Mapala adalah Rumah Bagi Kaderisasi Lingkungan, Kemanusiaan dan Keindonesiaan

Caption foto : Penulis sedang diskusi dengan sesama pecinta alam. (WARTAPALA INDONESIA / Wandi Wahyudi).

Oleh : Wandi Wahyudi, WI 200223
Anggota Luar Biasa (ALB) Mata Alam Unfari Bandung

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) bukan sekedar organisasi kemahasiswaan yang menggeluti kegiatan di alam bebas. Lebih dari itu, Mapala merupakan rumah kaderisasi yang memainkan peran penting dalam pembentukan karakter, kepedulian lingkungan, kemanusiaan, dan rasa kebangsaan bagi anggotanya.

Hal itu selaras dengan apa yang dikatakan Soe Hok Gie (pendiri Mapala UI) mengenai tujuan Mapala. Dalam artikelnya yang berjudul Bersama Mahasiswa UI Mengikuti Kembali Jalan Yang Sudah Hilang Di Pangrango, Gie mengatakan, “Tujuan Mapala ini adalah mencoba membangun kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat, dan almamaternya”.

Bila merujuk pada perkataan Soe Hok Gie, maka ada beberapa poin besar yang sangat prinsipil, yaitu idealisme, enviromentalisme, humanisme, dan nasionalisme. Keempat poin ini adalah nilai atau norma dasar (fundamental norm) yang dapat dijadikan sebagai pedoman abstrak organisasi, atau ide penuntun (guiding idea). Di samping etika dan kode etik pencinta alam yang sudah terkodifikasi.

Soe Hok Gie memasukkan idealisme ke dalam kerangka tujuan Mapala bukan tanpa alasan. Pada saat itu (tahun 1960-an), banyak mahasiswa yang terkooptasi politik praktis yang menjadikannya oportunis dan hipokrit. Ditambah, banyak juga mahasiswa yang terbawa arus politik sehingga mereka lupa akan jati dirinya sebagai mahasiswa, dan mereka kehilangan kebanggaan terhadap almamaternya sendiri. Sedangkan Gie, sangat tidak menyukai hal itu. Ia mencintai almamaternya, dan ia teguh dengan independensinya.

Perlu diketahui, sebenarnya Mapala mulai menanamkan nilai-nilai kepencintaalaman sejak awal proses kaderisasi. Melalui gerbang-gerbang kaderisasi seperti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar), Masa Bimbingan (Mabim) atau Pendidikan Lanjutan (Dikjut), dan pengembaraan. Proses pendidikan di Mapala syarat akan pembentukkan karakter. Sebab memang karakter itulah wajah paripurna dari seorang pembelajar. Setiap anggota Mapala akan berproses, membina, dan membentuk dirinya sendiri. Mapala hanya institusi; wahana bagi mahasiswa yang ingin menjadi bagian dari kontributor lingkungan.

Anggota Mapala akan dibekali pemahaman tentang ekosistem dan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Di samping itu, ada kegiatan seperti diskusi isu-isu lingkungan, kegiatan mendaki gunung, penjelajahan hutan, dan penyusuran sungai yang tidak hanya bertujuan untuk rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan.

Melalui kegiatan di alam bebas, anggota Mapala belajar mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam, termasuk pengelolaan sampah, perlindungan flora dan fauna, serta praktik-praktik ramah lingkungan lainnya. Mapala juga terlibat dalam berbagai aksi nyata untuk pelestarian lingkungan, seperti penanaman pohon, rehabilitasi hutan, dan kampanye kebersihan. Aksi ini menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan yang lebih luas.

Selain aspek lingkungan, Mapala juga menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Anggota Mapala dilatih untuk memiliki empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Mapala sering mengadakan kegiatan bakti sosial di daerah-daerah terpencil, memberikan bantuan dan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini termasuk pengobatan gratis, bantuan bencana, dan pendidikan.

Anggota Mapala dibekali dengan keterampilan pertolongan pertama dan penyelamatan di alam bebas. Ini menjadikan mereka siap siaga dalam situasi darurat, baik di alam maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kecakapan yang dimiliki anggota Mapala sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Sehingga pada saatnya nanti, ia akan menjadi aktor penting yang dapat diandalkan di masyarakat.

Dalam konteks kebangsaan, Mapala berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Melalui berbagai kegiatan dan program yang membantu anggotanya memahami dan menghargai keberagaman budaya, sejarah, dan geografi Indonesia.  Seperti halnya kegiatan ekspedisi yang sering kali membawa anggotanya ke berbagai penjuru Nusantara, memperkenalkan mereka pada keindahan alam dan keberagaman budaya Indonesia. Ini memperkuat rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Seperti Soe Hok Gie bilang, “mencintai Indonesia harus mengenal objeknya secara langsung”.

Mapala juga mempromosikan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan melalui program-program yang mendorong interaksi dan kerja sama antar anggota dari berbagai latar belakang etnis dan budaya. Mengingat asas persaudaraan antar anggota bahkan organisasi begitu erat dan hangat dalam bingkai kekeluargaan. Dari Sabang sampai Merauke, berjajar sekret-sekret Mapala. Itulah rumah bagi anggota Mapala. Sekretariat Mapala selalu terbuka bagi anggota Mapala manapun. Bahkan tidak hanya bagi anggota Mapala, siapapun akan diterima dengan baik, bila tujuan dan kepentingannya baik.

Mapala adalah rumah kaderisasi yang memainkan peran vital dalam membentuk individu yang peduli terhadap lingkungan, memiliki empati dan solidaritas kemanusiaan, serta cinta terhadap tanah air. Melalui proses kaderisasi yang komprehensif, Mapala tidak hanya melahirkan pencinta alam yang handal, tetapi juga individu yang siap berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. Dengan demikian, Mapala layak disebut sebagai rumah bagi kaderisasi lingkungan, kemanusiaan dan keindonesiaan. (WW)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.