Oleh : Muhammad Azra Azzahiri
Founder Komunitas “Ayo Berdampak”
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF — Di tengah krisis lingkungan yang semakin genting, gerakan yang semestinya menjadi garda terdepan justru terlihat lumpuh. Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), yang dahulu dikenal sebagai simbol keberanian, intelektualitas, dan kepedulian terhadap alam, kini terlihat kehilangan arah.
Dulu, menjadi bagian dari Mapala adalah sebuah kebanggaan, karena seluruh aktivitasnya menjadi ruang belajar, ruang perenungan, dan ruang perjuangan. Namun sekarang, hampir seluruh Mapala di Indonesia hanya menjadi ruang pewarisan tradisi lama yang kehilangan makna.
Budaya yang dulunya produktif—melahirkan gerakan, ide, dan kesadaran kolektif—bergeser menjadi budaya konsumtif. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya mengekspresikan cinta terhadap alam dan masyarakat, kini hanya dijalankan sebagai formalitas. Narasi “pencinta alam” terdengar megah, tetapi miskin ide dan gagasan.
Sementara itu, mahasiswa hari ini sudah berubah. Mereka lebih rasional, kritis, dan menuntut relevansi. Mereka tidak lagi tertarik pada organisasi yang hanya berisi glorifikasi masa lalu. Tidak ada waktu untuk mengikuti organisasi yang tidak memberi manfaat nyata. Mapala yang hanya hidup dari romantisme dan rutinitas akan ditinggalkan karena tidak lagi menjadi ruang yang produktif.
Padahal, jika melihat sejarah Mapala, pendirian Mapala UI pada 1964 oleh Soe Hok Gie dan kawan-kawan bukanlah semata-mata karena hobi beraktivitas di alam bebas. Itu adalah bentuk perlawanan terhadap situasi politik kampus yang busuk. Mereka mendaki gunung dan menjelajah alam untuk mengenal Indonesia dari dekat, menyatu dengan rakyat, dan menumbuhkan nasionalisme yang kuat.
Satu dekade setelah pendirian Mapala UI, kualitas idealisme Mapala dibuktikan melalui Gladian Nasional IV di Ujung Pandang (sekarang Makassar) pada 1974. Dalam forum yang mempertemukan 44 organisasi pencinta alam dari seluruh Indonesia, mereka merumuskan Kode Etik Pencinta Alam Indonesia—sebuah pernyataan sikap kolektif yang menekankan pentingnya pelestarian alam, tanggung jawab sosial, dan pengabdian kepada bangsa. Ini merupakan hasil diskusi lintas organisasi, daerah, dan perspektif, bukan sekadar jargon kosong. Inilah bukti kuatnya budaya gagasan Mapala saat itu.
Dalam setiap upacara atau seremoni kegiatan Mapala, Kode Etik Pencinta Alam ini masih kerap dibacakan dengan lantang. Namun, apakah isinya benar-benar dipahami? Atau sekadar menjadi mantra yang diulang-ulang, sama seperti kegiatan yang terus dijalankan tanpa makna mendalam? Seharusnya, glorifikasi sejarah menjadi pemantik semangat untuk terus membawa asas dan tujuan Mapala dalam setiap aktivitasnya.
Hari ini, berapa banyak Mapala yang mampu menghasilkan rumusan seperti itu? Apakah Mapala masih menjadi pelopor, atau justru sekadar pengikut yang mengekor pada budaya lama yang tak lagi relevan?
Kampus telah berubah. Mahasiswa berubah. Isu-isu pun semakin kompleks. Tetapi Mapala justru diam di tempat. Ketika sebuah organisasi tidak mampu menjawab realitas baru, maka organisasi itu akan kehilangan relevansi bagi generasi yang tumbuh bersamanya.
Mapala seharusnya menjadi penyambung nalar ekologis di lingkungan mahasiswa. Menjadi pelopor gerakan kesadaran lingkungan. Bukan hanya simbol, melainkan teladan nyata. Mapala harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, hadir dengan budaya baru yang progresif, kontekstual, dan produktif. Bukan sekadar mempertahankan rutinitas tahunan, tetapi menjawab pertanyaan: “Apa yang harus dilakukan hari ini?”
Generasi sekarang adalah pemegang estafet, dan itu harus dibawa dengan kualitas. Mapala sudah tua dan penuh sejarah. Maka dari itu, Mapala harus berani membaca zaman dan menciptakan budaya baru untuk memperpanjang napas perjuangannya. Jika tidak, Mapala akan haus oleh waktu dan akhirnya mati berdiri—menjadi nama tanpa isi, simbol tanpa gerakan.
Kebangkitan Mapala tidak akan pernah terwujud jika organisasi ini terus berlindung di balik romantisme sejarah tanpa kesediaan melakukan otokritik yang jujur dan radikal. Mapala harus berani membuka luka-luka internal: membongkar sistem kaderisasi yang usang, mengakui bahwa banyak kegiatan hanya formalitas kosong, dan mengevaluasi ulang nilai-nilai yang selama ini diagung-agungkan namun tak lagi dijalankan.
Inilah saatnya Mapala tidak hanya menjadi saksi, tetapi pelaku perubahan. Jika tidak, Mapala bukan hanya akan ditinggalkan, tetapi akan kehilangan legitimasi moralnya sebagai garda terdepan dalam gerakan lingkungan hidup mahasiswa.
Foto || Dokumen Mata Alam
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)