Lulu Kartika : Ingin CAV OT Mountain Segera Bubar

Lulu Kartika membersihkan batu dari coretan vandal. SOSOK. (WARTAPALAINDONESIA/ Nindya Seva K)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Sepak terjangnya di dunia pegiat alam cukup santer. Meski dibilang pemain baru, namun manfaat kehadirannya bersama gerakan Clear Art Vandalism On The Mountain (CAV OT Mountain) langsung bisa dirasakan.

Berbekal paint remover, thinner, sikat baja, kain lap, botol spray, sarung tangan, kuas, dan masker. Lulu bersama rekan-rekannya bertekad untuk secara nyata melakukan gerakan anti vandalisme dengan turun langsung menjadi perawat bagi batu dan pohon korban vandal.

Tak sedikit biaya yang dihabiskan untuk melaksanakan kegiatan CAV OT Mountain. Jika ditaksir, minimal satu juta dalam sekali kegiatan. Namun, mengapa pada akhirnya pendiri CAV OT Mountain tersebut justru ingin membubarkan gerakannya?

Penasaran, mengapa founder CAV OT Mountain itu justru ingin segera membubarkan gerakannya. Kali ini, WI secara eksklusif mewawancarai Lulu Kartika untuk mendapat jawaban.

Apa awal mula yang melatarbelakangi Anda mendirikan gerakan CAV OT Mountain?

“Awal mula saya mendirikan gerakan CAV OT Mountain ini saat saya mendaki Gunung Lawu pada bulan Juni 2013 bersama teman-teman kuliah saya,” buka gadis kelahiran Sragen, 10 Agustus 1993 tersebut.

“Saat itu adalah pendakian yang ketiga kalinya di gunung Lawu. Berbeda sekali saat pertama kali melangkahkan kaki di gunung Lawu pada tahun 2011,” lanjutnya.

“Sampah, coretan maupun vandalisme di jalur pendakian pun seperti tempat pembuangan akhir. Sejak saat itulah, saya merasa prihatin dan terbesit ingin mendirikan gerakan yang mengajak teman-teman penggiat alam untuk membersihkan vandalisme dan sapu bersih sampah saat mendaki,” ungkapnya.

“Tapi saat itu saya masih kuliah semester 3, dan saya merasa masih punya tanggung jawab kepada orang tua untuk menyelesaikan studi sarjana saya,”  tambah gadis yang tercatat sebagai Mahasiswi S1 FKIP PGSD (2011-2015) di Universitas Muhammadiyah Surakarta kala itu.

Kapan Anda mendirikan gerakan CAV OT Mountain?

“Setelah lulus kuliah bulan Mei 2015 saya mengikuti ajang pemilihan Duta wisata di kabupaten saya, tak disangka saya mendapatkan gelar Juara Persahabatan dan Juara 1 Putri Duta Wisata Kab. Sragen 2015 waktu itu,” jawab gadis yang kini bekerja sebagai Staf Pemasaran BPR BKK Karangmalang itu.

“Dalam benak saya, dengan gelar yang saya jabat, saya bisa mendapatkan banyak dukungan dari beberapa pihak agar setiap kali kegiatan bisa mendapatkan donatur dan perijinan dipermudah,” lanjutnya.

“Namun, semua itu tidak sesuai harapan. Saya pun bertekad bahwa gerakan ini pun harus terealisasi.  Gerakan ini pun saya resmikan pada saat project pertama saya di Gunung Merapi 31 Desember 2015 sampai dengan 1 Januari 2016,” katanya yakin.

Kendala apa yang dihadapi saat awal mendirikan gerakan CAV OT Mountain?

“Kendala saat mendirikan gerakan ini adalah yang pertama pasti dana, karena emang ini pyur dari pribadi tanpa embel-embel komunitas apapun,” jawab penyuka olahraga basket tersebut.

Lalu bagaimana cara mengatasai hal tersebut?

“Tak kurang akal, untuk menggalang dana kegiatan pertama saya pun memanfaatkan bakat menggambar wajah (sketsa),” ungkapnya.

“Selain itu saya beranikan juga untuk menembusi langsung pihak-pihak yang terkait seperti TNGMM dan pengelola Basecamp agar mendapatkan ijin dan free biaya administrasi. Dan memasang fliyer di akun sosmed saya,” tambah penyuka sate kambing tersebut.

“Alhamdulillah ada beberapa orang yang bersedia menjadi donatur dalam kegiatan CAV OT Mountain. Karena dalam setiap kegiatan, saya tidak memungut biaya apapun dari setiap peserta, dari perlengkapan, tiket masuk, dan kaos,” lanjutnya.

“Tetapi saya tidak melarang kepada para peserta apabila mau membantu membawa perlengkapan sendiri,” imbuhnya.

Bagaimana cara Anda mengenalkan manfaat gerakan CAV OT Mountain?

“Cara mensosialisakan kegiatan saya pada masyarakat, setiap kali kegiatan pasti akan ada dokumentasi dari foto maupun video yang akan saya publish di akun sosmed dan blog CAV OT Mountain,” jelasnya.

“Dan Alhamdulillah sekarang sering diundang untuk sharing-sharing kegiatan CAV OT Mountain dibeberapa acara,” syukur gadis yang juga mendapat amanah di Departemen Kreatif Ikatan Mas Mbak Jateng sejak tahun 2015 hingga sekarang.

Bagaimana tanggapan masyarakat tentang CAV OT Mountain?

“Tanggapan masyarakat beragam, banyak yang mendukung positif tetapi juga tak sedikit yang merespon negatif,” jawab gadis yang akrab di sapa Bu Guru tersebut.

“Respon negatifnya , banyak yang membully dan mencibir bahwa saya cuma mendirikan gerakan pencitraan, mendirikan gerakan cuma mencari popularitas, gerakan sia-sia dan masih banyak lagi berita tidak menyenangkan tentang saya. Tetapi saya tidak akan pernah patah semangat dengan hal itu semua,” jelasnya.

“Bahkan kegiatan CAV sudah dilaksanakan di beberapa gunung di Jawa maupun  luar Jawa, tetapi respon dari Pendaki lain maupun komunitas saat kegiatan yang mau membantu langsung dari awal project sampai sekarang bisa dihitung tangan,” ungkapnya prihatin.

Apa yang memotivasi Anda untuk terus menjalankan gerakan CAV?

“Motivasi terbesar saya adalah ingin mengajak pendaki maupun penggiat alam lainnya, bahwa mendaki bukan hanya sekedar menikmati alam tetapi juga merawatnya,” jelasnya.

“Karena banyak sekali sekarang yang asal-asalan mendaki tanpa mengetahui prosedur dan etika dalam pendakian. Sehingga banyak sekali kejadian yang tak diinginkan, seperti gunung atau alam menjadi kotor dari tangan tak bertanggungjawab,” sebutnya.

Siapa saja yang boleh berpartisipasi dalam gerakan CAV?

“Semua kalangan bisa ikut, asalkan ada niat yang benar-benar tulus ingin menjaga alam, dan fisik juga mendukung,” jawab Lulu.

“Karena  kegiatan CAV bukan hanya sekedar mendaki, tetapi juga harus membutuhkan fisik yang bagus, bisa diliat kita mendaki bukan hanya membawa perlengkapan mendaki saja tetapi juga perlengkapan CAV, selain itu juga bibit pohon, karena saat kegiatan jika perhutani memberikan bantuan bibit kita juga melakukan penghijauan,” lanjutnya.

“Bukan ratusan ataupun sampai ribuan bibit. Saya memberikan satu hingga dua bibit per orang, agar penanamannya maksimal. Buat apa banyak menanam tetapi kalau tidak ada usaha perawatannya,” tambah Lulu.

Apa harapan kedepan bagi gerakan CAV?

“Harapannya CAV OT Mountain segera bubar, karena visi dan misi CAV OT Mountain sudah tercapai.  Para pendaki sudah sadar untuk merawat alam, sehigga CAV OT Mountain tidak mengadakan kegiatan lagi karena alam kan sudah bersih,” kelakarnya.

“Pengennya sih juga terlahir CAV CAV yang lainnya, bukan cuma di Sragen tapi di luar kota bahkan di luar pulau. Amiin,” harap Lulu.

Jika CAV OT Mountain sudah bubar, apa yang ingin dilakukan Bu Guru?

“Jika CAV bubar, pengennya diriin sekolah gratis buat naka jalanan,” jawab gadis yang menunjuk Gunung Raung sebagai gunung favoritnya.

Terakhir, apa pesan Anda pribadi bagi sesama penggerak CAV OT Mountain?

“Pesan-pesannya bahwa, tidak akan pernah ada rasa lelah, hingga mereka semua sadar bahwa yang patut dihargai bukan hanya manusia, tetapi alam dan seluruh isinya,” tutup penyuka warna merah maroon yang siap sharing tentang CAV OT Mountain di nomer 0822-2588-4842.

Kontributor : Nindya Seva Kusmaningsih

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: