Wartapalaindonesia.com, SEMARANG – Kamis (12/4/2018) malam Divisi Konservasi Lingkungan Hidup Mawapala lakukan kegiatan diskusi rutinan setiap satu bulan sekali, diskusi ini untuk semua warga Mawapala yang masih aktif.
Peserta yang hadir kurang lebih sepuluh orang dari warga penuh maupun warga muda, Bertopik “Analisa Sosial dan Internalisasi nilai-nilai kepencintaalaman.” Dua pembahasan berbeda tetapi saling berkaitan.
Pemateri dari Kadal (Abdun Nafi’ Al-Fajri) Anggota Mawapala angkatan 2003, memaparkan materi dan informasi yang ada dengan ringan tapi serius, diselingi dengan candaan agar tidak terlalu kaku. Dalam menjelaskan mengenai analisa sosial, Kadal menganalogikan bahwa ANSOS adalah sebuah “alat penting” dalam mengetahui akar sebuah permasalahan, dan alat itu bisa diterapkan dalam segala hal.
Kadal mengatakan bahwa kita sebagai organisasi berbasis mahasiswa yang fokus pada lingkungan seharusnya dalam menanggapi sebuah permaslahan tidak hanya dari permukaanya saja, tapi harus diruntut agar bisa tahu penyebab utamanya.
Dengan mencontohkan permasalahan banjir di Semarang, jika menggunakan tekhnik “Pohon Masalah” (Trees Conflict) maka yang dilihat penyebabnya bukan tentang pendangkalan sungai, sampah yang menyumbat, penambahan luasan daratan/reklamasi dan lainya saja, tapi akan melihat dari sudut pandang secara historis, politik, sosial dan ekonomi, dari runtutan permasalahan yang muncul maka akan terlihat mana penyebab utamanya, dan itu penting.
Kadal mengatakan, “apabila dalam melakukan kegiatan peduli lingkungan dengan bersih sungai, tanam bibit dan lainya, komunitas yang notabene bukan pencinta alampun bisa, Mapala seharusnya tidak bermain di permukaan saja, melainkan menganalisis secara komprehensif dengan data dan literasi agar bisa mendapat akar dalam permaslaahan.”
Akan lucu jika kita yang disebut sebagai Mahasiswa tetapi tidak bisa berperan dalam agent of change di masyarakat. Pentingnya ANSOS dalam melihat permasalahan harus bisa menyadarkan kita dalam menghadapi masalah. Kita harus bisa sadar, bahwa tanggung jawab kita menyandang sebuah nama pencinta alam.
Kadal juga menyinggung fenomena-fenomena yang ada sekarang, dimana sudah mulai terjadi degradasi idealisme yang mengakar dalam tubuh anggota Mawapala, mulai berkurang dan harus bisa sadar dan mulai membenahi.
Kadal juga bercerita, Soe Hok Gie sebagai Bapak Mapala Indonesia dulu, kenapa melalukan pendakian gunung dan menjelajah adalah karena Soe Hok Gie sendiri yakin bahwa sebuah idealisme tidak bisa didapat hanya dengan slogan-slogan yang ada, tapi harus mengenal alam, dengan mengenal alam maka akan menjumpai suatu realita yang ada di masyarakat sekitar. Untuk itulah Kadal menganggap bahwa internalisasi nilai-nilai kepencinta alaman perlu ditanam.
Agar kita sebagai Mapala, mempunyai tanggung jawab sosial untuk mencetak kader yang memiliki karakter organik atau mengakar. Dimana kader-kader tersebut bisa menjadi sebuah pelopor di masyarakat, penting sebuah Mapala mempunyai sifat yang radikal, radikal disini adalah dasar yang kuat.
Dalam diskusi para warga Mawapala yang ikut merasa asyik dan juga saling berpendapat. Semoga dengan diskusi yang diadakan rutin ini bisa menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan minat dalam memperdalam literasi-literasi ilmu yang ada. Dalam akhir diskusi Kadal menyampaikan, “penting untuk menganalitik dan mengkaji suatu permaslahan yang ada.”
Kontributor : Mohammad Arkham Zulqirom
Editor : A. Phinandhita P.
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)