Lukman Siagian, Pendiri Salam Sumut yang Kini Fokus Pelestarian Sungai Deli

Caption foto : Ketua Komunitas Salam Sumut, Lukman Hakim Siagian (WARTAPALA INDONESIA/ Dohu Lase)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Di kalangan anak muda Kota Medan, terutama kaum pegiat aktivitas luar ruang (alam bebas), sosok Lukman Hakim Siagian terbilang tak asing.

Sejak tahun 2018, ia bersama komunitas pecinta alam yang didirikannya, Sahabat Alam Sumatra Utara (disingkat Salam Sumut), fokus pada upaya pelestarian Sungai Deli di kawasan Sei Mati, Medan.

Tak hanya rutin aksi bersih-bersih dan penanaman pohon, Lukman dkk juga terus-menerus mengedukasi masyarakat di sana perihal cara mengelola sampah, salah satunya Eco-Brick, kampanye pengurangan sampah plastik, serta membuat Pos Jaga Sungai Deli.

Teranyar, Lukman dkk mendirikan Sanggar Anak Sungai Deli (disingkat Sasude) sebagai wadah bagi anak-anak di kawasan tersebut untuk menyalurkan bakat tari dan teater. Semua itu ia lakukan ikhlas, tanpa dibayar.

Lukman lahir di Aek Kanopan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, tahun 1991 silam. Semenjak kuliah, mantan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumut ini aktif berkegiatan sosial.

Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa di kampusnya, anggota Forum Mahasiswa Penyelamat Hutan dan Lingkungan Sumut, pendiri sanggar teater Hukum-82, berperan dalam Roadshow Opera Batak Sumut-Jawa-Eropa – Perempuan di Tepi Danau, Ketua Pelaksana Temu Teater Mahasiswa se-Nusantara Kota Medan, lembaga Rumah Karya Indonesia, dan Festival Danau Toba 2018 Kabupaten Dairi.

Sebelum bersama Salam Sumut, Lukman sendiri memang pernah terjun menjadi Relawan Sungai Deli mulai tahun 2012 hingga tahun 2015. Ia menargetkan Sungai Deli awalnya karena ingin memiliki peran bagi masyarakat dan kelestarian alam Kota Medan.

“Kumuh parah. Sampah plastik di mana-mana. Sampah rumah tangga menumpuk hingga menghambat aliran sungai. Kita melihat langsung bagaimana para penduduk menceburkan sampahnya ke sungai. Sampah paling parah yang pernah kita temui adalah limbah cair,” beber Lukman saat berbincang dengan awak Wartapala Indonesia, Selasa (18/5/2021).

Pengabdian Lukman untuk Sungai Deli sempat terhenti tahun 2015 karena pulang kampung di Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba. Tahun 2017, Lukman kembali ke Medan, kemudian mendirikan komunitas Salam Sumut.

“Awalnya kegiatan Salam Sumut seputar outdoor activity juga. Setelah setahun berdiri, kita terpikir berbuat sesuatu untuk alam. Kan pecinta alam enggak melulu soal petualangan, kamping, tetapi juga soal lingkungan dan konservasi. Singkat cerita, kita lakukan asesmen dan akhirnya terpilihlah Sungai Deli,” ungkap pimpinan aksi Medan World Clean-up Day 2019 ini.

Ketika disinggung, pemilik akun Instagram @parsigalapang ini pun mengutarakan kekecewaannya terhadap pemerintah, dalam hal ini Pemko Medan dan Pemprov Sumut. Menurutnya, pemerintah masih setengah hati mengurus Sungai Deli.

“Mengatasi masalah sampah Sungai Deli memang bukan tugas pemerintah aja, tetapi juga masyarakat. Di sini saya mengatakan pemerintah belum serius, karena belum melihat adanya langkah konkret untuk menangani kerusakan yang sudah terjadi, mencegah, serta menggiring dan menekan perilaku masyarakat untuk tidak buang sampah ke sungai,” ujar Lukman.

Lukman mencontohkan Perda Kota Medan nomor 6 tahun 2015, yang mana menentukan pidana kurungan tiga bulan atau denda Rp10 juta bagi pembuang sampah sembarangan, tetapi tidak terasa kegunaannya. Begitu juga program Bank Sampah.

“Apakah udah ada kasus? Belum pernah. Padahal kenyataannya banyak kasus terjadi. Kalau sebatas pasang spanduk imbauan saja, mana berpengaruh. Nah, khusus di permukiman bantaran Sungai Deli. Bagaimana mau menekan perilaku masyarakat untuk tidak buang sampah ke sungai, sementara sarana buang sampah, berupa bak atau TPS, tak ada,” katanya.

“Menangani Sungai Deli ini butuh langkah konkret, tetapi bukan penggusuran. Contoh: pembuatan jaring sampah di muara parit, pengadaan pos jaga dan petugas untuk pemeliharaan, controlling air untuk mencegah banjir, dll. Ketimbang anggaran habis untuk kegiatan seremonial, diskusi, dan semacamnya, mending diarahkan ke hal-hal konkret macam ini,” sambungnya.

Ia juga geram terhadap pemerintah yang bagai tak mendukung kampanye kurangi sampah plastik. “Tak ada kebijakan tegas dari pemerintah untuk membatasi peredaran kemasan plastik,” tambahnya.

Kontributor || Dohu Lase

Editor || Alton Phinandhita Prianto, WI 150001

 

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: