Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan (Al Qoriah: 1-5)
Oleh : Zaeni Mansyur
Mapala UPN “Veteran” Yogyakarta Angkatan IX-1998
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Mapala sebagai individu maupun organisasi adalah bagian dari masyarakat dunia yang global. Menjadi “penghuni kolong langit” yang sama. Hidup bersama, di atas daratan, minum air dan menghirup udara yang sama. Dengan demikian ketika Mapala bicara hari kiamat itu bukan sesuatu yang mengada-ada. Namun ada tema yang mendalam yaitu sebuah kesadaran dirinya akan keberadaannya di muka bumi. Menjadi kholifah bumi, yang selama ini ditempati dan jelajahinya, hingga hari akhir (kiamat).
Syukur adalah kemampuan ber-Orientasi Medan (Ormed), seperti dalam ilmu navigasi darat yang kita pelajari selama ini. Dengan alat bantu peta dan kompas, kita melakukan resection dan intersection. Dengan demikian kita mengetahui keberadaan/posisi kita di mana.
Syukur adalah berkesadaran diri akan ruang dan waktu. Sedang divmana & kapan kita berada. Seorang muslim, dia akan melakukan syukur dengan bernavigasi, minimal sehari setiap lima waktu. Dengan ibadah yang namanya sholat lima waktu. Sholat ini teratur dengan derajat arah kiblat. Sholat lima waktu ini juga berorientasi waktu matahari; subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Manusia setiap hari dilatih untuk bernavigasi; sadar letak dan sadar waktu.
Syarat sah daripada sholat adalah berthoharoh (bersuci) dengan berwudhu. Artinya seorang muslim juga harus berorientasi akan keberadaan mata air dan alirannya. Bicara mata air kita akan terhubung dengan musim, kelestarian hutan dan daerah penyangganya.
Air tidak hanya untuk bersuci, namun juga terkait dengan 2 ibadah global yaitu : Ibadah zakat fitrah (setiap bulan Romadhon) dan ibadah qurban (setiap bulan Dzulhijjah), yang sarat dengan makna kelestarian alam yaitu :
- Zakat fitrah identik dengan beras, sawah, air berlimpah. Atau bahan makan pokok setempat, yang tentu tumbuhan ini ditanam di atas tanah subur dan butuh air. Profesi yang menekuni ini adalah pecinta alam yang disebut petani.
- Ibadah Qurban bisa terselenggara karena ada hewan ternak yang dipersiapkan setahun/dua tahun sebelumnya. Hewan qurban butuh pakan rumput/rambanan. Artinya bumi ini membutuhkan lay out (tata letak) berupa ruang terbuka hijau yang cukup. Profesi yang menekuni ini adalah pecinta alam yang disebut peternak.
Dedikasi profesi yang sangat dekat dengan alam, profesi mulia dan paling tua di muka bumi ini yaitu petani dan peternak, yang sudah ada semenjak masa Nabi Adam alaihisalam, periode awal manusia hidup di alam bumi
Bencana alam; kekeringan, kebakaran hutan dan banjir adalah penanda keseimbangan alam telah berubah, dampak pemanasan global (global warming). Perilaku manusia yang merusak itu menimbulkan bencana alam yang kemudian disebut kiamat kecil (kiamat Sugro). Dan semakin menyadari kita saat ini berada di mana pada periode kehidupan apa?
MAPALA : Manusia Pengagum Alam
Kehidupan di bumi ini adalah perjalanan panjang yang bermula dan berakhir. Al Quran berisi tentang ayat-ayat qauliyah yang memberikan petunjuk awal dan akhir kehidupan dunia. Dan matahari, bumi, langit, gunung, sungai, hutan, lautan adalah ayat-ayat kauniyah (alam semesta) yang mesti juga dibaca dengan seksama dengan penuh pengagungan pada ALLOH.
Alam semesta raya ini begitu mengagumkan dan megah, tentunya ALLOH Yang Maha Menciptakan adalah Yang Maha Akbar (Megah). Kekaguman manusia akan gunung, tercatat dalam kisah Nabi Musa alaihisalam di Gunung Thur Sinai. Nabi Ibrahim alaihisalam juga pengagum alam dalam perenungan merasakan kekuatan Ilahiah. Alam adalah bukti tanda-tanda kebesaran ALLOH. Seperti yang dikisahkah dalam Al Quran :
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Al-An’am: 76-78)
Serupa dengan Nabi Muhammad sholallohuhu alaihi wasallam sebelum menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau seringkali bertahanut (berdiam diri dan merenung). Seperti apakah setting gua Hiro’ di masa itu? Sebuah tempat yang sepi dan berada di ketinggian. Untuk mencapainya mesti berjalan mendaki. Banyak kisah nabi bersetting di alam terbuka. Bahkan sebagian besar ayat- ayat Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, bersetting di alam terbuka.
Penciptaan awal manusia Nabi pertama Adam alaihisalam yang diturunkan di bumi adalah seorang jenius memiliki kemampuan mengenali beragam flora dan fauna. Kemampuan survival, bushcraft, berburu dan meramu, hidup di hutan belantara. Nabi Muhammad shollahu alaihi wasallam juga sering melakukan perjalanan jauh (ekspedisi), baik untuk berdagang, dakwah, perang dan perjalanan spiritual lainnya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS: Ali Imran ayat 190-191)
Kegiatan penjelajahan di alam terbuka, sangat dekat dengan aktifitas bertafakur alam, yang ujung (puncak) pencapaiannya adalah “pengakuan diri”. Bukan pengakuan diri yang benih sifat takabur (sombong), tapi pengakuan diri bahwa alam ini lebih kuat dan besar daripada manusia. Tentu ada Yang Maha Kuat dan Maha Besar dibalik kekuatan alam.
Kiamat Ekosistem
Terganggunya keseimbangan ekosistem mengakibatkan bencana alam (kiamat-kiamat kecil) terjadi. Ini akibat dari pikiran korupsi manusia yang membuat kerusakan di atas bumi. Menjelang hari kiamat umat manusia akan mengalami kemarau panjang, gagal panen dan kelaparan. Diperkirakan sumber energi yang selama ini menggerakkan kecanggihan teknologi akan habis. Dalam situasi bertahan hidup seperti ini, kemampuan dasar hidup manusia untuk hidup akan diuji. Generasi yang masih mengajarkan sikap sabar (tetap tabah) dan mewariskannya, akan selamat dan diharapkan mampu menolong sesama.
Salah satu di antara kelompok para muda yang nguri-uri ajaran ini adalah Mapala. Mapala itu perhimpunan yang radix (radikal). Mengajarkan hal-hal yang mendasar, berakar dan fundamental. Di era kekinian, makanan bisa order dengan touch screen, Mapala masih mengajarkan bagaimana memasak dengan kayu bakar. Di masa banyaknya alat ukur pendeteksi canggih, Mapala tetap membaca formasi awan dan waktu matahari. Di tengah maraknya olah raga dan teknologi otomotif Mapala masih mengajarkan berjalan kaki dan mendaki gunung. Ibadah berjalan kaki itu menyehatkan jiwa dan raga. Karenanya rangkaian ibadah haji pun dibarengi oleh aktifitas berjalan kaki yang cukup jauh, mencapai lebih dari 30 KM. Dan pula aktifitas dekat dengan alam seperti wukuf berkemah di Arofah. Kenapa prosesi ini tetap dipertahankan? Karena agar jamaah Haji lebih dekat dengan alam, lebih dekat dengan Tuhan.
Mapala : Pewaris Ajaran Para Nabi
Manusia Mapala insyaAlloh adalah salah satu dari pewaris ajaran para Nabi yang menjadi ciri amal sholeh. Melekat di kebiasaan keseharian, di antaranya :
- Tuntas makan dan minum; Kalau melihat anak Mapala saat makan itu menyenangkan. Selalu makan habis dan tuntas. Itu sudah dibiasakan sejak diklat dasar.Termasuk minum dan penghargaan pada air minum hingga tetes terakhir. Anak Mapala sangat menghargai & menjaga air sebagai bentuk kecintaan pada ajaran Rosululloh. Yang berjanji akan dipertemukan dengan Telaga Kautsar.
- Shodaqoh Menanam Pohon; Menjadi bagian dari kelaziman organisasi Mapala sangat dekat dengan isu kelestarian pohon. Karenanya anak Mapala membuat event tahunan dengan Hari Bumi, Hari Air, Hari Pohon, Hari Lingkungan Hidup dan sebagainya.
- Menyingkirkan Duri (Penghalang) di Jalan. Pada bencana alam angin beliung dan tanah longsor kadang ada pohon dan timbunan tanah bebatuan menghalangi jalan. Tim Mapala sering masuk lebih awal ke lokasi untuk membuka akses jalan. Termasuk giat serupa adalah membersihkan sampah di sungai yang menghalangi jalannya air.
- Memuliakan Musyafir. Sudah menjadi tradisi bagi kalangan Mapala untuk saling melayani saudaranya meskipun beda organisasi dan tidak saling kenal. Untuk melayani tamu yang sedang perjalanan antar kota (safar). Memberi tumpangan tidur, makan dan minum serta kebutuhan untuk transit lainnya. Di tengah maraknya tempat penginapan di berbagai kota tersedia. Tradisi memuliakan tamu (musyafir) masih berjalan hingga kini.
- Sifat Suka Menolong. Adalah karakter anak Mapala. Ada semacam kepuasan batin bagi mereka untuk hadir di lokasi bencana alam. Karenanya anak Mapala seringkali membawa multitool kemana saja, di keseharian. Ini adalah alat bantu untuk membantu jika dalam kondisi mendesak.
- Menahan Lapar. Dalam desain pendidikan Mapala seringkali memasukkan simulasi survival, yaitu puasa yang sangat lapar. Ini serupa kisah Rosulullooh yang menjalani rasa lapar namun tetap bergiat membangun parit untuk persiapan perang.
- Tidak Mubadzir dan Berlebihan. Amalan berhemat ini menjadi style (gaya) hidup yang peduli lingkungan hidup itu seringkali diwujudkan dengan aktifitas bersepeda, berjalan kaki dan menggunakan moda transportasi umum. Terbiasa membawa bandana agar tidak terlalu sering menggunakan tisu, membawa tumbler untuk refill air minum dan sebagainya
- Tidak Mengeluhkan Cuaca. Di keseharian baik hujan, panas terik, hujan badai Mapala pantang untuk mengeluh. Karena seorang Mapala terbiasa dalam situasi cuaca yang ekstrim saat operasi di Saat Diklatsar suara keluhan itu akan diganjar seketika oleh pelatih.
- Memilik Senjata Tajam (Pedang). Anggota Mapala biasa dengan pisau pinggang, golok atau sajam sejenisnya. Menyimpan di tas menjadi teman jalan, serta menyimpan beberapa bilah di rumah untuk siap sedia saat ada panggilan tugas : operasi SAR, kerja bhakti atau bebersih halaman depan.
- Tabah Sampai Akhir. Beberapa organisasi Mapala miliki semboyan “Tabah Sampai Akhir”, dalam bahasa lain adalah “Sabar”. Sebuah sikap hidup yang dekat dengan ajaran spiritual
TUJUH AYAT : Pegangan Para Pendaki (Mapala)
Mendaki gunung adalah induk dari segala petualangan. Semua perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di manapun berada, di awal waktu lahirnya selalu dimulai dengan aktifitas mendaki gunung. Hingga pada perkembangan muncul, aktifitas panjat tebing, arung jeram, susur gua, terbang, selam, otomotif dan turunan lainnya.
Kenapa kita berjalan kaki jauh? Karena Rosululloh pun melakukannya. Kenapa kita mendaki gunung?
Karena gunung itu ada dari Yang Maha Ada (Wujud)
Jika satu hari seorang Mapala yang kebetulan seorang muslim, mendaki gunung dan menjalani dzikir dengan bertakbir (Allohuakbar) saat jalan mendaki, bertasbih (Subhanalloh) saat jalan menurun. Maka dia sedang menjalankan sunnah, dan pohon, tetumbuhan yang ada di lintasinya akan bersaksi di hari kemudian. Pendaki gunung sedang ‘bersapa’ dengan gunung. Kedekatannya ini, semoga atas ijinNYA dihari kiamat, gunung tidak akan melumatnya. Terselamat dari murkanya karena Kasih Sayang ALLOH, karena pendaki gunung ini berbuat kebaikan pada gunung dan sesama makhluk di dalamnya.
Al Quran memberi isyarat pegangan ayat bagi para pendaki, yaitu Surah Al Balad, ayat 10-16 :
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan), tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan,(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,atau orang miskin yang sangat fakir.
Sejalan dengan pesan dari para pendahulu Mapala bahwa mendaki gunung itu bukan hanya urusan mendaki dan sampai puncak. Namun bentuk mencintai Indonesia bersama rakyatnya. Karena menjadi sebuah pesan kuat bagi setiap insan Mapala untuk memilih jalan mendaki dan sukar. Melepas perbudakan artinya ikut andil dalam pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa, memberi makan pada hari terjadi kelaparan (bencana alam), dekat dengan anak yatim, orang miskin dan fakir. Yang di antara mereka ada dipedalaman, tepian hutan, pulau terpencil dan pinggiran sungai kota. Mapala baik secara pribadi maupun organisasi mesti hadir dan menjadi bagian dari yang turun tangan, berbicara dan berpihak pada anak yatim, orang miskin dan fakir.
MAPALA : Adalah Pioneer Kerelawanan Indonesia
Mapala sering diturunkan ke medan-medan sulit di lokasi bencana alam. Berhadapan dengan gunung yang sedang bertasbih dengan erupsinya, gempa bumi tsunami yang meluluhlantakkan satu kota, tanah longsor menimbun satu pemukiman dusun di kaki gunung. Banjir yang menerjang setiap puncak musim hujan, air meminta haknya “jalan pulang”. Kiamat-kiamat Sugra itu benar-benar di depan mata terjadi di banyak daerah.
Mapala hadir menemani keluarga yang berduka. Mengusung mayat-mayat yang tersapu tsunami, menggendong simbah membawa lari dari kejaran wedus gembel. Membersamai anak-anak di camp pengungsi yang kadang bocor ketika hujan mendera. Mengantri panjang untuk layanan makan di dapur umum, mengajar anak-anak di antara reruntuhan bangunan sekolah.
Sudah semestinya insan Mapala semakin lembut hatinya, untuk tunduk patuh pada ALLOH dengan bersujud. Karena atas irodadNya terselamatkan dari bencana-bencana yang menghampiri kita selama ini. Dan kita semakin meyakini apa yang didawuhkan Rosulullooh:
“Bersegera bersedekah, sebab bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah” (HR. Imam Baihaqi).
Cabang sedekah itu banyak, diantara adalah sedekah tenaga dan pikiran di operasi kerelawanan.
Kiamat kecil (sugra) selain bencana alam juga adalah kematian seorang. Para muda Mapala mesti hadir diprosesi takziyah dan membantu pemberangkatan serta mengusung jenazah. Karena janji ALLOH tentang gunung itu disampaikan dalam sebuah hadits :
“Jika ia mensholatkan dan mengantarkannya hingga dikubur, maka ia mendapatkan pahala 2 qirot. Beliau ditanya, seberapa besar ukuran qirot itu? Beliau menjawab: Sebesar Gunung Uhud” (HR. Muslim: 945)
Gunung yang kalian cintai selama ini didunia akan hadir di “hari perjumpaan”, gunung itu bernama pahala.
PERCAYA : Kepada HARI Keber_AKHIRan
Penggalan puisi karya Chairil Anwar (Sastrawan: 1945) “Aku mau hidup seribu tahun lagi” Ini adalah kegelisahan, pertanyaan, harapan dan sekaligus jawaban akan periode kehidupan manusia. Bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir dan masuk pada tahap berikutnya seperti yang diterangkan dalam Al Quran.
Hari Kiamat itu penanda – rentang waktu – penjelajahan di muka bumi ini telah selesai. Dan pertanyaannya hari ini, pada diri kita masing-masing, sudahkah kita menyiapkan perbekalan (logistik) berupa amal kebaikan? Untuk berhitung, bertanggung jawab di Hari Perjumpaan Alhamdulillaahirobbil”alamin (Segala Puji Bagi ALLOH, Tuhan Semesta Alam).
Foto || SARMMI
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
