Magister Manajemen Bencana UGM Kolaborasi dengan Komunitas Banyu Bening Selenggarakan Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

WartapalaIndonesia.com, GUNUNGKIDUL – Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada (MMB UGM) berkolaborasi dengan Komunitas Banyu Bening selenggarakan pengabdian masyarakat di Desa Tepus, Gunungkidul. Pada 30 Mei 2025.

Tepus adalah wilayah tandus yang terbentuk dari batuan karst, membuat air tanah sulit ditemukan dan air permukaan cepat meresap. Meski demikian, wilayah ini tetap menyimpan berkah dalam bentuk air hujan yang datang musiman.

Tim MMB UGM dipimpin oleh Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc. bersama Dr. Dina Ruslanjari, M.Si. serta 3 mahasiswa yakni Muhamad Irfan Nurdiansyah, Nabilla Auriel Fajarian, dan Silfani.

Kolaborasi MMB UGM dan Komunitas Banyu Bening mencoba menghidupkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap air hujan sebagai sumber utama kehidupan dengan pendekatan ilmiah dan teknologi yang tepat guna.

Bertempat di rumah warga Dusun Pakel RT 1 RW 2, Harmoko, dilakukan pemasangan sistem pemanenan air hujan yang dilengkapi teknologi elektrolisis dari Komunitas Banyu Bening. Sistem ini mampu menyaring dan mensterilkan air hujan hingga layak konsumsi.

Tak hanya dipasang, alat ini menjadi sarana edukasi masyarakat agar mampu mandiri dalam memanen dan merawat air hujan mereka sendiri.

Saat menyampaikan edukasi, founder Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih mengatakan, air hujan adalah anugerah. Tetapi masih banyak orang yang menganggapnya kotor karena tampungan mereka terbuka, tidak terawat.

“Padahal, dengan sedikit pengetahuan dan alat sederhana, air hujan bisa lebih sehat dari air tanah atau air PAM,” jelas Sri Wahyuningsih.

Terkait mahasiswa MMB Muhamad Irfan Nurdiansyah mengatakan pengalaman ikut kegiatan ini membuka mata mahasiswa akan pentingnya teknologi yang selaras dengan alam. Kami belajar langsung dari masyarakat yang beradaptasi dengan iklim ekstrem. Di musim hujan mereka bisa banjir, tapi di musim kemarau harus membeli air.

Air hujan seharusnya tak dibuang, tapi dirawat dan digunakan. Ini bukan hanya teknologi, tapi juga nilai kehidupan, kembali pada apa yang sudah disediakan alam,” pungkasnya. (*).

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.