuk mengemban amanah sebagai PKN.”
“Menjadi PKN memang beban bagi kami, namun kami tidak merasa berjalan sendiri, sebab kami menjadi PKN juga dipilih oleh forum, maka forum juga harus ikut bertanggung jawab bekerjasama untuk melancarkan kinerja PKN,” tutup Wawan yang dapat dihubungi dinomer 082396478202.
Meski menyatakan kesiapannya namun tetap saja ada yang harus mengawal kinerja PKN yang baru, hal ini agar PKN dan hasil TWKM tidak malah mengalami kemunduran. Seperti yang disampaikan Michael Moore saat ditanya mengenai hasil penetapan PKN terbaru, “semoga ini bukan suatu kemunduran dimana PKN terpilih tidak berada di dekat Jabodetabeka, sebab dari 10 tahun terakhir, PKN selalu ada di Jabodetabeka, karena apa? Karena selain ada kedekatan, ada pola sistem komunikasi yang sama dengan pemerintahan pusat.”
“Perlu disadari juga bahwa hasil sidang pleno kali ini banyak memutuskan tugas dan wewenang yang dilimpahkan oleh forum, yang seharusnya bisa berkontribusi pada keberlangsung TWKM justru memperlemah kondisi TWKM, sebab keberadaan dan segala macamnya itu. Karena ketika PKN keluar dari zona pemerintahan, disitu ada pola komunikasi yang terputus, artinya ada pola komunikasi baru yang masuk yang belum tentu sesuai dengan apa yang ada di pemerintahan,” lanjut Moore.
“Ketika PKN punya tugas dan wewenang seperti itu, berarti si Kordinator PKN harus berani keluar dari sisi kemahasiswaannya itu sendiri, sebab ketika dia sudah ditugaskan seperti itu, ada tugas besar yang menanti dia di Jakarta artinya dia harus sering-sering ke Jakarta.”
“Satu hal lagi yang perlu dipertanyakan itu begini, kita mahasiswa dan organisasi TWKM itu merupakan semi organisasi yang nirlaba, jadi tidak ada uang di situ. Maka ketika hal itu terjadi, berarti ada konsekuensi yang harus dia tanggung, akan tetapi apabila dia bisa menghadapi itu, ya berarti mungkin dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada.”
“Apalagi keputusan forum juga melimpahkan beban ganda pada PKN, dimana PKN yang sudah terbebani dengan tugas dan wewenangnya sendiri, kini malah diberi beban dari rekomendasi sidang komisi, dimana harusnya tugas yang dilimpahkan ke PKN itu tugas tim delegasi, ternyata keputusan sidang di forum malah mensyahkan tugas dan wewenang tim delegasi ke PKN, tutup Michael Moore.”
Keputusan forum juga tak terlepas dari tim perumus, di mana tugas tim perumus adalah sebagai stering comitte (SC) yang bertugas mengarahkan topik dan menjalin kerjasama dengan pimpinan sidang.
“Ditata laksana memang tidak tercantumkan bahwa PKN harus dari daerah Jabodetabeka, namun PKN harus menjadi jembatan dari PKD dan tim delegasi untuk bersimposium ke dikti maupun pejabat terkait. Jadi PKN yang tidak berada di Jabodetabeka itu tidak ada masalah asal konsekuensinya harus dijalankan,” tutur Revi anggota tim perumus asal Palawa Atmaja Jogjakarta.
Terlepas dari itu semua, sidang pleno di hari ke tiga berjalan dengan lancar. Moh. Thoariq sebagai Pimpinan sidang 1 bersyukur tentang hasil Temu Wicara yang telah dicapai sejauh ini, “Sidang kali ini lebih terkontrol dan peserta sudah mulai satu pemahaman.”
Sejarah turut tercetak bagi presidium sidang, di mana untuk kali kedua berturut-turut IAIN jadi presidium sidang di TWKM. Pertama di TWKM 27 Karawang Jawa Barat dari IAIN Palopo dan kini di TWKM 28 Makassar Sulsel dari IAIN Palu.
Seolah terus ingin menorehkan sejarah di TWKM 28 Sulsel, Mapala Unpati Ambon pun turut mengulang kembali sejarah kala Mapala Unpati Ambon hadir kembali mengikuti TWKM, hal ini ditandai dengan jadinya Naro salah satu anggota Unpati Ambon sebagai presidium sidang. Mapala Unpati Ambon tercatat mengikuti TWKM terakhir saat TWKM UPI Bandung.
Laporan : A. Phinandhita P.
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)